Hujan lumayan lebat sore itu tidak memadamkan semangat dan kerinduan umat untuk hadir pada Perayaan Natal di GKI Darmo Satelit, Surabaya pada Senin 25 Desember lalu. Ruang parkir mobil di depan gereja dan disekitarnya juga banyak terisi. Tepat pukul 16.00 WIB, ibadah Natal dengan tema “Lawatan Allah Yang Menghadirkan Sukacita” dimulai.
Kotbah Natal yang disampaikan oleh Pdt, Andri Purnawan ini didasari dari bacaan Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Ilustrsi kotbah berupa drama yang berjudul ‘Regift’. Cerita diawali seorang guru vokal dan musik bernama pak Benny yang mendapat hadiah Natal dari istrinya. Hadiah itu berupa kotak cukup besar yang ditutup rapi. Hati pak Benny begitu sukacita. Tetapi saat dilihat isinya, pak Benny sangat terkejut dan menutupnya kembali rapi-rapi kotak hadiah tersebut.
Walaupun pesan pemberi hadiah itu sangat jelas bahwa kotak itu tidak boleh diberikan kepada orang lain, toh pak Benny tak ingin memilikinya. Saat berjumpa Kirana, salah satu muridnya, pak Benny memberikan hadiah Natal itu. Kirana yang menerima pesan yang sama, setelah membuka kotak ternyata juga ingin meneruskan hadiah itu kepada temannya, Dion. Begitu mengetahui isinya, Dion pun memberikan hadiah tersebut kapada kawannya yang sedang mencari hadiah untuk calon mertuanya. Belum sempat diberikan, hadiah itu keburu ketahuan oleh pacarnya yang ternyata pemilik awal hadiah yang diberikan saat acara tukar kado. Terjadilah sedikit keributan tentang asal muasal kado yang tidak dikehendaki oleh penerimanya itu.
Masalah ini sampai kepada pendeta mereka yang kemudian mengklarifikasi satu persatu dari mana hadiah itu berasal. Pendeta tersebut kemudian membuka isi kado yang ternyata seekor anak anjing sangat lucu dan cakep. Para penerima hadiah Natal menjelaskan kepada pendeta bahwa hadiah anak anjing itu sangat indah dan menggemaskan, tetapi karena ada konsekuensi harus memelihara, memberi makan minum, keluar uang, perhatian dan lain-lain, mereka enggan menerimanya.
Apa hikmahnya? Hadiah Natal berupa Bayi Yesus juga merupakan hadiah yang indah bahkan mulia, apalagi Yesus hadir sebagai Juru Selamat. Tetapi diantara kita banyak yang setelah menerima Yesus tidak mengerjakan apa yang menjadi panggilan dirinya. Panggilan pelayanan atau tugas-tugas gereja yang membutuhkan dirinya, paling gampang kalau dilimpahkan kepada orang lain. Mau menerima yang baik, indah, mulia tetapi enggan memikul konsekuensi yang muncul.


Kebaktian Natal ini juga dihadiri para undangan dari teman-teman lintas iman dan kepercayaan. Ada pelawak Djadi Galajapo, ada Otto Bambang Wijaya dari MLKI, serta Yuliati Umrah dari aktivis perempuan. Mereka mengikuti rangkaian ibadah dengan khidmat. Beberapa perwakilan dari mereka juga dengan semangat memberikan sambutan singkat yang sarat makna-makna persatuan walapun berbeda keyakinan.

Acara ditutup dengan tampilnya kelompok ‘Tujuh Bidadari” dari Pondok Pesantren Assofa Wal Wafa, Sidoarjo. Denga sukacita ketujuh wanita anggotanya menyanyikan “Indonesia Merayakan Perbedaan”. Natal yang indah, sarat makna persatuan dan toleransi di tengah perbedaan yang ada. Tahun depan gereja mana yang akan adakan perayaan Natal seperti ini? (yahud/berkat)


