Keserakahan sering kali menjadi faktor utama dalam keruntuhan berbagai peradaban dan masyarakat sepanjang sejarah. Tindakan ini tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menghancurkan struktur sosial dan moral. Sejarah mengisahkan itu. Keserakahan bangsa-bangsa Eropa memicu kolonialisasi dan eksploitasi di Asia, Afrika, dan benua Amerika, yang menyebabkan kehancuran peradaban lokal.
Kehancuran Ekologis akibat keserakahan juga mengganggu keseimbangan alam yang diumpamakan sebagai “mengabaikan alam sebagai ibu yang memberi kehidupan”, mengakibatkan bencana yang memusnahkan komunitas. Banjir, longsor, panas bumi meningkat, badai, air tanah berkurang, air laut meninggi, vegetasi menipis adalah sebagian diantaranya. Belum lagi kerusakan hutan sebagai payung bumi dan musnahnya spesies fauna dan flora yang sejatinya ikut menjaga kelestarian keseimbangan mata rantai di alam ini. Itu sebabnya berbagai penyakit juga bermunculan.
Sejarah juga bercerita bahwa pemimpin yang serakah, tidak adil, egois dan arogan akan melemahkan negara dari dalam, yang berujung pada keruntuhan peradaban. Pergeseran nilai di mana pengejaran kekayaan yang tidak lagi dipandu oleh moralitas dan ketakwaan, berubah menjadi sumber kerusakan moral yang menghancurkan masyarakat.
Gabungan unsur-unsur itu tak jarang diikuti kekerasan brutal, seperti tekanan terhadap komunitas lokal yang juga disertai dengan pengusiran, penggusuran, bahkan pembunuhan. Eksploitasi Sumber Daya hutan di Pulau Paskah (Rapa Nui) dan kolonialisme pada suku Aztec dan Inca oleh Spanyol terhadap emas adalah secuil contoh nyata sejarah. Bagaimana dengan kita?
Pertiwi yang Tercabik
Film dokumenter “Pesta Babi” (rilis April 2026) garapan Dandhy Dwi Laksono, misalnya, mengangkat kegelisahan masyarakat adat Papua Selatan terhadap ekspansi proyek agroindustri, seperti sawit dan tebu yang mengangkat isu deforestasi, perampasan tanah, dan konflik agrarian di tanah leluhur mereka.
Film ini mengajak public untuk berdiskusi secara kritis tentang bagaimana pembangunan besar dapat berjalan selaras dengan hak-hak masyarakat dan pelestarian lingkungan. Munculnya reaksi publik terhadap film ini menunjukkan bahwa masyarakat peduli dan ingin dilibatkan dalam dialog tentang masa depat negerinya.
Mengapa disebut “pesta babi?” Sebab perilaku mereka memang mirip babi, yang terkenal sebagai hewan omnivora (pemakan apa saja) yang rakus. Apa saja di makan. Bahkan tak segan berkubang dalam lumpur dan memiliki moncong yang kuat untuk mengendus dan menggali tanah. Sebenarnya film itu bertujuan memberikan perspektif kritis atas pengelolaan lingkungan dan hak-hak masyarakat, khususnya di Papua Selatan.
Panggilan Mengelola dengan Bijaksana
Saya pernah melihat sendiri bagaimana kegiatan pertambangan dan eksploitasi sumber daya di beberapa daerah meninggalkan jejak kerusakan lingkungan yang memerlukan waktu pulih sangat lama. Pengalaman ini menguatkan keyakinan bahwa kekayaan alam Indonesia adalah anugerah yang harus dikelola dengan penuh tanggung jawab. Bukan membabi buta, seperti istilah dalam film “pesta babi” itu.
Negara memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa pengelolaan sumber daya dilakukan secara profesional, transparan, dan berkeadilan. Bukan dengan pendekatan yang serampangan, tetapi dengan perencanaan matang yang melibatkan para ahli, masyarakat lokal, dan pihak-pihak terkait. Tujuan akhirnya sederhana: agar hasil pembangunan benar-benar dirasakan oleh rakyat dan tidak menjadi beban bagi generasi mandatang.
Kita semua tentu merindukan Indonesia yang dikelola dengan baik, adil, bijaksana, cerdas, dan jujur. Negeri yang berlandaskan takut akan Tuhan dan nilai , selaras dengan semangat Pancasila yang merangkum relasi vertkal kepada Tuhan dan relasi horizontal kepada sesama dan alam.
Teladan Yusuf: Pemelihara Kehidupan
Dalam Alkitab, kisah Yusuf memberikan teladan yang relevan. Karena kebijaksanaannya Firaun memberinya gelar “Zaphenath-Paneah”, yang berarti “pemelihara kehidupan,” atau “penyelamat kehidupan”.
Sebutan itu juga bisa diartikan “the god speaks and he lives”; yang mencerminkan bahwa Tuhan berbicara melalui Yusuf, dan ia adalah pribadi yang dalam penyertaan Tuhan. Sebutan itu semua mencerminkan Yusuf sebagai Perdana Menteri Mesir, yang berperan hebat mengungkap rahasia, menyelesaikan masalah negeri dan menyelamatkan wilayah tersebut dari kelaparan; atas hubungan pribadinya yang erat dan takut akan Tuhan.
Kejadian 41:39,44,45 (TB) Kata Firaun kepada Yusuf: “Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau. Berkatalah Firaun kepada Yusuf: “Akulah Firaun, tetapi dengan tidak setahumu, seorang pun tidak boleh bergerak di seluruh tanah Mesir.”
Lalu Firaun menamai Yusuf: Zafnat-Paaneah, serta memberikan Asnat, anak Potifera, imam di On, kepadanya menjadi isterinya. Demikianlah Yusuf muncul sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir. Teladan ini mengingatkan kita bahwa kepemimpinan sejati adalah pelayanan. Ia mengelola, bukan menghabiskan. Ia mendengar, bukan membungkam. Ia merawat, bukan merusak.


