“Happiness depends upon ourseleves”
Aristoteles (384-322 S.M.)
Istilah Warkop atau Warung Kopi populer sejak lama. Kini Warkop itu menjamur di setiap sudut kota bahkan desa. Di situ kita menemukan kebahagiaan yang kadang tidak disangka. Di tempat itu kita omong-omong ngalor ngidul, tapi ada makna yang diperoleh. Kebersamaan dan kesederhanaan apa adanya memunculkan kebahagian yang dinikmati bersama.
Warung kopi bukan sekadar tempat minum. Itu adalah ruang perjumpaan. Di sana, orang-orang dari pelbagai latar belakang duduk sejajar. Berbagi cerita, tawa dan canda. Tidak ada keharusan untuk tampil keren. Yang ada hanyalah ketulusan dalam kebersamaan. Makanya antar sahabat memaknai Ngopi yang artinya ‘Ngobrol Penuh Inspirasi’. Lalu berlanjut dengan bahasa gaul Ngobras: ‘Ngobrol Bareng Santai’. Warkop menjadi ruang publik kecil yang bertutur mencari ide baru, pendekatan personal, sampai pemecahan masalah. Cakep, celetuk anak sekarang.
Bahagia dalam Kebersamaan
Jenjang kebutuhan manusia yang ke tiga menurut Abraham Maslow adalah social needs (kebutuhan sosial). Di warung kopi orang tidak hanya datang untuk menyeruput kopi. Tetapi untuk bertemu, berbagi cerita dan saling mendengarkan. Di tempat sederhana itu sering muncul percakapan tentang kehidupan, keluarga, pekerjaan. Kebersamaan seperti ini menumbuhkan rasa diterima dan dihargai. Itulah salah satu unsur kebahagiaan.
Kisah Rasul 2:46-47 mencatat: mereka (umat) berkumpul setiap hari, makan-minum bersama dengan gembira dan tulus hati. Mereka tidak sedang mengadakan acara besar. Mereka hanya hidup bersama dalam kesederhanaan dan di situlah kebahagiaan ditemukan. Kebahagiaan mereka lahir dari kebersamaan yang mengalir apa adanya.
Suatu hari seorang teman bercerita mendapat pekerjaan baru. Awalnya dia hanya iseng diajak teman sekolah lama yang puluhan tahun tidak bersua. Waktu itu dia baru mengalami PHK dari perusahaan yang bangkrut di mana dia bekerja. Sebetulnya dia enggan ngumpul bareng karena sedang terpuruk ekonominya. Di luar dugaan justru teman lamanya membutuhkan tenaga pembukuan yang dapat dipercaya. Gayung bersambut, melalui ngopi di warkop harapan yang pupus tumbuh kembali.
Bahagia dalam Kesederhanaan
Warung kopi bukan gereja dalam arti rohani. Namun, di sana bisa terjadi persekutuan yang hidup. Ketika orang saling menerima, saling menghargai satu sama lain. Sambil ngopi disertai obrolan sederhana, ada kehadiran yang tak terlihat tetapi nyata. Tuhan bisa menghadirkan damai dalam kesederhanaan yang menyentuh hati. Sejatinya tempat yang paling dekat ada di hatinya sendiri.
Kesederhanaan di warung kopi mengajarkan kita bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar. Di situlah kita belajar bahwa bahagia itu sederhana, ternyata Tuhan pun hadir dalam kesederhanaan. Beranjak dari situlah kita mengerti, bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu lahir dari kelimpahan dan gaya hidup penuh euforia dunia.Tetapi dari hati yang merasakan kehadiran Tuhan dalam keseharian.
Warkop cuma sarana jumpa muka, tidak ada istimewanya. Juga bukan karena hidup tanpa masalah, melainkan karena Immanuel – Tuhan yang beserta dengan kita. Di warung kopi kecil itu, kita belajar satu hal; carilah hadirat-Nya setiap waktu.Kesederhanaan pun menjadi indah, dan hati menjadi bahagia penuh.
