Awal jumpa dengan Tiranus
Nama Tiranus adalah nama yang Alkitabiah, salah satu kebanggaan dalam bagian hidupku. Perjumpaan dengan bapak rohaniku di tahun 1983, ketika aku melangkah ke lembaga pendidikan yang bercorak Injili di jalan Damar, Bandung. Dia kukenal dengan nama Prof. W. Stanley Heath, Ph.D., D.D., Th.D. Beliau sudah tiba di Bandung sejak tanggal 17 Oktober 1961 sebagai anggota “Kentucky Team” yang diutus untuk mengajar di Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia mengajar di ITB jurusan Kimia dan berkenalan dengan mahasiswanya bernama Ir. G. Tiendas. Persahabtan dua insan ini yang menghantar mereka pada kesehatian untuk penginjilan tahun 1963.
Berangkat dari penginjilan meningkat sampai visi pendidikan.Sama-sama mengimani dan mengamini apa yang tersurat di Kisah Rasul 19:9. Teladan Paulus yang setap hari berbicara di ruang kuliah Tiranus menginspirasi kedua hamba Tuhan itu sepakat mendirikan lembaga pendidikan sederhana ini.

Dari Rumah Yang Sederhana
Berawal di rumah kontrakan jl. Cihapit 33, Bandung. Lalu berputar layaknya umat zaman tanah perjanjian. Berlanjut ke jl. Martadinata 73, Bandung, kemudian Jl, Supratman 33, Bandung; lalu Jl. Damar Bandung.
Dari sebuah kota mendapat visi ke Desa Cihanjuang yang masih sepi.Tahun 1983 ibarat umat Tuhan yang memasuki tanah perjanjian. Hanya karena kebaikan dan kemurahan Tuhan bisa membeli sebidang tanah milik Haji Nurjaman.Tuhan Maha ajaib (Hakim 13:18, Yesaya 9:5) dan pembuat keajaiban (Keluaran 15:11). Di Tiranuspun Tuhan membuat banyak keajaiban.
Tiranus memang tidak memiliki uang banyak, namun Tuhan memiliki segalanya. Silih berganti Tuhan mengirimkan malaikan untuk pembelian tanah yang luasnya lebih dari 2,2 hektar di Cihanjuang. Juga termasuk pembangunan gedung kuliah berlantai tiga secara bertahap. Semuanya Tuhan yang mencukupi melalui orang yang Tuhan gerakkan hati mereka.
Pola Pendidikan Alkitabiah
Di masa-masa awal tersebut, proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter rohani, disiplin hidup, dan komitmen pelayanan. Para mahasiswa dipersiapkan untuk menjadi hamba Tuhan yang tidak hanya memahami Firman Tuhan, tetapi juga hidup di dalamnya.
Sejak awal berdirinya, STA Tiranus mengusung semangat interdenominasi, menjawab doa Tuhan Yesus agar umat-Nya menjadi satu. (Yohanes 17:21a) Lembaga ini menjadi ruang perjumpaan bagi pelbagai latar belakang gereja, dipersatukan dalam Kristus, dan diperlengkapi untuk melayani tubuh-Nya yang satu.
Hingga kini,Tiranus terus melangkah dalam penyertaan Tuhan, menghasilkan lulusan-lulusan yang melayani sebagai pendeta, penginjil, pengajar, dan pelayan di pelbagai bidang. Setiap langkah perjalanan menjadi kesaksian bahwa Tuhan setia memimpin dan memelihara karya-Nya.

Menjaga Api Injili
Setiap karya besar biasanya dimulai dari langkah kecil yang diawali oleh iman. Demikian pula Sekolah Tinggi Alkitab Tiranus, yang pada tahun 1966 memulai pelayanannya di Jalan Damar, Bandung. Berawal memakai nama Institut Alkitab Tiranus (IAT). Dalam kesederhanaan, Tuhan bekerja, menumbuhkan visi, dan memperluas pelayanan hingga akhirnya berakar di Cihanjuang. Perjalanan ini menjadi kesaksian bahwa Tuhan sendiri yang memimpin, memelihara, dan menggenapi maksud-Nya melalui lembaga ini.
Enam puluh tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Dalam rentang waktu itu, Tiranus telah menapaki jalan panjang yang sunyi namun penuh makna. Berdiri di lingkungan yang sederhana di Cihanjuang, Tiranus tidak dikenal karena kemegahan fasilitasnya, melainkan karena ketekunannya menjaga api Injili tetap menyala. Di tengah dunia yang terus berubahdengan teknologi yang semakin canggih dan gaya hidup yang semakin kompleks,Tiranus tetap setia pada panggilan awalnya.Mendidik dan membentuk hamba-hamba Tuhan yang berakar kuat dalam Firman.Kesederhanaan yang menjadi ciri khasnya justru menjadi ruang pembentukan yang otentik, di mana iman tidak hanya diajarkan, tetapi dihidupi.
Karakter Ugahari
Ugahari adalah kesederhanaan yang diajarkan Tuhan Yesus sebagai Guru Agung kita. Kesederhanaan itu pula yang membentuk karakter para mahasiswa. Hidup dalam keterbatasan mengajarkan mereka untuk bergantung kepada Tuhan, bukan pada kenyamanan dunia. Relasi yang terjalin antara dosen dan mahasiswa tidak sekadar akademis, melainkan bersifat pembinaan hidup. Para dosen, yang berasal dari pelbagai latar belakang denominasi, menghadirkan kekayaan perspektif teologis tanpa kehilangan fokus pada inti Injil.
Mereka bukan hanya pengajar, tetapi juga teladan hamba-hamba Tuhan yang menghidupi apa yang mereka ajarkan. Dalam suasana seperti ini, mahasiswa belajar bahwa pelayanan bukanlah panggung untuk mencari nama, melainkan panggilan untuk setia..

Murid Harus Dijadikan
Begitu ungkapan yang aku dengar dari pak Heath panggilan Prof. Dr. W. Stanley Heath di Tiranus. Betul murid memang harus dijadikan, tidak dilahirkan.Harus dibentuk dan dibina melalui pemuridan. Buah dari proses panjang itu nyata dalam kehidupan para alumni. Selama enam dekade, Tiranus telah melahirkan banyak hamba Tuhan yang melayani dengan setia di pelbagai tempat. Di kota maupun di pelosok, di gereja besar maupun komunitas kecil.
Banyak di antara mereka tidak dikenal luas, tetapi justru di situlah letak kekuatan kesaksian mereka. Melayani dengan hati yang sederhana, tidak mencari sorotan, namun tekun dalam tanggung jawab yang dipercayakan. Di tengah arus zaman yang sering mengukur keberhasilan dengan angka dan popularitas, kehadiran para alumni Tiranus menjadi pengingat bahwa kesetiaan lebih berharga daripada pengakuan.
Setia pada Panggilan
Memasuki usia ke-60, tantangan yang dihadapi tentu tidak semakin ringan. Dunia digital menghadirkan peluang sekaligus pelayanan dapat menjangkau lebih luas, tetapi juga berisiko menjadi dangkal. Dalam situasi ini, Tiranus tetap berdiri pada posisinya. Terbuka terhadap perkembangan zaman, namun tidak kehilangan jati diri.
Pendidikan teologi yang diberikan tidak hanya bertujuan menghasilkan lulusan yang cakap secara intelektual, tetapi juga matang secara rohani. Tiranus memahami bahwa gereja masa kini membutuhkan pelayan yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga memiliki integritas dan ketekunan dalam menjalani panggilan.
Dari tempat yang sederhana, lahir pelayan-pelayan Tuhan yang sederhana pula, namun justru di situlah letak kekuatan mereka. Mereka hadir menerangi dan menggarami di tempat-tempat yang mungkin tidak terlihat oleh banyak orang, tetapi sangat berarti di hadapan Tuhan. Dengan semangat yang sama, Tiranus melangkah ke depan, terus melahirkan hamba-hamba Tuhan yang setia. Bukan untuk kemuliaan diri, melainkan bagi kemuliaan Kristus saja.
Terbuka Pada Panggilan
Di tengah derasnya arus perubahan zaman, STA Tiranus tetap berdiri dengan satu keyakinan: panggilan Tuhan tidak pernah berubah, walaupun dunia terus bergerak. Sejak awal berdirinya, Tiranus berkomitmen untuk membentuk pelayan-pelayan Tuhan yang berakar pada kebenaran Firman. Komitmen ini tidak tergoyahkan oleh perkembangan teknologi, perubahan budaya, maupun dinamika pelayanan gereja. Justru dalam perubahan itulah, kesetiaan pada panggilan menjadi semakin penting.
Tiranus menyadari bahwa Injil yang tidak berubah perlu disampaikan dalam konteks yang terus berubah. Era digital menghadirkan peluang baru dalam pelayanan, sekaligus tantangan yang tidak ringan. Informasi dapat diakses dengan mudah, tetapi kedalaman relasi dengan Tuhan tidak bisa digantikan oleh kecepatan teknologi.
Karena itu, Tiranus mengambil sikap yang bijaksana: terbuka untuk belajar dan beradaptasi.Namun tetap kritis dalam menyaring setiap perkembangan. pendidikan yang diberikan tidak hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan teologis, tetapi juga kemampuan untuk memahami zaman dan melayani secara relevan.

Mewariskan Api kepada Generasi Mendatang
Enam puluh tahun perjalanan STATiranus tidak berhenti pada pencapaian masa lalu, melainkan mengarah pada tanggung jawab yang lebih besar.Mewariskan api Injili kepada generasi berikutnya. Api itu bukan sekadar semangat pelayanan, tetapi juga iman yang hidup, kesetiaan dalam perkara kecil, dan kerendahan hati dalam menjalani panggilan Tuhan.
Di tengah dunia yang semakin cepat berubah, kebutuhan akan pelayan Tuhan yang berakar kuat justru semakin mendesak. Tiranus menyadari bahwa masa depan gereja sangat ditentukan oleh bagaimana generasi muda dipersiapkan hari ini.
Para alumni menjadi bukti hidup dari warisan tersebut. Mereka melayani dengan setia di pelbagai ladang, seringkali tanpa sorotan, tetapi dengan dampak yang nyata. Di tengah budaya yang cenderung mengejar popularitas dan keberhasilan instan, kehadiran alumni menjadi kesaksian bahwa kesetiaan jauh lebih berharga daripada pengakuan. Api yang dahulu dinyalakan oleh pak Heath dan pak Tiendas di Tiranus. Kini terus menyala melalui kehidupan kita yang siap menjangkau jiwa-jiwa dan membangun gereja Tuhan di pelbagai tempat. Dirgahayu STA Tiranus ke 60.


