Bumi dan Kesederhanaan
Hidup secukupnya bukan tanda kekurangan, melainkan wujud syukur kepada Sang Pencipta. Bukankah insan ciptaan Tuhan di taman Eden juga hidup dalam kecukupan. Mereka hidup dalam taman yang asri sebagai tempat tinggal bersama. Relasi mereka dengan Tuhan tertata, tapi juga relasi dengan alam terjaga.
Manusia dibentuk dari debu tanah (Kejadian 2:7). Ini menunjukkan manusia berasal dari alam dan hidup berdampingan dengannya. Manusia bukan terpisah dari alam, tetapi bagian darinya. Manusia ditempatkan di Taman Eden untuk mengerjakan dan memelihara. (Kejadian 2:15 TB2). Tugas memelihara adalah menjaga dan melindungi. Terjadi inter relasi dan interaksi yang saling membutuhkan dan saling melengkapi.
Seperti pujian umat yang diekspresikan pada Nyanyian Kidung Jemaat Nomor 61: “Sungguh indah alam ciptaan Tuhan; hewan, burung, ikan, tumbuh-tumbuhan. Dan angkasa raya, bintang dan bulan; segenap tata surya memuji Tuhan. Tuhanku menjaga sejagat raya; burung margasatwa cukup makannya. Ajar aku, Tuhan, buka mataku, belajar dari alam lihat hikmat-Mu”
Dari Zaman Kuno sampai Now
Orang zaman dulu kadang dianggap kuno oleh generasi Alpha. Kesenjangan ini akibat dari kemajuan teknologi yang begitu pesat. Sudut pandang generasi Alpha terhadap generasi Silent (1928-1945) agak sinis dan kontradiktif. Mereka dianggap kurang adaptif terhadap teknologi, bahkan dijuluki gaptek (gagap teknologi). Sejatinya orang kuno memiliki gaya hidup hemat, sederhana. Nilai patuh pada aturan, hierarki dan cara berkomunikasi yang lebih santun. Kini terasa berseberangan dengan pola generasi sekarang (Now).
Pola bersosialisasi dengan tatap muka, kebersamaan dengan pola gotong royong kini tergeser, karena faktor waktu yang berubah cepat. Karena semua itu kini cukup dengan segenggam gadget di tangan yang bisa berinteraksi dengan dunia maya. Memang yang jauh bisa menjadi dekat. Tapi tragisnya komunitas keluarga yang dekat bisa menjadi jauh secara psikologis. Pola hidup orang kuno lebih sederhana, dekat dengan alam. Sedangkan generasi sekarang lebih praktis dan bergantung pada teknologi. Keduanya punya kelebihan dan kekurangan.
Bumi dan Keserakahan Manusia
Keadaan bumi saat ini semakin memprihatinkan. Hutan ditebang tanpa kendali, laut tercemar sampah. Udara sarat polusi dan iklim menjadi semakin tidak menentu. Semua ini tidak diinginkan manusia, melainkan karena tingkah ulah dan pola hidup sembarangan. Ditambah dengan pola keserakahan. Keinginan untuk memiliki lebih, menumpuk keuntungan dan mengeksploitasi alam tanpa batas. Alam adalah ciptaan Tuhan untuk dipelihara, bukan dijadikan obyek ekploitasi. Ketika alam rusak, manusia jualah yang pertama-tama merasakan dampaknya. Bumi yang lelah akhirnya berteriak lewat bencana, penyakit dan krisis pangan.
Dulu taman nan asri itu dinamai Taman Eden, disebut pertama kali dalam Alkitab di Kejadian 2:8. Kata “Eden” umumnya diartikan sebagai kenikmatan, kesenangan, keindahan. Jadi Taman Eden berarti taman yang indah penuh suasana bahagia. Suasana damai penuh berkat, tempat manusia pertama kali hidup. Di situ pula manusia memiliki ruang perjumpaan dengan Tuhan.
Mengapa menjadi Taman Edan?
Manusia lahir dengan naluri imaginatif dan kreatif. Ditambah daya nalar yang bisa mengembara dalam skala luas. Nalar itu pemberian Allah, bukan menjadi tuan yang sombong. Sama seperti ujaran sang filsuf Rene Descartes: “Cogito ergo sum” (Aku berpikir, maka aku ada). Padahal manusia bukan pusat kebenaran, Alkitablah yang menjadi standard kebenaran sejati.
Keadaan dunia bukan bertambah baik. Alam dijadikan obyek untuk mencari keuntungan pribadi atau kelompoknya. Egoisme dan hedonisme makin merambah menciptakan dunia yang kontra ekologis. Ilmu ini mempelajari relasi mahluk hidup dengan alam sekitar. Kata eko berasal dari kata oikos yang dalam bahasa Yunani artinya rumah. Dalam arti yang luas, bumi yang kita diami ini sedang sakit menjerit. Akibatnya muncul sindiran dalam bahasa Jawa kata edan yang artinya: gila, hilang akal tak terkendali. Parikannya sarkartis: Saiki jamane Edan, nek ora edan ora keduman. (Sekarang zaman Edan, kalau tidak ikut edan tidak kebagian)
Kita sering lupa bahwa bumi bukan milik pribadi, melainkan titipan Tuhan yang harus dijaga. Ketika keuntungan lebih diutamakan daripada kelestarian, maka kerusakan menjadi harga yang harus dibayar oleh generasi sekarang dan yang akan datang. Kesadaran secara dini amat diperlukan untuk melestarikan alam seperti semula. Alam adalah ciptaan Allah yang baik. Manusia adalah penatalayan (steward), bukan penguasa absolut. Karena itu dibutuhkan harmonisasi dengan tanggung jawab dan perawatan. Kerusakan alam adalah penyimpangan dari panggilan awal manusia.