Bahagia Ajaran Yesus
“Ucapan bahagia” dipakai Alkitab P.B. sebagai judul perikop Matius pasal lima.Yang menarik di ayat tiga ini: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga“.(Matius 5:3 TB2).Makarioi hoi ptōchoi tō pneumati. Hoti autōn estinhē basileia tonouranōn. Kata “makarioi” adalah Adjective, Nominative,Masculine,Plural. Kata “makarioi” dibentuk dari kata “makarios” yang artinya happy, blessed, to be envied. (Strong’s g3107).
Kata miskin yang diterjemahkan dari kataptōchoi dilanjutkan dengantō pneumati yang harafiahnya berarti dalam roh. Dalam frasa bahasa Yunani kata “ptōchoi” itu berarti sangat miskin dan sangat bergantung pada belas kasihan orang lain. Bagaikan seorang pengemis yang dirinya tidak memiliki apapun sehingga tak berdaya. Batinnya sadar bahwa ia miskin dan membutuhkan Allah sepenuhnya. Itulah totalitas ketidak berdayaan seseorang yang perlu uluran tangan Tuhan.
Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari terbitan L.A.I. tahun 1974 ditulis gamblang: “Berbahagialah orang yang merasa tidak berdaya dan hanya bergantung pada Tuhan saja: mereka adalah anggota umat Allah” (BIS).
Karena itu, istilah to pneumati (dalam roh) merujuk pada sikap batin manusia yang tidak lagi mengandalkan kebaikan dan kemampuan dirinya. Dia benar-benar bersandar pada anugerah Tuhan.
Fokus pada pribadi Yesus
Dalam bahasa Yunani kata makarios, berarti diberkati, berbahagia, hidup dalam anugerah Allah. Jadi kebahagiaan menurut Yesus bukan sekadar perasaan senang, tetapi keadaan hidup karena anugerah-Nya semata. Dalam perikop Matius pasal 5, Yesus menyapa sembilan kali dengan kata “berbahagialah” (makarioi). Sedang kata “makarios” dipakai 50 kali dalam P.B. Bisa diterjemahkan yang berbahagia, yang penuh bahagia, yang diberkati, yang penuh berkat.
Seperti lantunan lagu Nyanyian Kidung Baru (NKB) No. 129: “Indah mulia, bahagia penuh, bersandarkan Lengan yang Kekal. Damai dan berkat sungguh milikku, bersandarkan Lengan yang Kekal”. Lagu iniditerjemahkan oleh Tim Nyanyian GKI dari lagu “Leaning on the Everlasting Arms”, karya Elisha A. Hoffman dan Anthony J. Showalter.
Indah, bukan karena keadaan selalu menyenangkan. Mulia, bukan karena kondisi atau pencapaian. Bahagia penuh karena ada relasi timbal balik dengan Tuhan.Lagu ini mengingatkan kita bahwa sumber kebahagiaan sejati karena kita bersandar pada lengan Tuhan yang kekal. “Allah yang abadi adalah perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan yang kekal. (Ulangan 33:27 TB2).
Warkop boleh-boleh saja. Itu bukan tujuan, sekedar ilusi dan salah satu sarana. Sejatinya kebahagian lahir dari hati yang bersyukur ataslimpahnya anugerah Tuhan.Jangan terpukau dengan Warkopnya, tapi fokuslah pada pemberi Anugerah itu. Apakah selama ini kita mencari kebahagiaan menurut ukuran dunia? Atau memilih menurut ajaran Yesus?
Bahagia itu sederhana, tidak mengingini yang bukan haknya. Di situlah manusia terhindar dari euforia hedonismedan godaan korupsi. Karena ia telah menemukan kekayaan sejati dalam Tuhan. Dari hati yang tulus lahirlah hidup yang berintegritas dan bermakna bagi orang lain.
Hari esok belum tentu milik kita. Tapi setiap hari disyukuri karena Kasih setia dan rahmat-Nya yang selalu baru tiap pagi buat kita. In simplicitate felicitas (Dalam kesederhanaan ada kebahagiaan).



