SURABAYA, Majalah Berkat – Di tengah kegelisahan atas masa depan demokrasi Indonesia, Pengurus Cabang Perkumpulan Senior Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PCPS GMKI) Surabaya resmi dilantik. Pelantikan yang dirangkai dengan Seminar Kebangsaan ini digelar pada Jumat, 10 Oktober 2026 di GKI Darmo Satelit Surabaya.

Mengusung tema “Menjaga Nurani Bangsa: Panggilan Gereja dan Masyarakat Sipil dalam Menyikapi Masa Depan Demokrasi di Tengah Dominasi Oligarki dan Ancaman Otoritarianisme”, acara ini menjadi ruang konsolidasi lintas generasi dan lintas iman.
Acara diawali dengan renungan yang dipimpin Pdt. Simon Filantropha dengan bacaan Amsal 4:23.

Dalam renungannya, Pdt. Simon menyampaikan pesan yang mendalam bagi para senior GMKI.
“Jika Yesus datang ke Indonesia, Dia tidak datang ke satu tempat atau lokasi yang ada di Indonesia. Tetapi Dia datang ke ‘Hati’ setiap orang,” ujarnya.
Pesan itu menjadi pengingat bagi seluruh kader dan senior GMKI untuk selalu menjaga hati sebagai pusat nurani dalam bergerak.
Prosesi Pelantikan
Rangkaian pelantikan PCPS GMKI Surabaya berlangsung khidmat. Dimulai dengan Pembacaan SK Pelantikan, pembacaan dan pemanggilan pengurus, serta pembacaan Dewan Pembina dan Pengawas. Pelantikan dilakukan langsung oleh Sekretaris Jenderal GMKI, dilanjutkan doa pemberkatan oleh Pdt. Simon Filantropha dan prosesi penyerahan bendera Pataka kepada PCPS GMKI Surabaya.
Acara dilanjutkan dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Mars Perkumpulan Senior GMKI.
Sambutan pertama oleh Staf Ahli Bidang Politik Pemkot Surabaya, Deddy Irianto, yang mewakili Walikota, menekankan harapan agar PCPS GMKI memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. “Pendidikan, penguatan karakter generasi muda, dan ruang kolaborasi lintas generasi sangat dibutuhkan. Nilai Pancasila harus hidup dalam kehidupan bersama. Berbeda tapi tetap satu dalam persaudaraan,” katanya. Ia juga mendorong penguatan literasi yang sehat dan bertanggung jawab.
Sambutan kedua, Ketua Cabang GMKI Surabaya, Amos, mengapresiasi kolaborasi yang terjalin baik antara cabang dan para senior. Ia berharap PCPS menjadi wadah untuk meneruskan nilai-nilai perjuangan dalam bentuk aktivitas kontemporer yang relevan, termasuk gagasan yang bisa membuka lapangan pekerjaan.
Sambutan ketiga, Ketua PCPS GMKI Surabaya terlantik, Andreas Pardede, dalam orasinya menyoroti kondisi demokrasi saat ini. Menurutnya, GMKI memiliki tanggung jawab moral untuk bertindak menyuarakan kebenaran, membela hak kaum tertindas, merawat demokrasi dan melawan ketidakadilan.
Sambutan keempat, Perwakilan PNPS GMKI menekankan pentingnya koordinasi berjejaring dari pusat hingga kabupaten/kota. Ia mendorong setiap cabang GMKI menyusun program kerja yang jelas dengan strategi dan jejaring yang kuat agar gerakan pelayanan semakin kuat.
Turut memberikan sambutan perwakilan Senior GMKI Surabaya Agus Ronald dan perwakilan Ikatan Alumni Kelompok Cipayung, Agus Mahfud Fauzi, yang menyebut momentum ini sebagai titik tolak untuk perbaikan-perbaikan di dalam negeri.

Persembahan Vocal Group GMKI Surabaya turut memeriahkan suasana.

