HomeTeologiaKandang atau Rumah? Dekonstruksi Modern Gambaran Kelahiran Yesus

Kandang atau Rumah? Dekonstruksi Modern Gambaran Kelahiran Yesus

Selama berabad-abad, imajinasi umat Kristiani di seluruh dunia diwarnai oleh gambaran yang sama tentang KelahiranYesus: sebuah kandang domba yang sederhana, diisi dengan jerami, dalam suasana malam yang sunyi dan diterangi bintang. Lukisan, lagu natal, dan pertunjukan drama natal memperkuat gambaran ikonik ini. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, para teolog, sejarawan, dan arkeolog modern mulai mempertanyakan akurasi historis dari gambaran ini. Muncul sebuah narasi alternatif yang mungkin mengejutkan banyak orang: “Yesus tidak lahir di kandang domba yang terpencil, melainkan di sebuah rumah keluarga” (kerabat Yusuf di Betlehem).

Masalah Terjemahan: “Kataluma” Bukan Penginapan

Pilar utama dari penafsiran tradisional bertumpu pada kata yang diterjemahkan sebagai “penginapan” dalam Lukas 2:7: “dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. ”Kata Yunani yang digunakan untuk “penginapan” adalah kataluma. Kata ini muncul dua kali lagi dalam Perjanjian Baru (Markus 14:14 dan Lukas 22:11).

Teolog Jerman, Joachim Jeremias, pada tahun 1969 dalam bukunya “Jerusalem in the Time of Jesus,” mengemukakan: kataluma dalam makna “ruang atas” atau “ruang tamu” di sebuah rumah pribadi, bukan sebuah penginapan komersial. Kemudian teolog Amerika Kenneth E. Bailey (2008, dalam buku “Jesus Through Middle Eastern Eyes: Cultural Studies in the Gospels”) dan Wave Nunnaly (2012, pada artikel “Modern Midrash: The Myth of Migdal Eder”) mengembangkannya. Dengan argumentasi, kata Yunani: pandokheion lah yang bermakna “penginapan” (reff. Lukas 10:34).

Dengan pemahaman ini, narasi “Kelahiran Yesus” mendapatkan konteks yang baru. Perjalanan Yusuf dan Maria ke Betlehem untuk mengikuti sensus di kota asal leluhur mereka. Sangat wajar jika mereka berencana untuk menginap di rumah keluarga besar Yusuf. Namun, ketika tiba, mereka mendapati “kataluma” (ruang tamu atau guest room) sudah penuh dengan sanak keluarga lain yang lebih dahulu tiba. Situasi ini bukanlah penolakan dari seorang pemilik penginapan, melainkan situasi umum saat rumah keluarga dipenuhi tamu-tamu dari jauh. Bailey dan Nunnaly tampaknya memberikan skenario yang lebih manusiawi, Yesus tidak dilahirkan dalam penolakan, sebaliknya Yesus dilahirkan suasana hangat, keramah-tamahan keluarga, bukan dalam penolakan.

Masalah Tata-krama Yahudi Dalam Penyambutan Tamu:

Meskipun teolog Amerika, Bailey dan Nunnaly, mengklaim penelitian mereka berdasarkan kehidupan masyarakat di Middle Eastern. Namun, pendapat mereka mengenai Yesus yang lahir di rumah keluarga tetap memiliki problema tata-krama Yahudi. Tata-krama yang ketat ini terlewat dari perhatian kedua teolog Amerika ini. Karena peletakan bayi “di palungan” (Yun: phatnế) justru menjadi problem-nya. Kata phatnê dalam naskah Yunani tidak pernah berarti “tempat tidur manusia,” melainkan selalu menunjuk tempat makan hewan. Jika Yesus lahir di rumah, penggunaan kata phatnê menjadi aneh dan tidak wajar. Kalau kelahiran itu di rumah keluarga Yusuf, maka harus ada tempat tidur (klinnế) atau pembaringan (koitỡn). Tapi teks Alkitab tidak memakai kedua istilah itu.

Jika Yesus lahir di kandang di bagian bawah rumah keluarga itu, juga tidak mungkin ada keluarga Yahudi membiarkan tamu mereka, apalagi seorang perempuan yang sedang hamil besar hendak bersalin, lantas “dilemparkan” ke kandang binatang di bagian bawah rumahnya itu. Seorang tuan rumah Yahudi, pasti akan memberikan kamarnya yang terbaik (meskipun sudah ditempati anggota keluarga yang lain). Dia tentu akan meminta anggota keluarga yang sehat dan kuat yang pindah ke kandang. Atau bahkan si tuan rumah sendiri akan merelakan kamar tidur pribadinya kepada seorang ibu yang datang malam-malam dalam keadaan hamil besar hendak bersalin.

