HomeRefleksiKetika Kita yang Butuh Dinasihati

Ketika Kita yang Butuh Dinasihati

Seringkali kita hebat menjadi penasihat. Ketika ada teman sakit, kita langsung hafal daftar obat, ramuan, vitamin, sampai dokter terbaik. Saat sahabat kita mengalami putus asa, kita lancar memberi ayat, semangat, dan tips langkah-langkang untuk bangkit kembali.

Ketika orang lain tenggelam dalam masalah, kita juga dengan mudah berkata, “Sabar ya, Tuhan pasti punya rencana.”

Anehnya, ketika giliran kita yang sakit, kita justru blank. Ketika kita yang kehilangan pekerjaan, kita lupa semua nasihat yang pernah kita ucapkan. Ketika air mata kita sendiri yang jatuh, kita malah butuh orang lain yang mengingatkan: “Udah minum obat belum? Udah doa belum?”

Kesadaran kita sering terlena oleh kondisi kita sendiri. Kita terlalu fokus pada sakitnya, pada lukanya, pada masalah yang menggerogoti. Sampai-sampai solusi yang dulu kita bagikan ke orang lain, tidak kita pakai untuk diri sendiri. Akibatnya? Masalah menjadi makin lama tertangani. Luka menjadi makin dalam.

Banjir Kehidupan Sedang Datang

Hari-hari ini rasanya seperti musim banjir. Ada “banjir” tagihan, ada “banjir” kekecewaan, ada “banjir” air mata karena sakit yang tak kunjung sembuh, ada “banjir” penolakan, PHK, dan pintu-pintu yang seakan tertutup satu persatu.

Mungkin hari ini Anda duduk sendirian di teras rumah. Listrik mau mati karena token listrik belum bisa terbeli. HP terus berbunyi adanya notifikasi tagihan. Istri menghampiri dan mengingatkan, “SPP anak kita sudah nunggak tiga bulan“. Sedangkan Anda cuma bisa jawab, “Doa ya istriku…” sambil menahan air mata yang hampir jatuh.

Atau mungkin Anda baru saja pulang kerja. Tetapi hasil yang di dapat hanya bisa untuk membeli beras. Anda berusaha tegar dan tetap tersenyum ke keluarga di rumah, tapi di dalam hati bertanya: “Tuhan, aku salah apa?”

Datangnya bertubi-tubi. Sampai kita hampir lupa cara berenang menghindar dari banjir tersebut. Di titik ini iblis paling senang dan suka berbisik: “Udah, nyerah aja. Nggak ada jalan keluar. Doamu nggak didengar. Tuhan udah lupa sama kamu.”

Iman Bukan Anti Badai. Iman Adalah Jangkar di Tengah Badai

Iman tidak selalu membuat badai berhenti seketika. Tapi iman membuat kita tidak tenggelam di tengah badai. Ketika keadaan belum berubah, jangan lepaskan doa. Ketika pertolongan belum terlihat, jangan tinggalkan pengharapan. Ketika manusia mengecewakan, jangan berhenti percaya Tuhan. Ketika satu pintu tertutup, jangan buru-buru bilang “sudah tamat”.

Mungkin hari ini kamu belum melihat jalan keluarnya. Tetapi selama kamu masih berpegang pada tangan Tuhan, arus kehidupan sekuat apapun tidak akan mampu menghanyutkan Anda.

Jangan mengambil keputusan karena panik. Panik melahirkan penyesalan. Jangan menyerah hanya karena lelah. Lelah itu tanda kamu sudah berjuang, bukan tanda kamu harus berhenti. Jangan lepaskan iman hanya karena jawaban Tuhan belum datang. Keterlambatan Tuhan bukan penolakan Tuhan.

Bertahanlah, karena di depan masih ada harapan. Berdoalah terus, karena itu nafas kita menyambung hidup. Melangkahlah, karena Tuhan sedang mempersiapkan jalan keluar yang terbaik, dan percayalah: Tuhan belum selesai dengan hidupmu.

Tangan yang Lebih Kuat dari Arus

Badai dan arus kehidupan boleh deras, seolah seperti mau menenggelamkan kita. Tatapi ada satu kepastian: tangan Tuhan jauh lebih kuat untuk memegang dan menyelamatkan kita.

Tuhan tidak pernah berjanji hidup kita bebas banjir. Tapi Dia berjanji akan ada di perahu yang sama dengan kita. Ingat Petrus? Waktu dia hampir tenggelam, Yesus tidak berteriak dari jauh. Dia mengulurkan tangan dan menarik.

Hari ini, mungkin tangan yang terulur itu datang lewat teman yang tiba-tiba chat: “Kamu gapapa?”  Lewat ayat yang kebetulan kita buka. Lewat bisikan istri “yuk, jalani besama-sama dengan Kristus.” Lewat pelukan anak yang bilang, “Papa kuat ya.” Itu Tuhan. Sedang memegang Anda dan saya.

“Lelah itu tanda kamu sudah berjuang, bukan tanda kamu harus berhenti.”

Penulis Ibrani mengingatkan kita: “Sebab itu, janganlah melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya. Sebab, kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.” (Ibrani 10:35-36 TB2)

Ketekunan. Itu kuncinya.  Bukan kuat. Bukan pintar. Bukan sempurna. Tapi tetap tinggal. Tetap percaya. Tetap berpegang.

Hari ini mungkin Anda yang sedang butuh dinasihati. Mungkin Anda yang perlu diingatkan untuk “minum obat” iman: doa, firman, dan berharap. Jangan khawatir, kita semua pernah di posisi itu.

Tariklah napas Anda. Angkat wajah dengan penuh keyakinan, dan peganglah terus tangan Tuhan. Karena badai ini akan lewat. Tetapi janji Tuhan tidak pernah. Dialah penopang bagi yang hampir tenggelam.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments