TAK dipungkiri Covid-19 membawa kesengsaraan kehidupan, membawa banyak korban, meninggalkan duka mendalam, melemahkan perekonomian dan menggerus iman. Dampak tersebut begitu hebatnya hingga membuat ketakutan dalam jangka waktu panjang. Apa yang bisa kita harapkan?
Ada saatnya kita tak mampu lagi melihat jalan keluar dari sebuah permasalahan. Sementara arus pergumulan makin menghempaskan kita ke tempat dimana tidak ada lagi pegangan. Bahkan mercusuar pengharapan pun tak nampak karena terhalang kabut tebal kesengsaraan.
Di saat seperti ini mungkin hanya kepasrahan yang terlintas di pikiran, tak ada lagi sedikit pun serpihan kemungkinan. Apakah ini sebuah keputusasaan? Ya, keputusasaan menjadi kalimat terakhir ketika semuanya sudah berakhir. Namun, ada sudut pandang yang seringkali kita lupakan, terlupakan karena tertumpuk kecemasan, tertumpuk oleh keegoisan, sibuk mencari pembenaran diri dan mancari kambing hitam, tak terkecuali bahkan menyalahkan sang pemberi kehidupan.
Seringkali kita juga terjebak dalam keadaan tertentu, padahal hidup adalah serangkaian keadaan itu sendiri. Ada saat keadaan kita nyaman menurut ukuran kita, ada saat merasa senang, ada saat kita takut, sedih, kecewa, cemas, terancam, dan keadaan lainnya yang merupakan siklus keadaan hidup manusia.
Jika kita tahu bahwa setiap keadaan merupakan siklus kehidupan, maka tak seharusnya lah kita menjadi putus asa ketika berada pada keadaan yang tak menyenangkan itu. Sebab keadaan apa pun yang kita alami masih ada terselip sebuah kebaikan, asal kita peka dan mau mengambil hikmatnya.
Bukankah pencipta kita sendiri maha segalanya? Maha pengasih, maha penyayang, maha pengampun, dan maha tahu, termasuk maha hadir di mana pun kita berada. Kehadiran-Nya tidak dibatasi ruang dan waktu, Dia tahu keberadaan dan segala keadaan kita. Dia bahkan menawarkan jalan keluar atas segala pergumulan yang kita hadapi.
Dialah Allah yang tidak sekedar mencipta, tetapi Allah yang memelihara dan membimbing kehidupan kita. Seperti kata pemazmur, “Engkau mengetahui kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku. (Mazmur 139:2-3; 8-10).
Sudut Pandang Tuhan
Kita tahu bahwa Tuhan ada di mana-mana, tetapi mengapa ketika pergumulan datang dan menempatkan kita dalam keadaan yang tidak baik, seringkali kita berkata, “di manakah Engkau Tuhan?” Mengapa kita tidak mau hidup saja bersama Tuhan di posisi manapun kita berada? Ketika kita merasa hidup ini berada ditepian jurang terjal, hiduplah bersama Tuhan di tempat itu, maka penyertaan-Nya akan memberi kita kekuatan dan sukacita.
Jangan melihat sudut pandang hanya dari permasalahannya saja, tetapi lihatlah sudut pandang Tuhan terhadap apa yang terjadi pada hidup kita. Sebab ketika kita mampu melihat sudut pandang Tuhan dan tetap berjalan bersama-Nya, maka keadaan apa pun tidak membuat kita hilang arah dan putus asa. Selamat menjalani hidup bersama Kristus.


