SETELAH ditemukan serpihan-serpihan Kapal Selam KRI Nanggala-402, maka status yang tadinya hilang kontak menjadi status tenggelam di kedalaman 850 meter. Pencarian KRI Nangggala sampai saat masih terus dilakukan, segala upaya dilakukan agar kapal segera mendapat pertolongan. Berharap semua kru kapal ditemukan dalam keadaan selamat. Itulah harapan kita semua, terlebih keluarga dari 53 awak kapal selam.
Meski Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono sampai saat ini belum mengeluarkan pernyataan karamnya kapal selam KRI Nanggala-402. Namun, asumsi beberapa orang di media sosial telah bermunculan terkait penyebab tenggelamnya kapal yang telah berusia 40 tahun tersebut.
Doa-doa dan ucapan empati pun bermunculan di pelbagai media sosial, tak terkecuali di grup-grup WhatsApp. Sebagai sesama manusia tentunya kita semua prihatin dan berharap KRI Nanggala-402 segera ditemukan dan di evakuasi.
Melalui musibah ini ada sedikit pelajaran yang bisa kita petik:
Pertama, antisipasi jauh lebih baik ketimbang penyelamatan
Dilihat secara umur, kapal selam buatan Jerman tahun 1979 ini telah uzur. KRI Nanggala sendiri hilang kontak saat melakukan latihan penembakan di wilayah perairan Bali. Meski demikian, kapal selam ini telah menjalankan tugas negara di wilayah perairan dengan baik.
Ada kalimat kesehatan mengatakan, “mencegah lebih baik dari pada mengobati.” Hal ini juga berlaku di bidang apa pun dalam kehidupan. Upaya mengobati atau menyelamatkan biasanya memakan waktu lebih lama serta menghabiskan banyak biaya. Sebab disamping sudah membawa korban juga butuh pemulihan yang tidak bisa kembali seperti semula.
Sedangkan mengantisipasi akan jauh lebih baik, karena kita bisa meminimalkan sekecil mungkin keadaan buruk yang akan terjadi. Antisipasi jelas butuh persiapan, kemauan, kedisiplinan dan ketekunan. Bukankah itulah yang harus kita lakukan dalam menjalan hidup? Kalau pun toh akhirnya mengalami hal buruk, itu benar-benar di luar kekuatan kita. Yang terpenting lakukan sebaik mungkin apa yang bisa kita lakukan.
Kedua, harus siap kehilangan
Siap atau tidak, mau atau tidak mau, kehilangan selalu ada di sekitar kita. Kehilangan orang dekat yang kita cintai memang menyakitkan. Kehilangan bisa dengan pelbagai cara, ada yang memang waktunya kehilangan, misal kehilangan orang yang telah renta ditambah sakit-sakitan. Tetapi ada yang kehilangan dengan cara tiba-tiba atau mendadak, misal kecelakaan, bencana atau sebuah penyakit yang tiba-tiba merenggut nyawa. Biasanya kehilangan yang mendadak ini menyisakan duka lebih mendalam.
Seperti kejadian yang dialami kapal selam Nanggala 402, negara harus siap kehilangan prajurit terbaiknya. Demikian juga kita, harus siap jika sewaktu-waktu kehilangan orang yang kita cintai. Karena itu kesiapan kita haruslah dibarengi dengan tindakan kita terhadap orang yang kita cintai. Apakah kita sudah melakukan yang terbaik selama kita bersama orang di sekitar kita? Sudahkah kita memberikan cinta yang tulus, sehingga orang yang kita cintai merasakan kehangatan kasih kita?
Pencarian kapal selam yang hilang adalah upaya manusia demi menyelamatkan sesama. Namun, lebih penting lagi bagaimana upaya kita, agar ketika kehilangan orang yang kita cintai, Tuhan sang sumber kehidupan kemudian berbisik, “kuatkan hatimu, kamu sudah melakukan yang terbaik.”