Seminar Kebangsaan: Fasad Demokrasi dan Panggilan Gereja
Sesi seminar menghadirkan diskusi yang tajam dan mendalam.
Jerry Sumampow dengan materi “Fasad Demokrasi” membedah anatomi oligarki. Menurutnya, oligarki bukan sekadar orang kaya yang berpolitik. Ancaman terbesar demokrasi hari ini tidak datang dari penolak demokrasi, melainkan dari aktor yang menggunakan institusi demokrasi untuk mengikis kualitasnya.
“Jika masa lalu pembungkaman dilakukan dengan seragam dan senjata, sensor total dan pembungkaman fisik, maka masa kini dilakukan melalui birokrasi, regulasi dan hukum,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahaya kooptasi yang mematikan independensi moral. Oligarki, kata Jerry, tidak selalu melawan masyarakat sipil dengan kekerasan. Cara paling efektif adalah dengan memberikan akses, menyibukkan masyarakat dengan urusan yang tidak penting sehingga teralihkan dari isu utama. “Mengapa oligarki menang? Bukan karena uang, tapi karena masyarakat sipil terfragmentasi sementara kekuasaan bekerja secara terkoordinasi,” tegasnya. Solusinya adalah penguatan institusi, transparansi, akuntabilitas, dan solidaritas kewargaan.
Pdt. Andri Purnawan membawakan topik “Gereja di Tengah Dominasi Oligarki dan Ancaman Otoritarianisme.” Ia menyoroti disparitas sosial sebagai masalah utama. Ada empat kelompok di atas kapal yang berbeda: yang menikmati kemakmuran, yang bekerja tapi rentan, yang tidak punya akses, dan yang tersingkir. “Kita tidak lagi hidup dalam satu dunia yang sama, melainkan dalam realitas-realitas yang semakin terpisah,” ujarnya.
Mengutip Wahyu 13:11-18, ia menyebut pendekatan otoritarianisme baru terlihat baik tetapi jahat seperti naga. Rezim memproduksi narasi. Karena itu, gereja dipanggil sebagai komunitas penafsir kebenaran dengan tiga fungsi: Profetis (membongkar apa yang ditutupi), Solidaritas (bersama kelompok rentan), dan Demokratis (literasi politik dan mengorganisasi masyarakat).
Dr. Kris Nugroho membahas fenomena backsliding democracy dan capital-based politics. Ia menjelaskan komodifikasi partai politik di mana kekuatan modal menggeser fungsi kaderisasi menjadi politisasi figur, menciptakan ketergantungan finansial dan simbiosis mutualisme dengan oligarki. “Kita tidak memiliki tradisi oposisi dan basis civil society yang kuat. Ini yang membuat backsliding democracy dan oligarch-based politics semakin sulit dibendung,” tegasnya.
Prof. Dr. Hotman Siahaan sebagai penanggap menegaskan bahwa tanpa formulasi yang kuat, perubahan tidak akan melahirkan gerakan rakyat. Ia menekankan pentingnya mendorong lahirnya creative minorities (minoritas kreatif) sebagaimana diperkenalkan Arnold Toynbee. “Minoritas kreatif inilah yang akan mendorong gerakan-gerakan perubahan,” katanya.
Hal senada disampaikan Pdt. Simon Filantropa sebagai penanggap kedua. “Demokrasi hanya alat, demokrasi sudah lelah. Selama uang itu bisa kemana-mana, maka menanglah ia. Apa saja yang gampang, nikmat, itu yang menguasai kita. Benar atau tidak menjadi tidak jelas,” ungkapnya. Ia menutup dengan penegasan, “Tujuan kita adalah mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Acara pelantikan dan seminar ini ditutup dengan komitmen bersama bahwa PCPS GMKI Surabaya siap menjadi bagian dari minoritas kreatif yang menjaga nurani bangsa. (doc-berkat)


