Menjadi Mitra Allah Bagi Sesama
Demi mempererat relasi kemitraan dan mensinergikan kelompok di lingkup lebih luas, DPP (Departemen Pembinaan dan Persekutuan) GKI Klasis Madiun menggelar Temu Raya Intergeneration, menyasar para aktivis dari Sie Anak (Pendamping Jemaat Anak), Sie Pemuda dan Sie Dewasa pada 24-25 Januari 2020 bertempat di Vila Hermon, Pacet-Mojokerto.
Acara bertema “Menjadi Mitra Allah bagi Sesama” itu, diawali ibadah pembukaan oleh Pdt. Samuel Dian Pramana (GKI Mojokerto), dan setelah makan malam bersama, para peserta mengikuti sesi-sesi berikutnya sesuai pengelompokan yang ada. 
Pada sesi pertama, Sie Anak dan Sie Dewasa digabung bersama mengikuti sesi bertajuk “Keluarga yang Siap Menerima Anak Berkebutuhan Khusus”, oleh Pdt. Samuel Dian Pramana. Sedangkan Sie Pemuda mengikuti sesi “Mentor Sebaya” oleh Pdt. Didik Tridjatmiko (GKI Bromo). Acara malam itu diiakhiri dengan menggabungkan semua kelompok peserta. Dalam kebersamaan, para peserta bernyanyi bahkan ada yang menari, penuh semangat memuji Tuhan, menikmati keseruan fun games yang juga melibatkan panitia dalam suasana persahabatan, meski tak semua utusan gereja hadir.
“GKI Damai dan GKI Mojosari tidak mengirim utusan kali ini”, ungkap Ketua Panitia, Yayuk Dwi R (GKI Bromo) yang juga Ketua DPP Klasis Madiun. Sebelas GKI (dari 13 GKI) di lingkup Klasisi Madiun mengirim utusan, masing-maing 5 hingga 10 orang, yakni dari GKI Mojokerto, GKI Batu, GKI Kutisari, GKI Diponegoro, GKI Gayungsari, GKISidoarjo, GKI Bromo, GKI Tumapel, GKI Kebonagung, GKI Tulungagung dan GKI Madiun.
Menurut Pdt. Dwi Santoso, Ketua BPMK Madiun, acara ini juga merupakan perluasan dari program sister church sebelumnya yang melibatkan kemitraan antar gereja secara berkesinambungan dengan melihat potensi dan kompetensi yang ada. “Pertemuan intergenerasi ini sebagai upaya konkret mewujudkan gereja yang cair dan bershabat bagi semua. Kemitraan sebagai satu persekutuan yang lebih kompak dan utuh,” kata Pdt. Dwi Santoso seraya mengutip I Kointus 3: 9 “Karena kami adalah kawan sekerja Allah, kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah”.
Keesokan harinya, ibu Dr. Mary Philia Elisabeth, S.Psi., MPsi., dari Universitas Surabaya (UBAYA) mengisi di sesi Sie Anak dengan menguraikan cara identifikasi dan manajemen anak berkebutuhan khusus. Melalui pengetahunan tentang tahap perkembangan anak, diharapkan para PJA (Pendamping Jemaat Anak) dapat memahami tanda-tanda awal pada anak berkebutuhan khusus melalui deteksi dini perilaku anak, salah satunya dengan melihat usia anak sebagai pertimbangan evaluasi penyesuaian psikologis. “Kriteria anak berkebutuhan khusus terkait dengan konsep disabilitas (keterbatasan) dan bersinggungan dengan tumbuh kembang normal-abnormal pada anak,” katanya.
Melalui pemahaman tersebut, diharapkan PJA dapat menolong orang tua atau keluarga yang memilik anak berkebutuhan khusus. “Dan yang tak kalah pentingnya harus ditanamkan pada anak bahwa mereka sangat berharga di mata Tuhan, dan Tuhan sangat mencintai mereka betapa pun keadaannya,” tandas Ibu Dr. Mary.