Kerelaan berkorban dalam menyambut tamu (Ibr. הַכְנָסַתאוֹרְחִים – HAKH’NASAT ‘OR’KHIM) sangat dijunjung tinggi. Hal ini merupakan tindakan cinta kasih/hospitality (Ibr. גְּמִילוּתחֲסָדִים – GEMILUT KHASADIM) yang penting (Kiddushin 39b.3). Tuan rumah yang baik, pasti akan memberikan kamarnya yang terbaik bagi Yusuf dan Maria, meski harus menggeser anggota keluarga yang lain. Menyambut dan menjamu tamu diibaratkan seperti menjamu Malaikat, seperti ketika bapa Abraham menjamu tiga tamu agungnya (Reff. Kejadian 18). Menyambut tamu juga melibatkan menyediakan tempat tinggal dan memberi makan tamu – dengan sikap/perilaku yang ramah dan bersahabat. Kebiasaan ini menjadi bagian dari הֲלָכָה – HALAKHAH (peraturan jalan hidup) bagi orang Yahudi.

Masalah Terbesar: “Absennya Nama” Si Pemilik Rumah Tempat Kelahiran Yesus

Perlu kita cermati pola penulisan Alkitab, bahwa tempat bersejarah selalu dicatat pemiliknya. Hal ini penting untuk validitas historis dalam konteks Yahudi untuk urusan ibadah dan hukum. Contoh pertama, Tabut Perjanjian pernah dititipkan oleh Daud di rumah Obed-Edom (2 Samuel 6:11). Namanya dan berkat yang diterimanya dicatat dengan jelas. Contoh kedua, Kubur Yesus, yang merupakan peristiwa hukum, jelas dicatat milik Yusuf dari Arimatea (Matius 27, Mar. 15, dan lain-lain). Sehingga ketika penafsir modern (Bailey dan Nunnaly) tidak dapat menunjukkan nama yang jelas siapa sipemilik rumah tempat kelahiran Yesus. Maka tafsiran mereka tidak mutlak benar. Tafsiran mereka hanya sebatas alternatif penafsiran saja.

Kandang Domba di Kawasan Migdal Eder di Betlehem-Efrata

Kelahiran Yesus di kandang domba adalah penyataan profetis dan teologis (Kejadian 35:21, Mikha 4:8, 5:1-4). Perlu dipahami bahwa, Sang Mesias lahir di kawasan suci penggembalaan korban untuk dipersembahkan di Bait Allah, bukan di kandang biasa rumah tangga-an. Migdal Eder (Menara Kawanan Domba), sebuah lokasi yang disebut dalam nubuatan Mikha 4:8, lokasinya sekitar 7 km saja dari Yerusalem. Ini wilayah penggembalaan khusus dan sakral. Di sinilah domba-domba yang akan dikorbankan di Bait Allah Yerusalem dipelihara oleh gembala-gembala khusus di bawah pengawasan pada imam (Mishnah Sekhalim 7.4). Tempat ini justru menegaskan identitas-Nya sebagai “Anak Domba Allah yang menebus dosa dunia” (Yohanes 1:29,36).

Kandang di Kawasan Migdal Eder – Betlehem ini bukan milik pribadi, melainkan fasilitas publik dan sakral– tempat khusus pemasok domba-domba yang sempurna untuk korban. Tempat ini bagian dari sistem Bait Allah di Yerusalem. Inilah alasan mengapa para malaikat tidak menyebutkan “nama pemilik tempat” saat mengabarkan kelahiran Yesus kepada para gembala (Lukas 2:12). Sebab tempat itu adalah “milik” Bait Allah itu sendiri. Para gembala juga tidak bertanya “di kandang milik rumah siapa?” Karena ketika malaikat menyebutkan ada “bayi dalam palungan dibungkus kain lampin,” itu adalah perintah untuk “kembali ke markas,” sehingga otomatis para gembala itu langsung tahu tempatnya.

Tafsiran Lahir di “Rumah Keluarga” Novum Yang Lemah

“Yesus lahir di rumah keluarga” adalah novum (pemikiran baru) para skolar teologi yang tergolong lemah, karena tidak sesuai dengan pola alkitabiah dan mengabaikan konteks nubuat Alkitab. Bahwa Yesus memang datang dalam penolakan (Yohanes 1:11). Lagipula kata Yunani: kataluma oleh para rabbi Yahudi digunakan untuk menerjemahkan kata Ibrani: מָלֹון – MALON (penginapan) untuk Keluaran 4:24, dalam terjemahan Yunani Septuaginta pada abadke 3 SM. Bapa di Sorga telah mengarahkan Sang Putra tidak lahir di penginapan (kataluma) atau pun di rumah keluarga Yusuf. Lokasi kelahiran Yesus yang sesungguhnya di kandang domba yang sakral (bukan kandang hina), Karena kandang itu adalah bagian dari “Rumah Bapa”-Nya sendiri, yaitu Bait Suci – בֵּית־הַמִּקְדָּשׁ‎ – BEIT-HAMIQ’DASH (band. Lukas 2:49). Satu tempat yang secara ilahi telah disiapkan bagi “Anak Domba Allah yang akan menghapus dosa dunia.” Amin.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments