HomeJelajah KameraFestival Pemuda 2022: Upaya Menjaga Keanekaragaman Budaya

Festival Pemuda 2022: Upaya Menjaga Keanekaragaman Budaya

Setelah sukses menggelar acara Festival Pemuda pertama di tahun 2018 dan Festival Pemuda kedua tahun 2019, kini Yayasan Pondok Kasih dan Yayasan Harapan Pemuda Indonesia kembali mengadakan  Festival Pemuda ketiga pada tanggal 13 – 16 November 2022 di Jawa Timur dan Surabaya.

Tujuan utama dari Festival Pemuda Ketiga ini adalah menjaga empat pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD’45 (PBNU) dengan membangun persaudaraan diantara calon-calon pemimpin bangsa masa depan dan menjaga keanekaragaman budaya dari pelbagai daerah di Indonesia.

Kegiatan Festival Pemuda kali ini diikuti sekitar 170 peserta yang masing-masing terdiri dari lima orang delegasi dari 34 provinsi di Indonesia. Acara empat hari tersebut terbagi di dua tempat, tiga hari di UTC (Ubaya Training Center) Trawas, dan satu hari pagelaran budaya di Surabaya.

Kegiatan seminar, milenial hangout, workshop, malam keakraban dan pagelaran budaya berlangsung meriah dan gayeng. Terlihat sebuah persaudaraan yang terbangun dengan baik tanpa memandang suku, agama serta ras. Justru yang tampak adalah suasana penuh keakraban dan canda tawa di antara peserta.

Momen paling mengesankan terlihat pada saat “Malam Bhinneka Tunggal Ika”, tepatnya malam  terakhir di UTC Trawas. Dalam acara ini setiap delegasi diberi kesempatan menampilkan budaya daerah berupa pantun, lagu maupun tari. Karena terlalu bersemangat, durasi tampil perdelegasi yang seharusnya hanya lima menit per penampilan menjadi 15 hingga 20 menit, sehingga acara yang harusnya selesai pukul 12.30 molor hingga pukul 02.00 dini hari. Padahal pagi harinya semua peserta harus menuju Surabaya untuk mengikuti acara di Tugu Pahlawan dan Balai Budaya Surabaya.

Panjangnya penampilan budaya ini membuat dua penampil terakhir delegasi, yaitu dari Papua Barat dan Papua (karena urutan acaranya dari NAD menuju Papua) harus menunggu lama. Ya, kuatir jika para panitia dan tamu pengamat kelelahan lalu kembali ke kamar untuk tidur, atau para delegasi dari pelbagai propinsi yang sudah tampil balik ke kamar tidur untuk persiapan pagi harinya. Lalu siapa yang tersisa untuk menonton delegasi Papua Barat dan Papua?

Belum lagi dengan pakaian adat Papua yang umumnya terbuka. Kuatir jika hal itu membuat mereka masuk angin terkena udara dingin Trawas. Memang terlihat banyak delegasi Papua yang sambil menunggu giliran memakai jaketnya kembali, ada yang tidur-tiduran, bahkan menjelang tampil mereka mengecat ulang tubuhnya, karena cat yang tadi sore sudah luntur.

Tetapi ternyata para delegasi dari propinsi-propinsi lain tetap tinggal di tempat menunggu hingga semua delegasi mendapat giliran. Inilah Solidaritas “Kesetiakawanan Sosial” yang perlu terus ditumbuhkan dan  dipelihara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Ada momen-momen di mana peserta Festival Pemuda ramai-ramai naik ke panggung untuk bernyanyi dan menari bersama dengan lagu-lagu daerah yang sudah populer. Sangat berkesan saat melihat semua delegasi dari 34 propinsi duduk mengitari Amphi Theater dengan beragam pakaian daerah mereka yang berwarna-warni. Inilah kekayaan budaya nusantara! Kita bertanggung jawab menjaga keberagaman budaya ini, jangan sampai hilang diganti dengan satu warna pakaian ala ninja!

Festival Pemuda pertama hingga ketiga ini telah berhasil menumbuhkan konsep “Bhinneka Tunggal Ika”. Keindahan dalam perbedaan, perlu terus dipelihara dan di pupuk.

Minimnya Keterlibatan Pemuda Kristen

Target berikutnya adalah mengupayakan keseimbangan peserta anak-anak Tuhan dari pelbagai propinsi. Sungguh menyedihkan, dari 170 peserta, delegasi dari 34 propinsi ternyata yang Kristen hanya 12 anak Tuhan. Hana Amalia Vandayani sebagai pendiri Yayasan Pondok Kasih mengatakan, “kegiatan Festival Pemuda ketiga ini memakan biaya sekitar Rp. 1,5M, saya berusaha mencari sumbangan ke mana-mana agar acara ini bisa terselenggara dengan baik, tapi kenapa peserta muda Kristen yang ikut kok minim sekali, kurang dari 10 persen, kemanakah mereka?”

Diharapkan di acara seperti ini, para mudi mudi Kristen harus lebih aktif dan jangan pasif. Berani tampil, bergaul dan berkarya di kancah nasional yang melibatkan seluruh provinsi di Indonesia. Bagaimana mereka bisa menjadi pemimpin masa depan dan bekerjasama dengan yang lain merajut tali kebangsaan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika?

Banyak keyperson, pejabat maupun para pembicara menekankan pada para peserta Festival Pemuda, bahwa orang-orang seperti merekalah calon pemimpin bangsa masa depan, entah di dunia market place atau pun dalam pemerintahan sebagai bupati, walikota, gubernur, menteri atau bahkan presiden.

Jika kita semua mau bekerjasama lewat jaringan-jaringan pelayanan kita, pastilah bisa merekrut 170 muda-mudi Kristen (5 orang dari 34 propinsi) untuk mengikuti Festival Pemuda yang akan datang. Tapi itu saja tidak cukup. Kaum muda Kristen harus agresif, punya inisiatif tinggi, mudah membaur seperti peserta Festival Pemuda lain yang sangat agresif bertanya, penuh kreativitas dan semangat yang meletup-letup. Bila perlu diadakan kegiatan pembinaan seperti Chrisyian Youth Camp sebelum mengikuti Festival Pemuda.

 

Kesan-kesan:

“Anak muda sekarang perlu dibangkitkan, sebab mereka itu adalah pahlawan-pahlawan masa kini.” (Hana Amalia Vandayani)

“Festival Pemuda ini adalah jembatan bagi para mahasiswa untuk bisa mengerti tentang fungsi kemahasiswaan.” (KP. Agus Purwanto Suryobudoyo)

“Menghayati semangat pancasila, terutama keterbukaan toleransi di dalam perbedaan.” (Rm. Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ)

“Pemuda saat ini adalah pemuda yang kreatif dan inovatif. Mari kita bersatu padu bergandengan tangan, berkontribusi untuk kepentingan bangsa dan negara.” (Yuhardian Febrianto)

“Pemuda Indonesia harus memiliki kemauan dan kemampuan untuk terus menerus belajar, karena perkembangan ilmu dan teknologi tidak pernah berhenti.” (Dr. Anhar Gonggong)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments