HomeInspirasiMenapaki Jejak Gembala Agung

Menapaki Jejak Gembala Agung

“Discipleship is a long obedience in the same direction.”
(Eugene H. Peterson 1932-2018)

Pernahkah Anda memperhatikan seorang anak kecil ketika harus melewati jalan yang remang-remang atau jalan yang gelap? Secara naluriah ia akan meraih dan menggenggam tangan ayah atau ibunya lebih erat. Baginya, satu hal sudah cukup, ada orang yang ia percaya sedang menuntunnya. Demikian pula dalam kehidupan  kita.

Mengenali Suara Tuhan

Yesus berkata, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku, dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku” (Yohanes 10:27). Pernyataan ini bukan sekadar kiasan, melainkan menggambarkan relasi yang hidup antara Kristus dan setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Bagaimana seseorang dapat mengenali suara Tuhan? Semua bermula ketika ia menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Sejak saat itu, Roh Kudus diam di dalam dirinya dan membentuk kehidupan rohaninya. Salah satu cara utama Tuhan berbicara adalah melalui Firman-Nya.

Seperti komputer hanya dapat mengolah data yang telah di input ke dalamnya. Jika data itu valid, pasti kita mendapatkan output yang baik juga. Demikian pula jika hati dan pikiran kita dipenuhi oleh Firman Tuhan, Roh Kudus akan memakai Firman itu untuk menuntun keputusan, membentuk karakter, dan mengingatkan kita akan kehendak Allah pada saat yang tepat.

Kata “murid” dalam Perjanjian Baru adalah ‘mathētēs’, yang berarti seorang pembelajar, pengikut, atau orang yang terus belajar dari gurunya. Karena itu, menjadi “murid Kristus” (mathētēs Christou) bukan sekadar menyandang identitas sebagai orang Kristen. Melainkan menjalani kehidupan sebagai seorang murid yang setiap hari belajar mendengar, memahami, dan menaati gurunya. Hanya mereka yang terus mendengar suara sang Gembala yang mampu menapaki jejak-Nya dengan setia.

Guru itu yang kita sebut Gembala yang baik. Itulah pernyataan sang Guru sendiri dalam Yohanes 10:11a. “Akulah Gembala yang Baik” (Egō eimiho poimēn ho kalos). Kata gembala ditulis 18 kali di PB. Sedang kata “kalos”di sini bisa berarti: baik, mulia, indah, luhur, utama. Maka Alkitab Bahasa Jawa dituliskan: “Aku iki Pangon kang Utama”

Mengikuti Jejak-Nya

Lagu “Mengikut Yesus Keputusanku” (I Have Decided to Follow Jesus) diaransemen oleh komposer William J. Reynolds pada tahun 1959. Liriknya sebagai berikut:

I have decided to follow Jesus (3 x)
No turning back, no turning back

Though I may wander, I still will follow (3 x)
No turning back, no turning back

The world behind me, the cross before me (3 x)
No turning back, no turning back

Though none go with me, still I will follow (3x)
No turning back, no turning back

Arah pandang seorang murid adalah kepada Kristus dan salib-Nya. Salib bukan hanya lambang keselamatan, tetapi juga lambang penyangkalan diri, ketaatan dan kasih yang rela berkorban. Sedang kata “the world behind me“ berarti meninggalkan cara hidup lama yang dikuasai dosa, nilai-nilai dunia, dan segala sesuatu yang menjauhkan kita dari Allah.

Allah tidak memanggil kita untuk hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Ia memanggil kita melangkah maju dalam hidup yang baru. Paulus memberikan teladan yang indah: “Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.” (Filipi 3:13 b). Karena seluruh hidupnya berpusat pada Kristus, ia rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan nyawanya demi mewartakan Injil.

Tujuan hidupnya bukan sekadar sampai di garis akhir seorang diri, melainkan juga mengajak sebanyak mungkin orang berlari bersama menuju Kristus. Amanat Agung dalam Matius 28:19–20 bukan hanya memerintahkan orang percaya untuk bertobat, tetapi untuk “menjadikan semua bangsa murid-Nya.” Seorang murid yang terus mengikuti gurunya secara alami akan mengajak orang lain untuk mengikuti Guru kita juga.

