MEMBANGUN keluarga ibarat membangun sebuah kerajaan pribadi, tak seorang pun yang bisa ikut campur di dalamnya, baik itu orang tua, saudara mau pun mertua.
Allah menciptakan manusia pertama Adam dan kemudian diberikanlah Hawa sebagai pendamping hidupnya. Menunjukkan bahwa mereka menjadi sebuah keluarga. Namun, justru ketika mereka menjadi satu keluarga, mereka malah jatuh dalam dosa. Di sini jelas bahwa kekuatan sebuah keluarga sangatlah besar, potensi tersebut bisa menjadikan baik dan bisa juga buruk, karena itu tidak ada kekuatan apapun yang bisa menghalangi kolaborasi sebuah keluarga.
Dan tentu saja, satu-satunya yang bisa mempertahankan keutuhan sebuah keluarga adalah keluarga itu sendiri, bukan kawan atau teman, bukan pula tetangga maupun kolega.
Seorang istri dengan bangganya menceritakan tentang suaminya kepada rekan sekerja, “Suami saya itu baik lho, dia tidak pernah melarang aku bergaul dengan siapa pun, tidak pernah marah, tidak cemburu dan tidak cerewet saat aku pergi kemana pun aku mau. Begitu juga sikapku terhadapnya, pokoknya kami berdua saling pengertian deh,” tuturnya.
Kata pengertian sebenarnya sama artinya dengan memperhatikan satu sama lain. Memperhatikan berarti juga peduli dengan yang diperhatikan. Jika istri atau suami peduli dengan pasangannya, berarti ia harus saling memperhatikan dan otomatis mengerti apa yang dimaui pasangannya.
Jika dikaitkan dengan cerita di atas, akan bertolak belakang dengan arti pengertian tersebut. Sebab justru kesan yang diciptakan adalah tidak adanya saling peduli dan tidak saling pengertian.
Salah satu sifat manusia adalah butuh yang namanya perhatian, Jika perhatian ini dikesampingkan dengan alasan tertentu, lambat laun hubungan suami istri ini sedang menuju pada kehancuran.
Mengapa Cemburu?
Kata ”cemburu” berarti merasa tidak atau kurang senang melihat orang lain beruntung dan sebagainya. Cemburu juga mempunyai arti sirik, iri hati atau curiga. Seorang istri yang selalu curiga terhadap apa yang dilakukan suaminya, bisa berarti istri tersebut cemburu. Namun, cemburu yang berlebihan dapat merusak hubungan seseorang.
Seorang suami yang tega menganiaya istrinya gara-gara cemburu adalah salah satu kasus yang viral di media sosial. Kecemburuan yang berlebihan dan disikapi serta diselesaikan dengan cara berlebihan tentu akan berakibat fatal. Seharusnya tidak demikian jika relasi suami isteri pada kasus di atas terjalin dengan baik.
Pemicu lain seseorang menjadi cemburu yaitu adanya sikap iri hati. Iri tidak bisa diukur dengan apa pun, meski orang yang iri tersebut telah memperoleh apa yang menjadi keinginannya. Orang yang iri selalu melihat bahwa rumput tetangga lebih hijau ketimbang rumput di halaman sendiri.
Kekuatan Hati dan Mental
Membangun keluarga membutuhkan mental yang kuat, karena itu butuh persiapan matang. Seperti menghadapi pandemi Covid-19, maka dibutuhkan protokol kesehatan yang ketat disamping mejaga stamina tubuh agar selalu fit. Sadari bahwa masalah hidup justru makin berlipat saat kita sudah menikah.
Dengan siapa kita membangun sebuah keluarga adalah satu hal yang sangat penting. Meminimalkan hal-hal yang memicu kecemburuan harus dibicarakan di awal sebelum pernikahan berlangsung. Ibarat membeli rumah, jangan hanya melihat bentuk dan keindahannya saja, tetapi juga perlu melihat lokasi serta lingkungannya.
Kekuatan sebuah keluarga bukan hanya dinilai secara materi saja. Bukankah sudah banyak kasus perceraian justru terjadi pada orang-orang kaya dan terkenal? Kekuatan sebuah keluarga adalah ketika mampu mempersiapkan hati dan mental.
Tidak cemburuan bukan berarti membiarkan pasangan kita melakukan apa pun sesuai kehendak sendiri, tetapi kesadaran untuk memberi batasan pada diri sendiri bahwa masing-masing kita punya tanggungjawab menjaga perasaan pasangan. Tanggungjawab mengasihi pasangan kita seperti mengasihi diri kita sendiri.