Sebelumnya, pada sesi “Keluarga yang Siap Menerima Disabilitas”, Pdt. Samuel Dian Pramana mengemukan hal senada, tentang bagaimana seharusnya sikap kita terhadap disabilitas melalui tiga model pendekatan. Ketiga model pendekatan itu adalah model medis yang memaknai disabilitas sebagai abnormalitas, model sosial yang memperjuangkan kesamaan hak penyandang disabilitas dengan orang normal, dan model solidaritas dimana kepedulian dan keramahan untuk menjadi sama dengan penyandang disabilitas.”Tuhan Yesus sudah meneladankan sikap tersebut ketika memperlakukan orang buta sejak lahir,” urai Pdt. Samuel DP mengutip Yohanes 9:1-12.
Karenanya disabilitas bukan sebagai obyek untuk didiskusikan melainkan subyek dari penerimaan sebagai manusia untuk menyatakan kemuliaan Tuhan. Hanya saja karena kekurangan PJA untuk melayani anak disabilitas, maka diperlukan komunitas dengan pendekatan model solidaritas sebagai wujud gereja yang inklusif. “Perlu data base gereja untuk dapat membentuk komunitas orang tua atau keluarga penyandang disabilitas, agar bisa melakukannya secara konkret terhadap mereka,” pungkasnya.
Pada sesi, “Mejadi Sahabat buat Keluarga yang Retak” yang diikuti peserta dari Sie Dewasa, Pdt. Kaleb Kiantoro dan Ibu Shirley Kiantoro menyoroti pentingnya menjadi sahabat bagi sesama melalui pendampingan Kristen. Melalui pola pendampingan yang disebut sebagai GT (Godly Therapy) atau 6 T dengan pola pendekatan: 1. Tenun, 2. Telusur, 3. Tanggap, 4. Tuntun, 5. Tutup, 6. Teman.
“Konseling Kristen merupakan integrasi antara psikologi dan teologi, dalam relasi yang harusnya menjadi sahabat antara konselor dan koseli, dengan Tuhan sebagai pusat orientasi,” kata ibu Shirley. Pola relasi ini, lanjut Pdt Kaleb, merupakan hubungan timbal balik antara konselor dan konseli dengan dasar kasih dan kepedulian (Galatia 6:1-2).”
Sementara pada sesi “Mentor Sebaya” yang diikuti peserta sie Pemuda, Pdt. Didik Tridjatmiko menjelaskan tentang prinsip-prinsip mentoring yang bisa diteladani, sebagaimana digambarkan dalam relasi yang bernafaskan kasih antara Paulus selaku mentor dengan Timotius selaku mentee. (2 Timotius 1-2).
Selaku mentor, adalah penting melihat kualitas-kualitas yang baik pada mentee (contoh, Yesus melihat potensi para penjala ikan untuk menjadi penjala manusia) dan mendorongnya untuk memelihara karunia istimewa yang dimiliki (2 Timotius 1:13-14). Diilustrasikan bagaimana Paulus menyampaikan pesan pemeliharaan ini kepada Timotius melalui tiga analogi, yakni Timotius harus berpikir seperti seorang prajurit/tentara, atlet/olahragawan dan petani. Paulus membimbing Timotius untuk fokus pada tujuan hidup. Jika Timotius ingin menggenapi kerinduan hidupnya, dia harus belajar dari sudut pandang tentara, atlet dan petani. Tak kalah pentingnya, peran mentor untuk meperingatkan akan kelemahan (2 Timotius 2:22-23) sekaligus menyatakan perlunya kegigihan (2 Timotius 3:10-14), dan pada saat yang sama mampu menjadi teladan. (2 Timotius 3:14)
Pada setiap sesi, peserta juga diajak saling berbagi pengalaman dan berdiskusi sebagai upaya memperkaya wawasan, dan mencari solusi mengatasi kendala yang ada dengan semangat kebersamaan untuk senantiasa saling menopang.
Acara diakhiri dengan ibadah penutup oleh Pdt. samuel Dian Pramana, yang mengingatkan kembali para peserta untuk selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap pelayanan yang dilakukan. “Menjalankan tugas pengutusan itu tidak mudah, karenanya kita selalu membutuhkan orang lain. Seperti melalui acara ini, yang selain pembinaan juga membangun relasi,” pungkasnya dengan mengutip Markus 6:6b-13. (IHB-GKI Mojokerto, Bajem Pacet)


