God’s love is unconditional; it precedes any human achievement.
(Henri Jozef Machiel Nouwen 1932–1996)
Kasih yang Universal
Di pagi hari matahari terbit dan menyinari bumi untuk semua ciptaan Tuhan. Alam bekerja dalam ritme yang teratur. Siang berganti malam, musim datang dan pergi. Ini mencerminkan kasih yang menyeluruh untuk memberi hidup bagi semua ciptaan. Ada lagu yang menceritakan rasa syukur kasih Allah kepada kita. Judulnya: “Seindah Siang Disinari Terang,” Dari Pelengkap Kidung Jemaat (PKJ) nomor 242. Bait pertamanya ditulis sbb:
Seindah siang disinari terang
cara Tuhan mengasihiku;
seindah petang dengan angin sejuk
cara Tuhan mengasihiku.
Tuhanku lembut dan penyayang
dan aku mengasihi Dia.
KasihNya besar; agung dan mulia
cara Tuhan mengasihiku.
Peringatan hari Natal kadang cenderung mengutamakan perayaan bukan perenungan. Kini umat lebih terpukau dengan tontonan, bukan tuntunan Firman. Bahkan gemerlapnya cahaya lampu kadang membuat kita terbuai dengan teknologi mutakhir. Di balik semua itu, ada pesan yang jauh lebih dalam. Kasih Allah yang universal, kasih menyeluruh dan berlaku untuk semua ciptaan seperti lagu PKJ 242 di atas. Dari lagu itu kita mengamini dan mengimani bahwa Kasih Allah itu besar, agung dan mulia. Kalau kasih itu berlaku untuk alam semesta, sejatinya juga kepada insan di bumi ini jauh lebih besar dari segalanya. Hanya manusialah yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Imago Dei et Similitudo Dei). (Kejadian1:26-27). Bahkan Allah menegaskan bahwa manusia itu berharga dan mulia sehingga Dia mengasihi kita. (Yesaya 43:4).
Kasih universal itu tidak membedakan batas suku, ras maupun agama. Yesus sendiri mengajarkan untuk mengasihi dan menolong sesama dalam perumpamaan orang Samaria yang murah hati (Lukas 10:30-34). Mungkin ada elit gereja, entah personal atau secara komunal bisa terjebak dalam formalitas jabatan. Bisa jadi argumentasi yang mencuat adalah organization oriented ketimbang people oriented. Tidak heran kalau Yesus secara tegas mengatakan: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat” (Markus 2:27). Implementasinya, peraturan diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk peraturan.
Tidak heran istilah marginalized people yang populer dengan istilah wong cilik sedang menjadi perhatian publik saat ini. Alangkah indahnya momen Natal tahun ini gereja bisa menjangkau insan wong cilik yang membutuhkan uluran tangan kasih kita. Bukankah berita Natal yang pertama disampaikan malaikat Tuhan kepada para gembala di padang? (Lukas 2:8-11). Di kota Nain ada janda miskin yang anak tunggalnya mati. Kasih Yesus yang menghidupkan itu menjamah dan anak itu hidup kembali. (Lukas 7:11-15). Jadi kasih yang universal bukan hanya untuk orang terpandang dan berpendidikan. Kasih itu juga menjangkau rakyat kecil yaitu wong cilik yang saat ini sedang terpuruk.
Kasih yang Tak Bersyarat
Kasih ini tidak menunggu manusia menjadi baik, melainkan kasih yang lebih dahulu datang mencari yang tersesat. “Namun, Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Roma 5:8 – TB2).
Kasih yang menyelamatkan adalah kasih Allah yang tak terbatas dan tak bersyarat. Kasih ini tidak bergantung pada kebaikan atau prestasi manusia. Melainkan mengalir dari hati Allah sendiri yang penuh belas kasihan. Dalam kasih-Nya Allah memandang manusia yang berdosa bukan untuk menghukum, tetapi untuk menanggung kekelaman dosa kita.
Kasih ini tampak paling nyata di dalam Yesus Kristus. Ia rela menyerahkan diri di kayu salib agar setiap orang yang percaya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16b). Kasih itu pula yang menghantar pada pembenaran oleh iman (justification by faith). “Terlebih lagi, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan melalui Dia dari murka Allah” (Roma 5:9 TB2).
Kasih Allah berbeda dari kasih manusia. Kasih manusia sering bersyarat. Kita mudah mengasihi orang yang menyenangkan dan sependapat, atau yang berjasa kepada kita. Namun kasih Allah melampaui itu semua. Ia mengasihi tanpa menimbang kelayakan dan tidak menuntut balasan. Bahkan ketika manusia menolak kasih-Nya, Allah tetap setia dengan kasih-Nya. Karena hakikat Allah sendiri adalah kasih. ho theos agapē estin (1 Yohanes 4:16b). Dalam Greek New Testamen kata “Kasih” ditulis agapē dipakai 116 kali. Sedang kata philia hanya dipakai satu kali saja, yaitu di Yakobus 4:4. Kasih agapē ini menebus segala dosa dan memberi damai yang sejati.