Hidup Secukupnya
Paulus mendidik anak rohaninya dengan pola hidup “ugahari” atau sederhana yaitu hidup secukupnya. Ditulis dalam 1 Timotius 1:6 “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah”. Kata arkeō dari bahasa Yunani yang artinya “cukup” dipakai dalam PB sebanyak 8 kali. Ada juga dalam Ibrani 13:5 “Janganlah menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu” Dalam implikasinya sering kita hanya mengutip Ibrani 13:5b saja, bahwa Allah sekali-kali tidak meninggalkan kita. Padahal Allah menghendaki hidup kita “tidak menjadi hamba uang”. Sedang untuk situasi akhir zaman, Paulus menuliskan: “Manusia akan mencintai dirinya sendiri (philautos) dan menjadi hamba uang” (philarguros). (2 Timotius 3:2).
Ibu Pertiwi sedang menangis, berteriak melalui fenomena alam. Di tengah situasi ini, gaya hidup sederhana dan secukupnya menjadi semakin relevan. Hidup secukupnya bukan berarti kekurangan, melainkan tahu diri. Tidak berlebihan dalam konsumsi dan bijak menggunakan sumber daya alam.
Peduli pada lingkungan sekitarnya dimulai dari keluarga. Jika keserakahan adalah akar masalahnya, maka kesadaran dan kepedulian adalah awal dari pemulihan. Bumi tidak menuntut banyak. Ia hanya ingin agar manusia belajar hidup dengan cukup dan melestarikannya. Biarlah anak-cucu kita tetap menikmati bumi yang terjaga lestari, sama ketika dua insan ciptaan Allah hidup di taman Eden.
Hidup sederhana berarti menahan diri dari berlebihan, tapi tetap memberi ketika dibutuhkan. Itu adalah keseimbangan antara cukup untuk diri sendiri dan berbagi dengan sesama. Kesederhanaan bukan pelit, tetapi kebijaksanaan yang membuat hati ringan dan bumi pun tetap terjaga.
Cukup untuk diri sendiri, puas apa yang dimilikinya (self sufficient) seperti yang disaksikan Paulus dalam Filipi 4:11b. “sebab aku telah belajar ‘mencukupkan’ (autarkēs) diri dalam segala keadaan”. Paulus tetap murah hati dalam berbagi, bijak dan peduli. Maknanya bukan hanya soal materi, tapi juga sikap, hati dan cara kita memandang dunia.Tidak berlebihan, tidak mengejar keinginan untuk menumpuk harta.
Perlu Tindak Nyata – Bumi Tertata
Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) disahkan oleh Majelis Umum PBB tahun 1972. Pertama kali dirayakan di Stockholm pada tanggal 5 Juni 1974 sebagai momentum global untuk kesadaran terhadap isu lingkungan hidup.
Tak terkecuali Indonesia sudah menggaungkan isu global ini melalui pelbagai cara. Mendorong perilaku masyarakat, memilah sampah dan upaya daur ulang. Menanam pohon sebagai paru-paru kota yang polusinya terus bertambah. Di pelbagai sektor retail tidak menggunakan bahan plastik, tetapi menyediakan doos karton bekas. Mengurangi penggunaan bahan plastik sebagai pembungkus, namun yang masih belum bisa diantisipasi adalah kemasan air mineral.
Memotivasi hidup sehat dan ramah lingkungan, dimulai dari keluarga sebagai komunitas inti. Dalam skala luas maka RT-RW-Kelurahan-Kecamatan harus terintegrasi dalam tindak nyata. Melakukan evaluasi perilaku manusia terhadap alam baik seminar bahkan kotbah di rumah-rumah ibadah. Peringatan ini mengajak manusia merefleksikan gaya hidup yang tidak ramah lingkungan. Konsumsi berlebihan, eksploitasi sumber daya, dan pengelolaan limbah yang buruk. Tanpa kepedulian, kerusakan alam akan terus berlanjut.
Hari Lingkungan Hidup menekankan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremonial, tetapi harus diikuti tindakan nyata. Mulailah tiap hari dengan hati yang bersyukur. Tuhan sudah sediakan kebutuhan kita secukupnya, seperti doa “Bapa Kami” yang diajarkan Tuhan Yesus. Pandanglah ke atas, kecaplah kebaikan-Nya. Lihatlah ke bawah, betapa masih banyak yang menderita. Tengoklah ke sekitar, alam yang sedang merana. Setiap insan yang masih punya naluri secara serentak pasti mengelus dada. Tapi harus punya nyali nyata untuk bersuara. Bukankah alam semesta titipan Sang Pencipta kepada kita yang harus dipelihara dan dijaga? Benedicta-Benedictus.


