BERPULANGNYA orang terkasih kepada Tuhan adalah kehilangan yang amat dalam bagi hidup setiap insan. Namun, kenyataannya tak dapat dihindari oleh siapa pun juga. Kepedihan karena perpisahan dengan orang-orang yang terkasih bagaikan berada di jurang yang dalam dan tak ada seorang pun yang mampu keluar dari sana dengan sendirinya.
Kekuatan ikatan kasih sayang yang terjalin dalam kekeluargaan, persahabatan, maupun pertemanan, membuat manusia melupakan bahwa semuanya itu ada hanya karena anugerah semata. Dari manakah datangnya keluarga, sahabat, maupun teman, jikalau bukan berasal dari pemberian Tuhan?
Pergulatan Batin Abraham
Ketika Tuhan meminta Abraham untuk mempersembahkan anak kandungnya, Ishak (Kejadian 22:1-19). Ishak adalah anak yang dilahirkan Sara istrinya di masa tua mereka (Kejadian 21:2,5,7). Bagi Abraham, kehadiran seorang anak perjanjian yang dinanti-nantikan sebagai pewarisnya, adalah kebahagiaan tak terkira.
Merawat dan membesarkan Ishak tentu merupakan kesenangan dan kenikmatan yang mengisi keseharian Abraham maupun Sara. Membangun harapan di masa depan, bagi Abraham seolah menjadi ganti lamanya penantian akan kedatangan seorang anak. Selanjutnya, kebahagiaan Abraham lenyap dalam sekejap oleh perintah Tuhan untuk mempersembahkan Ishak sebagai korban di hadapan-Nya.
Bagaimana Abraham dapat mengungkapkan kesedihan hatinya? Bagaimana ia mampu bertahan jika bangunan harapan masa depannya hancur berantakan? Apa yang dapat dilakukan Abraham untuk menjelaskan kepada Sara tentang kebaikan Tuhan? Apa yang dapat diyakinkan dalam hati Abraham pribadi mengenai Tuhan yang menepati janji? Ada banyak pertanyaan yang tak dapat dijawab sendiri oleh Abraham. Pertanyaan-pertanyaan yang justru melemparkannya ke dalam jurang yang tak bertepi.
Tetapi Tuhan tetap menjadi misteri bagi siapa pun. Kehendak-Nya tak dapat diduga, rancangan-Nya sungguh menakjubkan bahkan mengejutkan. Abraham pun pasti mengalami keterkejutan, dan selanjutnya tidak mudah menata setiap keping hati yang hancur akan kesedihan. Abraham memang memahami Tuhannya yang penuh misteri. Itu sebabnya, Abraham memanggil-Nya, Tuhan. Ia memang tak dapat menjangkau pikiran-Nya.
Tapi satu hal yang Abraham ketahui bahwa Tuhannya itu, memiliki kasih yang besar, rancangan-Nya selalu benar, dan tak ada yang tak baik yang dikehendaki-Nya. Tentang bagaimana kasih yang besar, atau rancangan yang benar, atau apa yang baik yang dikehendaki itu dinyatakan-Nya, Abraham memang tak pernah tahu. Dalam ketidaktahuan itulah, ia percaya dan berharap kepada Tuhannya. Inilah yang disebut beriman.
Iman Abraham memberikan energi besar untuk mengatasi kepedihan hatinya. Iman itu pula yang memampukan Abraham menyusun kembali kepingan hatinya yang hancur. Imannya itulah yang mengarahkan Abraham menjadi taat kepada kehendak Tuhan. Sehingga Abraham mampu menjawab pertanyaan sulit yang diajukan Ishak, “. . . di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?” Yaitu bahwa Allah akan menyediakan korban bakaran bagi-Nya (Kejadian 22:7-8).
Ini bukan jawaban karena Abraham mengetahui akhir kisahnya. Ia menjawab karena meyakini bahwa Tuhan yang akan menuntaskan keputusan-Nya. Menuntaskan artinya: merawat kesedihan yang dirasakannya. Menuntaskan juga dimaksudkan memberikan jalan keluar bagi kebuntuan yang terjadi. Arti ‘menuntaskan’ bahkan melimpahkan hikmat atas ketidakmengertian, bahwa semua yang dimiliki manusia hanyalah anugerah Tuhan semata. Keyakinan Abraham membuatnya siap menerima penuntasan-Nya atas penyerahan Ishak sebagaimana dikehendaki Tuhan.
Kepercayaan Penuh
Kisah ‘penyerahan anak’ oleh Abraham tersebut sangat spektakuler. Kisah yang terus menginspirasi dari zaman ke zaman akan iman dan ketaatan. Kisah yang seharusnya menguatkan bagi setiap orang percaya saat menghadapi kehilangan akan orang-orang terkasih. Kisah agar setiap umat Tuhan menyadari bahwa orang-orang terkasih bukan miliknya, melainkan milik Tuhan yang dianugerahkan demi menggenapi rencana-Nya.
Kisah Abraham dalam Kejadian 22:1-19 adalah kisah yang menyapa, menghiburkan, dan memulihkan hati yang hancur karena kehilangan yang dikasihi. Kisah yang mengarahkan tiap insan terus merasakan kebaikan Tuhan atas kehadiran mereka yang terkasih hingga mereka kembali kepada-Nya. Kisah yang menolong umat pilihan-Nya mengingatkan apa artinya cinta, serta menghargai kehadiran cinta dan bersyukur karenanya, sebelum cinta itu pergi. Kisah iman percaya Abraham dalam hal ini meneguhkan bahwa Tuhan tidak pernah salah dalam bertindak, bahkan mulia karya-Nya, sekalipun banyak orang salah memahami dan menilai-Nya.
Dalam kepercayaan yang diperlihatkan Abraham terdapat kerelaan bersandar; juga ada keyakinan akan kuasa Tuhan; serta ketaatan untuk menerima apapun kehendak-Nya. Tentu Abraham akan lebih mudah menyatakan ketaatan ketika semua hal terlihat jelas (dengan kata lain: ia mengetahui bahwa Tuhan hanya mengujinya saja – Ibrani 11:17). Namun, faktanya justru yang dikehendaki adalah ketaatan karena tidak melihat, melainkan percaya penuh akan keindahan rancangan Tuhan Sang Juru Selamat.
Baiklah setiap orang percaya dapat melepaskan kepergian kekasih hatinya kembali pulang dengan ucapan syukur, sebab mereka telah bersanding dengan Mempelai Abadinya yaitu Yesus Kristus Sang Juru Selamat.
(Anna Mariana Poedji Christanti)


