Wabah Covid-19 menimbulkan krisis disegala bidang; termasuk dalam pelayanan kesehatan.Tenaga medis harus melayani pasien dengan cara berbeda dari biasanya; mereka harus menggunakan Alat Pelindung Diri; mulai dari penutup kepala, pelindung wajah (face shield), kacamata google, masker, sarung tangan, boot, penutup sepatu dan juga baju hazmat untuk melindungi dirinya dari bahaya tertular virus tersebut.
Masalah yang tidak mudah, sebab kita tidak benar-benar siap secara ketersediaan barang maupun finansial. Tidak semua RS, klinik, fasilitas kesehatan dan para profesional medis mampu menyediakannya. Biayanya juga cukup besar; padahal tenaga medis adalah kunci penting dalam perawatan dan penanganan pasien; baik OTG, ODP, PDP maupun yang positif Covid-19. Belum lagi penyediaan rapid test, PCR, obat-obatan, desinfektan, hand sanitizer, aerosol box dan lainnya. RS sudah mulai kewalahan. .
Beberapa hari lalu saya ditanya perihal peran dokter dan RS dalam penyediaan Alat Pelindung Diri atau APD. Ada beberapa hal penting yang perlu kita ketahui bersama dalam tanya jawab itu.
T: Saya dengar kendala yang dihadapi para tenaga medis dan RS cukup berat ya dok ?
J: Benar. RS mulai kelabakan, terutama RS swasta; dana mereka terkuras untuk penyediaan APD, obat, dan lainnya sehubungan dengan Covid-19; padahal income berkurangkarena instruksi Kemenkes dan IDI mengharuskan RS untuk menangani kasus-kasus darurat saja, sehingga jumlah kunjungan pasien menurun drastis; bahkan tingkat hunian RS turun hanya sekitar 15 persen.
Sedangkan penyediaan APD untuk tenaga medis juga masih kurang dan tidak merata; padahal APD adalah baju perang mereka; sehingga tak heran ada sebagian kecil yang mundur karena baju perangnya tidak memadai. Sementara ada juga yang tetap bertempur dengan perlengkapan apa adanya. Kita sering bingung untuk menyediakannya karena selain mahal akibat adanya penjual yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan; barang nya juga sulit dicari.
T: Mengapa dokter harus ikut terlibat dalam pengadaan APD?
J: Sebab hanya dokter yang terlibat langsung lah yang faham tentang apa yang dibutuhkan. Sebab ini perang kita bersama. Tenaga medis adalah tentara yang ada dimedan tempur; sedangkan APD adalah baju perang kita; obat-obatan, tes kit ibarat peluru. Para dokter dan tenaga medislah yang mengetahui apa kebutuhanperlengkapan tempur tersebut. Kita membutuhkan penyedia perbekalan dan amunisi untuk menunjang pertempuran yang harus kita menangkan.
Tetapi sebagian besar donatur tidak faham dengan jelas perihal APD yang dibutuhkan. Masker N95 saja ada berbagai tipe; syarat baju hazmat juga ada kriterianya. Juga untuk kelengkapan APD yang lain. Sehingga harus ada komunikasi yang baik dan terus menerus antara tenaga kesehatan dilapangan dengan para donatur.
T: Saya dengar dokter sempat ikut bikin daftar RS dan klinik ?
J: Iya. Ide itu muncul karena saat itu banyak anggota grup yang bingung karena kekurangan APD; harganya juga mahal, bahkan ada dokter yang tertipu saat mencoba beli masker online. Awalnya, saya cuma mencoba menampung beberapa RS yang membutuhkan yang ada dalam grup WA saya; sebab grup Christian Medical Team dan Paguyuban Medis Jatim; cuma kelompok kecil dokter dan tenaga medis Kristen saja. Meskipun anggotanya memang berasal dari banyak daerah, tetapi daftar saya sangat sedikit dibandingkan total RS di Indonesia yang ribuan jumlahnya; belum termasuk puskesmas dan klinik swasta.
Grup WA ini rutin berkomunikasi perihal bakti sosial, bertukar informasi medis, problem yang dialami tenaga medis Kristen, dan juga sharing tentang Firman Tuhan. Anggotanya bahkan ada yang pendeta, dan aktivis sosial/gereja yang punya misi pelayanan medis.
Idealnya, harus ada pemetaan yang terperinci mengenai kebutuhan masing-masing RS. Saya bersyukur bahwa daftar kecil itu ternyata viral ke beberapa orang melalui medsos; sehingga ada orang-orang yang tak dikenal mulai tergerak untuk ikut ambil bagian dalam kepedulian. Dan daftar RS pun bertambah, bahkan beberapa RS di luar Jawa menghubungi kami.
Rekan-rekan dokter lain juga mulai ikut bikin kelompok-kelompok untuk membuat daftar tambahan. Kami berbagi tugas dan saling melengkapi. Para donatur juga memberi respon yang luar biasa; bahkan ada yang dari Jakarta dan Australia. Saya juga heran kok cepat sekali daftar itu menyebar. Bila selama ini fokus para donatur cuma pada RS yang menjadi pusat rujukan pasien Covid-19; sekarang mereka sadar bahwa RS dan Puskesmas didaerah juga perlu dibantu karena mereka adalah pintu gerbang pertama.