Murid itu bukan dilahirkan, tetapi harus dijadikan. Itulah yang sering disebut pemuridan. Pemuridan bukan sekadar mengajar orang lain, melainkan hidup setia kepada sang Guru. Sehingga orang lain dapat melihat Kristus melalui kehidupan kita. Karena itu, seorang pemurid harus memiliki hati seorang gembala. Ia mengenal murid-muridnya secara pribadi, berjalan bersama mereka dalam suka dan duka. Memotivasi mereka untuk tetap setia kepada Kristus, dan mempersiapkan mereka agar kelak juga mampu memuridkan orang lain.

Hidup berfokus pada Gembala Agung

Visi harus memiliki sasaran yang jelas. Tanpa sasaran, visi hanya sebuah impian belaka. Visi menuntut perubahan pola pikir (mindset) sebelum menghasilkan perubahan pelayanan (ministry). Karena itu, setiap murid Kristus memerlukan fokus yang tertuju pada arahan Sang Gembala Agung, Yesus Kristus. Ketika mata kita tetap tertuju kepada-Nya, langkah kita tidak mudah menyimpang karena pengaruh perubahan zaman.

Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengubah cara pandang Petrus. Ia yang semula adalah seorang nelayan dipanggil bukan lagi sekadar untuk menangkap ikan, melainkan untuk menggembalakan umat Tuhan. Setelah kebangkitan-Nya, Yesus berkata kepada Petrus,  dengan tiga kata yang berbeda maknanya. Yohanes 21:15. (boske ta arnia mou). “Berilah makan anak-anak domba-Ku” Di ayat 16: (poimaine ta probata mou). “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” dan di ayat 17: (boske ta probata mou) “Berilah makan domba-domba-Ku.”

Ada perbedaan antara boskō dan poimainō. Kata poimanō bermakna menggembalakan secara menyeluruh: memimpin, menjaga, melindungi, mengarahkan, dan merawat. Kata Verba poimanō ditulis 11 kali di PB. Sedangkan kata Verba boskō (ditulis 9 kali di PB) yang artinya: memberi makan, menyediakan Firman sebagai makanan rohani. Alkitab TB2 memakai kata“peliharalah” sebagai terjemahan dinamis dan fungsional.

Yang menarik, Petrus kemudian benar-benar memahami panggilan itu. Bertahun-tahun kemudian ia menulis kepada para penatua: “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu.” (1 Petrus 5:2a). Petrus juga memakai kata Verba yang sama, poimanate, bentuk imperatif dari poimanō. Di sinilah Petrus meneruskan perintah yang dahulu ia terima langsung dari Yesus. Bahkan ayat 4 Petrus menyebut Yesus sebagai Gembala Agung – Archipoimenos dari kata Nomina Archipoimēn. Alkitab bahasa Jawa menyebut: sang Pangon Agung.

Secara umum, sebutan gembala memang lazim dipakai bagi seorang pendeta. Namun, dalam pengertian Alkitab fungsi penggembalaan tidak terbatas pada seorang pendeta saja. Setiap pemimpin yang membimbing jiwa, baik pemimpin kelompok pemuridan, maupun penatua dipanggil untuk menggembalakan orang-orang yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Lebih bijak kalau umat tidak mengkultuskan gembala, sebab hanya Kristuslah Gembala Agung. Semua pelayan gereja hanyalah gembala-gembala yang melayani di bawah otoritas-Nya dan bertanggung jawab kepada-Nya.”

Lalu jejak apa yang harus kita wujudkan meresponi Amanat Agung? Kristus telah lebih dahulu menapaki di jalan hidup-Nya. Ia telah memberi teladan. Tugas kita adalah menapaki jejak tersebut, bukan membuka jalan baru. Kepemimpinan Kristen yang sejati akan selalu mengarahkan pandangan umat kepada Gembala Agung. Hanya Dialah Kepala Gereja dan pemilik umat tebusan-Nya. Setiap langkah ketaatan, sekecil apa pun akan membawa kita semakin dekat kepada Kristus dan semakin serupa dengan Dia.

Redire ad imaginem Dei (Kembali kepada citra Allah).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments