Surabaya, 21 Januari 2026 – Forum Beda Tapi Mesra (FBM) dan Yayasan Pondok Kasih (YPK) mengadakan Dialog Lintas Agama dengan tema “Ekoteologi, Solusi Bagi Keselamatan Alam Indonesia” di Boncafe Gubeng, Surabaya. Acara ini bertujuan untuk membahas dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya implementasi ekoteologi dalam menyelamatkan Indonesia dari bencana alam dan lingkungan.
Hadir dalam acara tersebut sekaligus memberikan sambutan, antara lain Syuhada Endrayono, S.H. selaku Ketua FBM, Indahwati selaku Ketua YPK, Hana Amalia Vandayani sebagai Pembina FBM, dan Dr. Luki Krispriyanto, S.Th., MM.Pd. dari Pembimas Kristen Kemenag Provinsi Jawa Timur.
Selain bertujuan meningkatkan kesadaran pentingnya menjaga lingkungan hidup, dialog ini juga mengajak kita memahami konsep ekoteologi dan relevansinya dengan kehidupan sehari-hari.
Pembicara pertama Dialog Lintas Agama, Bapak Maimon, M.Ag., Ketua Tim Kerukunan Umat Beragama Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, menyatakan bahwa ekoteologi menjadi salah satu program prioritas Kementerian Agama. “Tugas kami adalah membina mental masyarakat, menguatkan masyarakat melalui pendidikan, dan kerukunan,” ujarnya.
Sedangkan pembicara kedua, Bhikkhu Jayamedho Thera, dalam paparannya tentang “Implementasi nyata Ekoteologi Umat Buddha dalam menjaga dan memelihara alam”, menjelaskan bahwa Agama Buddha menciptakan kedamaian dan harmonisasi. “Krisis ekologis terjadi karena ada kekerasan manusia terhadap alam. Tanpa kekerasan kepada alam, otomatis alam tidak akan merusak hidup kita,” katanya.
Umat Buddha telah melakukan pelbagai upaya, antara lain pelepasan kutuk dan kepiting di hutan mangrove, serta program lingkungan berkelanjutan seperti pembersihan pantai, sungai, dan penanaman pohon.
Ibu Dr. Rita Wahyu Wulandari sebagai pembicara ketiga, dalam paparannya tentang “Relevansi Ekoteologi dari sudut pandang Kristen”, menjelaskan bahwa krisis ekologis sebagai krisis moral dan spiritual. “Ekoteologi mendorong pertobatan ekologis: perubahan cara berpikir, cara hidup, dan cara membangun peradaban,” katanya.
Rita Wahyu juga memanggil umat beriman untuk terlibat dalam pendidikan lingkungan, advokasi kebijakan publik, perubahan gaya hidup, serta gerakan komunitas berbasis iman.
Bertindak sebagai moderator dialog, John Purnowo, Pemimpin Redaksi Majalah Berkat, menegaskan kembali bahwa acara ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya implementasi ekoteologi dalam menyelamatkan Indonesia dari bencana alam dan lingkungan.
Acara dialog ini menjadi menarik karena diikuti oleh para tokoh lintas agama, akademisi dan masyarakat umum. (doc-berkat)