Kasih yang tak bersyarat ini tampak jelas ketika Yesus di salibkan. “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran”. (1 Petrus 2:24a). Itulah kasih yang sejati, kasih yang memberi, bukan menuntut.
Kasih yang Memulihkan
Murid tidak dilahirkan, tetapi dijadikan. Salah satu murid Yesus yang menonjol adalah Petrus. Berawal dari penjala ikan (Lukas 5:4-7) lalu dia dipilih menjadi penjala manusia (Lukas 5:10b ). Tragisnya setelah kebangkitan Kristus, Petrus kembali pada profesi penjala ikan. Kata Simon Petrus kepada mereka: “Aku mau pergi menangkap ikan” Kata mereka kepadanya: “Kami mau pergi juga bersamamu” (Yohanes 21:3).
Secara psikologis ada beban penyesalan karena dia telah menyangkali Yesus sampai tiga kali sebelum ayam berkokok. Apalagi Petrus pernah berujar: “Sekalipun aku harus mati bersama Engkau, aku tak akan menyangkal Engkau”: (Matius 26:35). Namun kasih Yesus tidak berubah, karena kasih-Nya itu kekal tidak bersyarat. Ia mau agar kasih yang memudar itu kembali kepada kasihagapē seperti pada panggilan semula. Kasih yang memulihkan (restorative love), mengubah hidup orang yang dikasihi-Nya.
Dialog Tuhan Yesus dengan Petrus dalam Yohanes 21:15-17 menunjukkan bagaimana Ia ingin memulihkan Petrus yang nyaris meninggalkan tugas panggilan-Nya. Pada ayat 15 Yesus bertanya pada Petrus: agapas me – apakah engkau “mengasihi” aku, dan dijawab Petrus: su oidas hoti philō se. Engkau tahu bahwa aku “mencintaimu” (Alkitab BIS). Ayat 16 pertanyaan Yesus yang kedua: agapas me apakah engkau “mengasihi” aku, jawab Petrus: su oidas hoti philō se. Engkau tahu aku “mencintaimu”. Ayat 17 kali ketiga: phileis me. Apakah engkau “mencintaiku” dan Petrus tetap menjawab: su ginōskeis hoti philō se – Engkau tahu segala sesuatu, engkau tahu bahwa aku “mencintaimu”.
Dua kali Yesus bertanya apakah engkau “mengasihi”, dijawab Petrus dua kali dengan kata “mencintai” Justru pada pertanyaan ketiga itulah Yesus mengganti bertanya dengan kata apakah engkau “mencintai” dan Petrus dengan sedih tetap hanya berkata bahwa dia “mencintai”.
Dapat disimpulkan bahwa sejatinya Petrus hanya sanggup mencintai. Alkitab bahasa Jawa juga diterjemahkan sama, kata “tresna” dipakai dua kali dan kali ketiga pertanyaan Yesus kepada Petrus dialihkan dengan kataopo kowe “dhemen” Jadi tigakali berturut-turut Petrus hanya sanggup mengucapkan “kawula remen” yang artinya aku “mencintai”.
Kasih agapē adalah kasih yang tak bersyarat, rela berkorban, tidak mementingkan diri sendiri. Bisa dikatakan kasih yang walaupun, meskipun. Sedang cinta philia adalah conditional love yang bersyarat dengan kata lain “cinta supaya atau karena”. Situasi dan kondisi merupakan pertimbangan, baik itu materi atau wajah yang menarik dan sebagainya. Bisa dikatakan cinta karena ada apanya. Sedang kasih agapē adalah kasih apa adanya, tanpa bersyarat. Kasih yang tak bersyarat itulah yang mengubah hati dan memberi kita hidup yang baru.
Kasih Tuhan tidak berubah meski dunia berubah. Ia tetap mengasihi kita apa adanya, bukan karena siapa kita, melainkan karena siapa Dia. Mari kita hidup dalam kasih itu dan membagikannya kepada sesama. Dunia akan melihat bahwa kasih Kristus masih nyata dan hidup di tengah kita. Kita sambut Natal karena kasih Tuhan yang turun ke dunia tanpa syarat. Dalam Dia, kita melihat kasih yang rela datang – memberi – menyelamatkan. Kiranya kasih itu juga lahir di hati kita setiap hari. Gloria in Excelsis Deo.