T: Bagaimana seharusnya para tenaga medis berperan dalam penyediaan APD ?
J: Menurut saya; kita juga harus terlibat aktif tanpa menunggu sumbangan para donatur; maupun dropping dari pemerintah. Ada beberapa APD yang bisa dibuat sendiri. Masker bisa dibikin; asal bukan masker sekualitas N95 atau N99 yang dibutuhkan di ruang isolasi. Face shield juga mudah untuk dibikin sendiri. Banyak relawan yang bisa bikin.
Sejawat di RS Mawadah, Mojokerto bisa bikin masker bedah tiga lapis dengan kain Polypropylene 25 gsm. Baju hazmat juga bisa dibikin dengan bantuan masyarakat. Sejawat saya dr. Indrayudi, mantan direktur RSUD Lumajang sempat berbincang berdua bagaimana cara bikin baju hazmat; lalu kita pelajari desainnya, bahannya; dan dalam waktu tiga hari mereka sudah produksi bersama kelompok AMS dengan target 5000 baju, dan biayanya cuma 30 ribu rupiah per baju. Menunggu bukan pilihan. Justru disaat krisis seperti inilah kreatifitas harus dikembangkan.
T: Berapa banyak masyarakat yang telah ikut berpartisipasi?
J: Banyak sekali. Saya tidak tahu angkanya. Ada dari pribadi-pribadi; kelompok PKK, organisasi kemasyarakatan, artis, gereja, masjid, lembaga sosial, lembaga keagamaan dan para profesional termasuk para desainer. Masa social distancing atau isolasi ini bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang berguna.
Seorang ibu, bercerita pada saya bahwa saat ini order baju untuk fashion menurun drastis. Bahkan banyak penjahit nganggur. EMBA yang memproduksi Celana Jeans juga cerita ke saya. Dan inilah saat nya kita memanfaatkan momen ini untuk membantu pengadaan APD bagi tenaga medis; sekaligus menolong perekonomian para penjahit. Ada banyak hal yang bisa kita kerjakan. Teman semasa saya sekolah; baik SD, SMP, SMA maupun teman kuliah ikut tergerak; bahkan dari orang yang sebelum nya tidak saya kenal. Kita dipersatukan dalam kasih dan kepedulian yang sama.
T: Apa yang mendorong dokter untuk melakukan itu?
J: Sederhana saja. Kita perlu sadar bahwa apa yang kita perbuat ataupun tidak kita perbuat dalam masa kritis ini bisa memberikan dampak bagi banyak orang termasuk diri kita sendiri. Ini seperti mata rantai, dimana semua kait mengkait.Kita tidak bisa hanya berdiam diri tanpa kepedulian. Sekecil apapun yang kita lakukan bisa berguna untuk orang lain.
Saya seorang dokter yang sudah cukup berumur; dan saya mungkin tidak berada di garis depan yang langsung merawat pasien Covid-19 di ruang isolasi; tetapi saat saya sempat menjalani masa isolasi mandiri selama 14 hari; saya melihat bahwa masih ada sesuatu yang bisa saya kerjakan untuk membantu sejawat saya yang berada di garis depan; yaitu dengan memberikan sumbangsih pikiran, mengkoordinasi pembagian APD dan mendistribusikannya.
Saya tidak boleh hanya duduk diam sementara teman-teman sejawat saya berjibaku dilapangan tanpa perlengkapan perang yang memadai. Mereka adalah saudara-saudara saya; dan saya harus ikut membantu perjuangan mereka dengan apa yang saya bisa lakukan. Dan saya ingin melakukannya bersama teman-teman saya yang juga mau ikut peduli; saya cuma salah satu mata rantai nya yang terkecil; yang tak akan mampu berbuat sesuatu tanpa orang lain; yang bahkan tidak mau disebut namanya. Ini pekerjaan bersama.
Hidup bukan tentang egoisme, tetapi tentang kebersamaan dan solidaritas. Solidaritas profesi dan solidaritas sebagai bangsa.Saya terkejut melihat antusiasme begitu banyak orang; bahkan yang tidak saya kenal sebelumnya.Ada yang menyumbang barang, uang, saran, dan juga bagaimana bisa memperoleh APD. Kita saling berbagi dan bertukar informasi; kita menjadi dekat dan saling melengkapi satu dengan lainnya.
Semoga melalui krisis ini kita semua menjadi sadar bahwa hidup itu saling membutuhkan. Bahwa pada saat kita menolong dan membantu orang lain; sebenarnya kita juga sedang menolong diri kita sendiri. Seperti kata John Templeton: Help yourself by helping others. Juga FirmanTuhan berkata: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. (Matius 22:39)
*) Christian Medical Team.
Paguyuban Medis Jatim.
Ikatan Alumni UK3 Unair.





