HomeOpiniKetika Maut, Sakit dan Bencana Mengintip

Ketika Maut, Sakit dan Bencana Mengintip

Tak seorang pun tahu kapan engkau akan mati. Kita juga tak tahu kapan jatuh sakit atau terjadi musibah. Benarkah demikian? Tidak bisakah itu diprediksi? Bisakah dicegah?

Sebagai dokter, saya melihat bahwa hal itu tidaklah absolut. Terkadang kita bisa memprediksi kematian, meskipun tidak tepat benar. Tetap ada ruang dimana manusia tak bisa menguasai kematian, penyakit dan musibah.

Kematian seseorang kadang bahkan bisa ditentukan, contohnya adalah “penalti hukuman mati”. Anda akan digantung, ditembak mati, atau disuntik mati jam sekian, tanggal sekian dan seterusnya.

Kejadian alam dan bencana juga bisa diprediksi. Sekitar tanggal sekian akan ada cuaca ekstrim, risiko banjir, badai, hujan lebat, luapan air laut, suhu panas atau dingin ekstrim. Para ahli punya data dan parameter untuk memprediksinya. Akurasi prediksi cuaca untuk tujuh hari ke depan bisa mencapai 80-90 persen.

Penyakit juga begitu. Seorang dokter ahli, terkadang bisa memprediksi kapan seseorang akan mengalami hipertensi atau diabetes. Beberapa penyakit lain juga begitu. Bahkan “survival rate” atau lama rentang hidup atau survive penderita kanker atau penyakit kronis juga dapat diperkirakan. Ada ukuran-ukuran atau parameter ilmiah dan juga faktor-faktor risiko yang bisa dinilai untuk melakukan prediksi tersebut.

Potensi dan Misteri

Manusia memang diberi rahmat dan potensi untuk mengembangkan diri menjadi berpengetahuan dan pandai untuk menjaga kelangsungan kehidupan dirinya dan alam semesta. Tetapi dalam banyak peristiwa, kematian memang bisa datang secara tiba-tiba tanpa diduga. Termasuk musibah, kecelakaan lalulintas, serangan jantung, stroke dan lainnya.

Memang pada beberapa penyakit kronis seperti kanker, jantung, kencing manis, gagal ginjal dan lainnya seorang ahli bisa memprediksi survival rate atau daya tahan hidup pasien. Tetapi kapan nyawa nya dicabut seringkali merupakan misteri.

Meskipun pada pasien kritis di ruang ICU , terkadang pihak dokter bisa minta izin keluarga untuk menghentikan alat bantu nafas ataupun life support machine karena harapan hidup pasien sudah tipis atau tiada. Sebuah keadaan yang terkadang menjadi dilema atau pilihan yang sulit bagi pihak keluarga, antara membiarkan orang yang mereka cintai meninggal atau tetap bertahan dengan alat bantu kehidupan, sementara secara medis sulit disembuhkan dan biaya yang makin membengkak serta membebani perekonomian keluarga.

Menjadi Pribadi yang Bertanggung Jawab

Lalu, bagaimana umat Kristen menghadapi hal seperti itu? Berharap dan berupaya umur panjang dan sehat tentu tidak salah. Bagi saya, itu justru sebuah sikap bertanggung jawab atas kesehatan dan tubuh yang Tuhan beri.

Buat saya, Tuhan itu menunjuk kita sebagai seorang manager. Manager of our life, our body, our emotions, our mind, manager of nature and the earth. We have responsibility to manage our life, our talents in good ways. Bahkan tanggung jawab terhadap alam semesta yang Ia percayakan untuk dipelihara dengan baik.

Perintah kuasailah dan penuhilah bumi bukanlah untuk melakukan dominasi secara masif, ugal-ugalan dan tanpa memperdulikan risiko atau dampak buruk yang bisa terjadi, tetapi harus dilakukan dalam konteks “untuk kebaikan” umat manusia; sebagaimana Allah ketika menciptakan semuanya itu , Ia juga berkata: “Semuanya sungguh amat baik”

Kejadian 1:31 (TB), Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, “sungguh amat baik”. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.

Kata baik atau ‘towb’ (Ibrani), berarti “baik, menyenangkan, sesuai apa yang Allah inginkan (good, pleasant, agreeable). Sebab itu pemberian kuasa atau mandat atas bumi dan isinya harus berlangsung dan dilaksanakan dalam misi kebaikan, menyenangkan hati Tuhan dan sesuai kehendak Nya.

Bagiku, perumpamaan Talenta juga berbicara tentang itu. Tentang arti “tanggung jawab” dan menegang mandat Allah. Ada penyakit atau kondisi yang terjadi karena memang itu bagian dari sesuatu yang tak bisa kita cegah atau hindari. Tetapi ada juga yang terjadi akibat hidup kita yang sembrono dan ceroboh.

Ilmu kedokteran membuktikan hal itu. Sekitar 80 persen penyakit kronis dan “premature deaths” (kematian yang terjadi sebelum usia rata-rata kematian pada populasi tertentu) terjadi akibat pola hidup yang salah.

Kalau sudah berbicara tentang “pola hidup” maka itu artinya adalah perihal perilaku ketika seseorang menjalani kehidupan. About managing our life. Tentang “how and what you eat“. Tentang “how you live“. Tentang “mager“. Tentang “mental management“.

Terhadap alam dan bumi juga begitu. Pengetahuan menjelaskan bahwa ulah manusia yang salah dalam mengelola alam akan merusak ekosistem, merubah cuaca, meningkatkan suhu bumi, dan mengakibatkan rangkaian kejadian alam yang buruk, baik itu banjir, longsor, badai, naiknya permukaan air laut, gempa, maupun letusan gunung berapi.

Sebab itu bagi ku, ketika Alkitab berkata “perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, jangan seperti orang bodoh, tetapi seperti orang arif” (Efesus 5:15-16). Maka itu tidak cuma bicara perihal masalah spiritual, tetapi tentang seluruh aspek kehidupan manusia.

Buat saya, perumpamaan Talenta itu “ngeri-ngeri” sedap, sebab pada akhirnya “sang Tuan” itu akan meminta pertanggungjawaban atas talenta dan anugerah yang Ia percayakan. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang layak dipercayai dalam menjalankan mandat Allah. Kita itu punya peran dan tanggungjawab terhadap kelangsungan hidup ini.

“Ing memayu hayuning pribadi, memayu hayuning keluarga lan memayu hayuning Bawana”.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments