HomeJelajah KameraMengenal Makna Puasa dalam Islam dan Kristen

Mengenal Makna Puasa dalam Islam dan Kristen

Sejuknya cuaca hari Kamis, 20 Maret 2025 mengantar acara Silahturahmi yang digelar tiap tahun oleh Yayasan Pondok Kasih dan Yayasan Forum Beda tapi Mesra. “Acara ini sekaligus menjadi sarana berbuka puasa bersama menyambut bulan Ramadhan,” tutur Dr. Hana Amalia dan Kiai Muryadi yang mengawali dengan doa.

Selain umat Islam yang sedang melakukan ibadah puasa, sebagian umat Kristen dan Katolik juga melakukan puasa. Karena itu panitia berkenan menghadirkan Ustadz Harits Nu’man S.Pd.I., M.Pd. dan Dr. Rita Wahyu Wulandari, M.M., M.Th.

Gus Harits Nu’man

Bagaimana perpektif puasa menurut Agama Islam, inilah paparan Gus Harits Nu’man: Puasa Ramadhan adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang telah baligh, berakal, sehat, dan mampu, berdasarkan Al-Quran, hadis, dan ijma’ ulama, dengan tujuan agar menjadi orang yang bertakwa. Islam memberikan keringanan bagi mereka yang tidak mampu berpuasa karena sakit, bepergian jauh, haid, nifas, atau kondisi lain yang membuat mereka tidak sanggup berpuasa. Puasa memiliki banyak hikmah, di antaranya melatih kesabaran, meningkatkan keimanan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dr. Rita Wahyu

Sedang perpektif puasa menurut Agama Kristen dipaparkan Ibu Dr. Rita Wahyu: Kata “puasa” disebut dalam bahasa Ibrani: צוֹם – TSOM, berasal dari akar kata צָמַם  – TZAMAM, yang berarti “menutup” atau “menahan diri.” Perhatikan dalam mengucapkan kata “Tsom” dengan tindakan di mulut yang tertutup: “emm…” di akhir kata. Demikianlah memang kegiatan berpuasa: menutup mulutnya.

Makna puasa dalam perenungan sejarah hidup manusia sejak mulanya di Taman Eden. Ketika manusia pertama Adam diciptakan, dia ditaruh di tempat khusus, di Taman Eden (Ibr: גַּן־ עֶדֶן – GAN ‘EDEN, artinya: kesenangan atau pleasure). Di tengah kelimpahan di Taman Eden, ada kalanya, Tuhan meminta manusia tidak secara sembarangan menggunakan kenyamanan itu. Tidak semua makanan (Ibr. לֶחֶם – LEKHEM) dapat secara umum dimakan. Ada yang tidak boleh dimakan yaitu buah dari Pohon Pengetahuan yang Baik dan Yang Jahat (Kejadian 2:16-17).

Tuhan meminta manusia “puasa” (menutup mulut-nya) dari buah itu. Namun, larangan dilanggar oleh manusia, karena ia terbujuk pada keinginan “menjadi seperti Allah” (Kejadian 3:5). Itulah dosa atau pemberontakan manusia yang pertama. Sebab ia ingin menyamai yang Mahatinggi.

Demikianlah makna puasa itu, seandainya saja Adam “menutup mulutnya” (Ibr. צוֹם – TSOM), sikap menahan diri itu tentunya akan menyebabkannya aman dari dosa itu. Dari Kisah Adam di Taman Eden, hendaknya menjadi perenungan kita untuk mampu menghalau keinginan-keinginan yang tidak semestinya.

Kata lain dalam bahasa Ibrani untuk kegiatan puasa adalah: תַּעֲנִית – TA’ANIT berasal dari verba: עָנָה – ANAH, artinya: merendahkan diri, menekan atau menundukkan diri, kata ini berhubungan dengan keadaan עָנִי – ANI, artinya: miskin. Bahwa ketika kita berpuasa kita juga sedang merenungi pengalaman kemiskinan, baik secara spiritual maupun sosial. Kita ber-empati terhadap kaum Miskin.

Puasa melatih kita membatasi konsumsi makanan dan kenyamanan hidup, memberikan kesempatan untuk merasakan sedikit dari kesulitan yang dialami oleh mereka yang hidup dalam kemiskinan. Dengan menahan diri dari makanan atau kemewahan lainnya, seseorang dapat lebih memahami penderitaan orang miskin yang setiap hari menghadapi kelaparan dan keterbatasan. Juga sebagai bentuk kesalehan, pertobatan dan upaya pendekatan diri kepada Tuhan dengan kerendahan hati.

Puasa di dalam kekristenan memang secara umum tidak diwajibkan, namun demikian, di kalangan Kristen Orthodoks hal ini masih ketat dilaksanakan. Ada tradisi gerejawi mengenai masa puasa setelah Rabu Abu atau Ash Wednesday, di tahun ini jatuh pada 5 Maret 2025.

Dalam tradisi Gereja kuno, 40 hari menjelang hari Paskah Kristiani dilaksanakan puasa Prapaskah (Quadra Gesima). Puasa ini merupakan bagian dari persiapan spiritual menuju Paskah, mengingatkan umat Kristen pada 40 hari puasa Tuhan Yesus di padang gurun (Matius 4:1-11). Masa ini adalah waktu untuk pertobatan dan refleksi diri. Puasa ini Tindakan pantang sebagai bentuk pengendalian diri juga sekaligus menjadi ibadah doa yang lebih mendalam, serta untuk pelaksanaan kasih kepada sesama melalui amal dan perbuatan baik.

Dalam acara tersebut, sambil berbuka puasa, hadirin yang hampir mencapai seratus orang itu dihibur oleh talent show remaja belia: Winston dan Vanessa serta kawan-kawan dari WALUBI (perwakilan Umat Buddha Indonesia. Vanessa memainkan Guzheng (alat musik tradisional Tiongkok) yang dipetik dengan jarinya yang lincah. Sedang Winston mengiringi dengan alat semacam drum kecil.

Suasana guyub dan rukun, menyanyi bersama, saling berbagi membuat persaudaraan anak bangsa ini terus mesra sepanjang masa. Acara foto bersama membawa kenangan untuk diingat betapa indahnya Bhineka Tunggal Ika itu merajut kemesraan. (doc.berkat).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments