KASUS kekerasan terhadap anak, baik kekerasan fisik maupun non fisik sering dialamai anak. Kekerasan itu justru banyak diterima anak-anak dilingkungan yang dianggap aman, seperti lingkungan sekolah, lingkungan rumah, maupun di keluarga sendiri.
Bentuk kekerasan pun beraneka ragam, dari kekerasan secara fisik, psikologi, seksual, penganiayaan emosional, pengabaian terhadap anak, penolakan, sikap acuh orang tua, hingga secara sosial. Wah… ternyata kok banyak ya? Namun, tidak sedikit orang tua yang menganggap kekerasan terhadap anak hanya secara fisik saja. Padahal banyak orang kepinginnya cepat-cepat jadi orang tua, punya anak tapi nggak mau repotnya. . .
“Siapa bilang jadi orang tua itu susah,” celoteh seorang ibu muda. Selidik punya selidik ternyata dua anaknya dititipkan dua susternya. Walah. . ., ternyata menganut cara orang tua jaman now. Ya, kebanyakan anak-anak mereka menjadi anak-anak outsourcing. Masalah pendidikan diserahkan kepada guru di sekolah. Bermain, belajar, dan cerita ditemani ‘suster’ nya, bahkan malam hari ketika anak hendak ke kamar kecil pun masih ditemani pembantu rumah tangganya. Huh. . ., jangan-jangan, suaminya nanti juga di outsourcing-kan juga?
Menjadi orang tua atau menjadi anak sebetulnya sama-sama belajar. Ketika saya melahirkan anak pertama, maka hanya kami bertiga tinggal di rumah. Dari situ, saya dan suami benar-benar belajar menjadi orangtua. Bagaimana tidak, ketika bayi kami menangis malam pertama setelah pulang dari rumah sakit bersalin, kami benar-benar bingung apa yang harus dilakukan. Dan banyak hal baru yang membuat kami terus belajar menjadi orang tua.
Itu berarti orang tua dituntut terus belajar menjadi orang tua yang bisa mendidik anak secara benar. Bukan hanya menuntut anak, tetapi bisa menghindarkan anak dari kekerasan seperti tersebut di atas. Bahkan tidak hanya itu lho. . . , ada lima bentuk kekerasan yang tanpa sadar dilakukan orang tua. Bentuk kekerasan itu seperti:
Pertama, tindakan yang meremehkan dan merendahkan anak. Karena tindakan ini membuat anak menjadi tidak merasa berharga untuk dikasihi dan dicintai. Kedua, orang tua yang menampakkan penolakan kepada anak, entah itu sadar maupun tidak akan berakibat membuat anak merasa tidak diinginkan.
Ketiga, adanya ketidaktarikan orang tua kepada anak, kegagalan dalam mengenali kehadiran anak, sehingga memberikan pengaruh negatif terhadap tumbuh kembang anak. Keempat, tidak diperbolehkannya anak terlibat dalam kegiatan sosial, mengurung dirumah, tidak memberikan rangsangan apa pun yang berkaitan dengan pertumbuhannya. Hal ini akan merusak kehidupan anak secara tidak langsung.
Kelima, mengasingkan anak, yaitu meninggalkan anak sendirian dalam jangka waktu yang lama, menjauhkan anak dari lingkungan keluarga, misalnya dititipkan ke saudara dan lain sebagainya. Menuntut anak untuk belajar secara berlebihan, tidak membiarkan anak memiliki teman atau berinteraksi dengan lingkungan sosial, juga merukan kekerasan terhadap anak.
Banyak orang tua menganggap jika kekerasan yang terjadi pada anak merupakan hal wajar. Mereka menganggap bahwa kekerasan merupakan bagian dari metode yang dapat mendisiplinkan anak. Padahal sudah menjadi tugas orangtua untuk bertanggung jawab mengupayakan perlindungan serta tumbuh kembang seorang anak.
Bagaimana kita sebagai orang tua mau meciptakan generasi penerus yang baik, kalau peran kita sebagai orang tua telah tergantikan? Bagaimana kita menciptakan anak-anak yang siap melayani, jika sedari kecil sudah dibiasakan dilayani? Mari kita ubah cara pandang kita yang seringkali terjebak dengan istilah jaman now yang seringkali berkonotasi negatif itu, tetapi jadilah orang tua jaman next yang mampu melakukan perubahan terhadap anak-anak kita di generasi mendatang. Kalau tidak, berarti justru orangtualah yang menjadi ancaman bagi anak.
kampaye tentang perlindungan anak sudah banyak digaungkan. Semoga kampanye yang dilakukan membawa dampak positif terutama bagi anak-anak. Mereka jadi tahu apa yang perlu dihindari, serta menyikapinya dengan tindakan nyata. Setidaknya tahu hal apa saja yang menjurus pada kekerasan anak.
Bisakah kita sebagai orang tua melakukan kampanye dalam diri masing-masing, “Kami bukan orang tua outsourcing, tetapi orang tua yang ada dan siap hadir mendampingi anak-anak.” Semoga.
(Tosca Shelomita)


