“Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.”
(Yohanes 1:10-11)
“Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan trauma, sebuah dunia yang disesaki berbagai Ground Zero”, tulis Makoto Fujimura dalam bukunya Silence and Beauty yang terbit pada tahun 2016. Di dalamnya, Makoto, atau yang oleh Philip Yancey yang memberi kata pengantar untuk bukunya itu dipanggil menurut nama kecilnya Mako, ingin memberikan testimoni, bahwa penderitaan dan penolakan sebagai bagian dari kerapuhan hidup bukanlah pengalaman yang niscaya membawa manusia pada kebangkrutan.
Dalam dunia di mana duka bertahta, Allah sepertinya bungkam. Namun sesungguhnya, keheningan Allah itu berbicara dengan indah melalui iman umat yang bersiasat dalam kerahasiaan di tengah konteks yang membawa trauma hidup.
Berangkat dari pembacaannya atas karya Shusaku Endo Chinmoku (edisi bahasa Inggris berjudul Silence yang oleh penerbit Gramedia telah diterjemahkan dengan judul Hening), dan juga pengalaman personal serta biografi keluarganya, Mako meyakini bahwa petaka dapat membawa orang pada iman akan Kristus.
Mako sendiri, seperti Shusaku Endo, adalah seorang Katolik yang saleh. Ia juga seorang seniman yang berusaha menemukan imannya dalam karya-karya seninya. Dan yang bisa kita temukan dalam karya-karya seni Mako dan Endo adalah tema seputar pergulatan iman kristiani di tengah hidup yang guncang, yang ditandai persekusi Shogun Tokugawa terhadap “kakure Kirishitan”, yakni orang-orang Kristen Jepang yang berusaha menghidupi imannya secara rahasia sekaligus rasa bersalah karena mengkhianati Tuhannya serta bungkamnya Allah di tengah penderitaan umat-Nya.
Mako ada di New York pada saat menara kembar WTC dirubuhkan dua pesawat yang dibajak sekelopok teroris Islam fundamentalis. Ia hanya beberapa blok saja dari tempat yang kemudian menjadi Ground Zero itu. Tapi Ground Zero bukan hanya di New York. Di negeri asal ibunya, Jepang, orang bahkan dapat menemukan beberapa Ground Zero.
Pada waktu Mako masih kecil, ibunya menceritakan kunjungan kakeknya ke Hiroshima seminggu sesudah kota itu di bom atom pasukan Amerika. Junichi Sugai, sang kakek, adalahseorang Protestan yang serius dengan kehidupan imannya dan aktif dalam kelompok PA di komunitasnya. Namun pengalaman traumatik menjumpai Hiroshima yang hancur berbekas mendalam. Sampai akhir hayatnya, Junichi Sugai masih bergulat dengan imannya terhadap pekerjaan Allah di tengah kehancuran.
Shusaku Endo, yang menjadi pahlawan sastra bagi Mako, telah terlebih dulu membuka rute yang sulit bagi para sastrawan Kristen Jepang untuk menulis di seputar tema hidup yang guyah. Sebenarnya Chinmoku datang bukan dari rencana. Ia lebih sebuah respon intuitif atas perjumpaan Endo dengan fumi–e (Jep: fumi “menginjak”, e “gambar”), simbol dari kekalahan iman sekaligus belas kasih Allah bagi umat-Nya di Jepang. Fumi-e adalah selembar kertas atau lempeng terbuat dari kayu atau perunggu, yang memuat lukisan Yesus dan Bunda Maria. Endo melihat fumi-e itu ketika ia mengunjungi sebuah museum di Nagasaki, sebuah Ground Zero yang dihancurkan bom atom Amerika. Namun ingatan Endo akan Nagasaki bukan hanya tentang kehancuran kota tersebut.
Pada awal abad ke-17, Nagasaki adalah kota dengan populasi Kristen terbanyak di seluruh Jepang. Pernah pada masanya, terdapat lebih dari 500 orang Kristen di kota itu. Namun, pemerintah kian cemas dan merasa terancam dengan pengaruh yang kian meluas dari agama asing tersebut. Mereka melarang agama Kristen dan menghukum siapa pun yang mempertahankan atau memeluk iman tersebut. Selama lebih dua ratus tahun sejak pemerintahan Toyotomi Hideyoshi, orang-orang Kristen ditekan untuk meninggalkan iman mereka melalui praktik menginjak gambar Kristus dan Bunda Maria. Jika mereka menolak, mereka akan dikejar dan dibunuh melalui proses kematian yang pelan dan menyakitkan. Untuk mengenang persekusi yang berusia nyaris setengah abad ini, para turis masa kini dapat mengunjungi salah satu sudut Nagasaki di mana terdapat Bukit Para Martir yang didirikan sebagai monumen bagi 26 orang Kristen yang disiksa karena mempertahankan imannya.
Renungan akan hidup yang rapuh namun sekaligus sebagai ruang bagi umat untuk mengalami kekuatan Allah membawa Mako pada seni Jepang yang bernama kintsugi. Kintsugi adalah seni kuno Jepang untuk memperbaiki tembikar yang pecah dengan menggunakan bahan perekat dari getah pohon ditaburi serbuk emas. “Kintsugi bukan hanya teknik memperbaiki bejana yang pecah; namun juga membuat bejana itu nampak lebih indah dari aslinya”, tulis Mako dalam bukunya yang terbit dua tahun lalu berjudul Art and Faith: A Theology of Making.
Dengan mengutip Paulus, Mako menulis lagi bahwa “Kristus datang bukan semata untuk memperbaiki atau memulihkan kita, tetapi terutama untuk membuat kita menjadi ciptaan yang baru”. Allah menjangkau kita yang pecah terbelah dan mengutuhkan kita kembali dengan emas kasih-Nya. Dalam upaya untuk saling memahami, maka komunikasi yang mendalam hanya bisa terjadi jika setiap orang bersedia memasuki situasi kerapuhan.
Dalam konteks feudal Jepang, lingkaran kekerasan hanya bisa dipatahkan jika orang bersedia meninggalkan pedang masing-masing agar dapat berbicara dengan aman. Keindahan terbit manakala setiap orang memberi diri melalui kesediaan untuk memasuki situasi rapuh, yaitu menemui sesamanya tanpa berbekal senjata atau sistem pertahanan diri apa pun.
Dalam kitab suci, keberanian dan kemurahan hati untuk memasuki situasi rapuh bukan hanya tindakan iman, tetapi juga sumber bagi iman dan harapan itu sendiri. Natal adalah peristiwa, sebuah momen, ketika Sang Firman melembagakan seluruh keilahian dalam kerapuhan tubuh manusia. Tetapi Natal juga adalah sebuah Ground Zero. Berkat Natal, dunia memiliki seorang Mesias kanak-kanak yang harus melarikan diri sebagai imigran di Mesir, seorang penyembuh yang dilukai dan seorang Raja bermahkota duri.
Kitab suci bersaksi bahwa sang Mesias ini telah ada di dalam dunia namun dunia tidak mengenal-Nya semenjak kerapuhannya adalah batu sandungan bagi orang Yahudi dan kebodohan bagi yang bukan Yahudi. Kerapuhan sang Mesias menular ke pihak-pihak lain. Para Majusi musti menyiasati taktik Herodes dengan pulang ke negerinya melalui jalan lain. Dan tangis Rahel menandai infantisida sebagai praktik pelestarian dan perebutan kekuasaan yang jamak terjadi dalam banyak dinasti.
Di ujung novelnya yang indah dan sedih itu, Endo menampilkan percakapan antara Yesus dengan Rodrigues, sang pastur yang dianggap murtad karena telah menginjak fumie, gambar Yesus: “Tuhan, aku benci kebungkaman-Mu.” “Aku tidak bungkam. Aku ikut menderita di sampingmu.”
Sang Mesias tidak bungkam atau pun absen. Hanya saja, Ia tidak dikenali dan diterima oleh dunia. Yohanes mengingatkan kita akan hal ini di bagian prolog injilnya: “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.”
Akibat penolakan dunia dan Herodes atas sang Mesias, Natal menjadi Ground Zero. Tetapi jika Natal adalah Ground Zero, maka inkarnasi adalah peristiwa saat sang Firman memasuki ruang traumatik di mana Kristus, melalui keheningan dan anonimitas-Nya, berbicara kepada siapa pun yang putus harapan bahkan kehilangan iman. Yaitu kepada mereka yang tersungkur dalam Ground Zero masing-masing dalam pelbagai rupa kegagalan dan kehilangan. Hanya kaum yang lemah dan ringkih ini yang dapat menyimak suara sunyi sang Mesias.
(Pdt. Leonard Andrew Immanuel – Pendeta GKI di Jemaat Sidoarjo)


