SALAH satu penyebab runtuhnya kehidupan kita adalah adanya sikap tawar hati. Kecewa, putus asa, dan hilangnya harapan menjadi penyebab munculnya tawar hati. Hal itu bisa terjadi saat upaya dan harapan seseorang tidak membuahkan apa-apa.
Akibat seseorang tawar hati antara lain, hilangnya gairah dengan pasangan hidupnya, tidak ada lagi kedekatan emosional terhadap anak-anak yang dicintainya, pekerjaan maupun pelayanan yang dilakukan tidak optimal apalagi berkualitas. Tragisnya lagi, sikap tawar hati ini bisa berakhir bunuh diri dan bahkan membunuh orang lain.
Bagaimana seharusnya sikap kita menghadapi serangan tawar hati ini? Tiga hal berikut menghindarkan kita dari sikap tawar hati:
Jangan Berfokus Pada Materi
Jika harus memilih antara materi dengan rohani, beberapa orang lebih cenderung kepada hal-hal yang sifatnya materi. Misal, seseorang akan menghabiskan waktu hidupnya dengan bekerja keras mengumpulkan harta di dunia, ketimbang harus mengejar hidup berkualitas dengan berfokus pada kerajaan Allah. Padahal, sesuatu yang bersifat materi akan mudah melahirkan ketidakpuasan yang berujung terciptanya tawar hati.
Saat kita fokus pada masalah rohani, maka masalah apapun yang muncul dalam kehidupan kita akan mudah kita tepiskan. Sebagai contoh, ketika kita melakukan kebaikan, jangan berpikir kebaikan kita tersebut selalu berdampak baik. Kadang kebaikan kita malah dimanfaatkan orang lain. Kita sudah melayani sampai berkorban baik tenaga, waktu maupun uang, tetapi masih ada juga yang menuduh yang bukan-bukan. Nah, hal seperti inilah yang lantas membuat kita tawar hati. Namun, jika orientasi kita pada hal yang besifat rohani, maka kita tidak mudah tawar hati, sebab kabaikan adalah tetap kebaikan dimata Tuhan dan kita akan terus melakukannya dengan suka cita.
Terkadang kita juga terlalu sibuk meningkatkan kemajuan pribadi yang hanya bersifat materi dari pada secara rohani. Orang yang berorientasi pada kemajuan jasmaniah akan terus mengejar hal yang bersifat materi, seolah materilah yang menjadi tujuan dalam hidupnya. Bukannya mengecilkan arti materi, tetapi hendaknya jangan menjadikan materi menjadi prioritas utama hidupnya.
Berfokus pada materi atau harta semata dalam membangun rumah tangga akan mengakibatkan cepat runtuhnya sebuah pernikahan. Cinta yang dilandasi materi akan melunturkan arti cinta dan kasih sayang yang sebenarnya. Bukankah sudah banyak orang yang ketika mencari pasangan hidup orientasinya bukan lagi pada cinta dan kasih sayang? “Yang penting kaya dan mapan, masalah cinta dan hati itu nomor ke sekian. Soal status dan kepercayaan, itu bisa diatur. . .” Itulah beberapa pandangan orang yang hanya memikirkan materi semata.
Jangan Berfokus Pada Penderitaan
Ada sebuah kalimat, “Jika Anda tidak pernah sial, maka Anda tidak pernah mengalami keberuntungan.” Kalimat ini bisa berarti bahwa kita tidak akan menikmati kebahagiaan apabila kita tidak pernah mengalami penderitaan.
Berfokus pada penderitaan akan membuat kita sulit untuk bangkit kembali. Seperti orang yang mengidap sakit kanker, saat fokusnya hanya pada penyakitnya saja dan bukan pada proses penyembuhannya, maka sakitnya akan bertahan lama, bahkan sulit untuk sembuh. Demikian juga dengan pergumulan hidup, fokus kita haruslah kepada Kristus yang selalu memberi harapan dan jalan keluar.
Penderitaan adalah sarana agar kita beroleh kemuliaan. Allah tidak menghindarkan kita dari penderitaan atau kesukaran hidup karena pada dasarnya kita memerlukannya untuk pertumbuhan kerohanian kita. “Semakin besar penderitaan yang dialami maka semakin besar kemuliaan yang kelak akan dimiliki.”
Seseorang yang berorientasi pada kemuliaan kekal, melihat bukan pada penderitaan yang dialaminya sekarang tetapi kemuliaan yang akan diterimanya kelak. Yesus mau menderita secara hina di kayu salib tetapi dengan itulah Dia dipermuliakan.
Jangan Berfokus Pada Kenikmatan Sementara
Orang yang hanya berfokus pada kenikmatan sementara akan cenderung mencintai kenikmatan yang dunia tawarkan. Padahal, segala bentuk kenikmatan dunia akan berakibat kepada kecanduan. Misalnya, biasa hidup hura-hura maka akan sulit meninggalkan kebiasaan itu, biasa berjudi dalam bentuk apapun maka akan menjadi berat ketika harus meninggalkan kebiasaan tersebut, biasa gonta ganti pasangan tentu akan kesulitan saat harus berkomitmen pada satu pasangan hidup, dan masih banyak contoh lainnya.
Bukankah sudah terbukti, orang yang mengutamakan kenikmatan sementara akan melakukan apa saja demi kepuasan dirinya? Jika sudah demikian, maka tidak ada lagi iman percaya kepada Tuhan yang memberi hidup. Pada saat masalah melindas hidupnya, bisa dipastikan sikap tawar hati tak terhindarkan lagi.
Seberat apapun masalah yang kita hadapi, jika kita tetap berfokus pada iman kita kepada Kristus dan mengerjakan sesuatu sesuai yang dikehendaki-Nya, maka segala hal yang membawa kita pada tawar hati akan bisa kita lewati. Fokuslah pada pendekatan secara iman dan bukan secara logika. Dengan iman, kita dapat melihat gambaran utuh tentang kemuliaan kekal yang Tuhan berikan. Tawar hati terjadi tatkala kita hanya berpikir secara logika. Tanpa iman, kita tidak dapat merasakan kasih dan kuasa Allah.
Dalam mengarungi hidup pasti kita rentan dengan yang namanya tawar hati, entah karena pergumulan dalam keluarga, masalah pekerjaan, maupun dalam pelayanan kita. Jika sudah demikian, perasaan kecewa, putus asa dan hilangnya harapan akan menyergap hidup kita.
Tawar hati dapat disingkirkan kalau kita tidak memfokuskan hidup kita pada hal yang bersifat materi, pada penderitaan sekarang, dan pada kenikmatan yang sementara. Masihkah kita tawar hati? Hati-hati!


