Hidup tidaklah lepas dari pelbagai permasalahan. Ketika kita mulai mengenal Tuhan, kita senang sekali berdoa menyerahkan beban permasalahan kita ke dalam tangan Tuhan. Sesudah itu kita merasa semuanya menjadi tanggung jawab Tuhan. Benarkah semudah itu?
Sebelum kita salah mengambil langkah saat menghadapi pergumulan hidup, sebaiknya pertimbangkan dulu tiga hal ini:
Bukan Hanya Berserah, Jadilah Pemenang Dalam Tuhan
Jeffrey Rahmat, dalam kotbahnya mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah meminta kita menyerahkan beban kepada Tuhan, tetapi Tuhan meminta kita datang kepada-Nya untuk mendapat kekuatan baru, sehingga kita bisa mengatasi permasalahan sendiri dan makin dewasa rohani.
Kong Hee, dari City Harvest Church – Singapura, menceritakan saat pertama kali menjadi orang Kristen, dia berpikir bahwa setiap kali menghadapi masalah, dia bisa berteriak minta tolong kepada Tuhan, lalu Tuhan akan datang menolongnya. Tetapi seiring bertumbuhnya kedewasaan rohani, keadaannya tidak selalu demikian.
Seringkali Tuhan diam saja. Tuhan mengizinkan kita mengalami masalah dan badai dalam kehidupan kita agar kita belajar mengatasi masalah kita sendiri. Dalam kitab wahyu berkali-kali Tuhan mengatakan bahwa kita harus jadi pemenang. Kata pemenang artinya orang-orang yang menyelesaikan masalah. Kalau kita tidak bisa menyelesaikan masalah kita, maka kita tidak bisa menjadi pemenang di dalam Tuhan.
Markus 6: 45-52 menceritakan bahwa Yesus memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang. Yesus pun pergi ke bukit untuk berdoa. Pada ayat 48, ketika Yesus melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka Yesus datang kepada mereka dengan berjalan di atas air. Murid-murid berharap Yesus segera menolong mereka. Sesungguhnya Tuhan Yesus datang hanya untuk mengawasi dan memotivasi mereka, “ayo, kamu pasti bisa. . .”, agar mereka bisa memenangkan tantangan yang dihadapi.
Tuhan Yesus ingin melihat bagaimana mereka mengatasi permasalahan mereka dan menggunakan iman mereka. Tetapi ketika dilihat-Nya mereka betul-betul tidak mampu, maka Tuhan Yesus pun menolong mereka. Tuhan ingin kita belajar agar semakin maju dan kuat sehingga kita mampu mengatasi masalah hidup kita yang semakin berat. Tuhan Yesus lebih peduli perkembangan karakter kita, karena mengatasi masalah dan memberkati kita adalah masalah kecil bagi Dia.
Jangan Gampang Menghakimi, Pahami Dulu Maksud Tuhan
Saat seseorang ditimpa masalah atau kemalangan, sering dalam hati kita bertanya-tanya, “Dosa apa yang dibuatnya?” Sama seperti yang dilakukan sahabat-sahabat Ayub ketika mereka melihat begitu hebat kemalangan yang menimpa Ayub. Mereka menghakimi Ayub, mereka berpikir telah melakukan hal benar, yaitu membela Tuhan. Mereka merasa lebih tahu kehendak Tuhan dan menyuruh Ayub bertobat.
Sama seperti sahabat-sahabat Ayub, kita pun seringkali tidak mengerti apa maksud Tuhan di balik segala sesuatu yang terjadi. Manusia hanya bisa melihat sebatas pandangan matanya.
Lalu apa maksud Tuhan mengajar Ayub melalui segala kemalangan ini? Kong Hee menjelaskan bahwa semula Ayub sangat takut jika ada sesuatu yang buruk menimpa dia dan keluarganya. Maka setiap hari Ayub mempersembahkan korban dan menyembah Tuhan agar tidak ada sesuatu yang buruk menimpa dirinya, keluarganya, usahanya dan lain-lain.
Ayub begitu stress dan dengan ketakutannya yang konstan, Ayub mengerjakan segala sesuatu dengan detil agar hidupnya berjalan dengan lancar. Dengan segala ketakutannya maka secara tidak sadar Ayub sepertinya menantikan datangnya malapetaka. Kita menarik apa yang terus menerus kita pikirkan, entah itu hal yang positif maupun hal negatif!
Bukan Ketakutan, Tetapi Iman dan Ketaatan
Inti dari kisah Ayub bukanlah penderitaannya. Karena Ayub menderita hanya satu tahun dan Tuhan memberikan dua kali lipat segala sesuatu dalam hidup Ayub bahkan anaknya terkenal paling cantik di seluruh negeri.
Ayub menikmati kelimpahan sepanjang hidupnya, dia masih hidup 140 tahun setelah dipulihkan. Tuhan ingin mengeluarkan Ayub dari praktek agamawi dalam hubungannya dengan Tuhan, supaya Ayub membangun hubungan dengan Tuhan bukan berdasarkan ketakutan tetapi berdasarkan iman dan kasih.
Ayub berharap sangat besar pada korban persembahannya sehingga apa yang terjadi dalam hidupnya itu menggoncangkan dirinya. Bukankah sebagian besar agama dibangun di atas rasa takut? Takut akan nasib buruk, takut diserang iblis, takut rumah salah letak sehingga keuangan seret dan lain-lain.
Ketakutan adalah senjata iblis yang paling ampuh untuk mengalahkan orang percaya. Ketakutan mempunyai kuasa untuk menarik kita pada apa yang kita takutkan. Sebab itu iblis ingin mencengkeram kita dengan ketakutan.
ketakutan pula yang menahan langkah kita untuk maju dan melakukan hal-hal dahsyat bagi Allah. Apa yang menyebabkan orang yang menerima satu talenta menyimpan uangnya? Ketakutan! Rasa takut membuat kita menguburkan semua talenta kita.
Sedangkan iman menarik kita kepada hal positif, seperti keberhasilan, kemuliaan, kebahagiaan dan kebebasan. Dengan iman kita menarik segala kebaikan yang disediakan Allah agar terjadi dalam hidup kita.
Sejak peristiwa kemalangan itu, hubungan Ayub dengan Tuhan bertumbuh. Ayub mengenal jelas siapa Allahnya, dan hubungannya didasari oleh iman dan bukan ketakutan. Itulah yang Tuhan inginkan juga bagi kita.


