Topik mengenai generasi Strawberry banyak dibicarakan di sosial-media. Wilkipedia, secara singkat mengatakan bahwa istilah ini pertamakali muncul di Taiwan, ditujukan kepada generasi yang lahir setelah tahun 1981. Mereka digambarkan sebagai Strawberry yang rapuh, mudah putus asa dalam menghadapi tantangan hidup, bahkan ada yang mengatakan bahwa mereka itu manja, penyendiri, arogan dan malas kerja. Istilah tersebut dengan cepat tersebar ke seluruh dunia, menjadi “cap” bagi semua generasi milenial.
Masalahnya adalah, benarkah semua orang yang dilahirkan setelah tahun 1981 bermental demikian? Tentu saja tidak, bukan? Pada kenyataannya hari ini ada banyak orang muda yang menghasilkan karya-karya besar yang memberkati banyak orang. Sayangnya, “cap” itu cenderung mensugesti orang untuk menjadi seperti itu, sebab apa yang kita percayai seringkali menjadi kenyataan. Amsal 23:7a berkata: “sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri, demikianlah ia.”
Sebagai orang percaya, apa yang harus kita lakukan?
-
Tidak ikut-ikutan memberi “cap” kepada siapa pun
Tidak ada seorang pun yang layak untuk memberi “cap” kepada orang lain maupun kepada diri kita sendiri, sebab setiap orang diciptakan secara unik dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, serta diberi ruang untuk bertumbuh. Jika kita mau menyerahkan diri kepada Tuhan untuk diproses oleh-Nya, maka Tuhan akan membuat kekuatan kita dipertajam dan mengubah kelemahan kita menjadi kekuatan. Memberi “cap” sama dengan tidak percaya dan menolak pekerjaan Tuhan. Karena itu, jika kita sudah terlanjur memberi “cap” kepada seseorang, mari kita mengakui bahwa itu dosa, mohon pengampunan dari Tuhan dan bertobat.
Demikian juga jika kita sudah terlanjur mempercayai “cap” yang dikenakan kepada kita, mari kita menolak “cap” tesebut, minta Tuhan mengubah pola pikir kita, menolong kita untuk menerima diri kita apa adanya seperti Tuhan sudah menerima kita, mengenali kelebihan dan kekurangan kita secara obyektif dan bertumbuh.
-
Kenali penyebabnya dan hindari melakukan hal yang sama
Diri kita saat ini, selain bahwa kita adalah orang berdosa, kita juga banyak dipengaruhi oleh lingkungan di mana kita dibesarkan. Pola asuh yang kita dapatkan memiliki andil cukup besar untuk mematikan atau justru menyuburkan kelemahan-kelemahan kita.
Orang tua yang sangat sibuk sehingga tidak memiliki waktu yang berkualitas bersama anak-anaknya, seringkali tidak menyadari bahwa hatinya dikuasai rasa bersalah dan mereka berusaha untuk menutupinya dengan memberikan apa saja yang anak-anaknya minta, cenderung permisif dan, bukannya bekerja sama demi kebaikan anak, mereka justru melawan siapa saja, termasuk para pendidik di sekolah, yang berusaha mendisiplin anak-anaknya. Akibatnya, anak tumbuh menjadi pribadi yang maunya selalu dituruti, suka mengintimidasi dan memanipulasi orang, sangat sensitif terhadap penolakan, dan lain-lain.
Orang tua yang terlalu berambisi agar anak-anaknya menjadi nomor satu, apalagi kalau demi mencapai tujuan tersebut mereka mengerjakan hal-hal yang sebenarnya menjadi tugas anak-anaknya, tanpa sadar menjadikan anak tumbuh menjadi orang yang tidak bisa menerima kekalahan, tidak memiliki daya juang dan tidak bertanggung jawab. Orang tua yang sering bertengkar di depan anak-anak mereka, menumbuhkan rasa tidak aman, berprasangka buruk, mudah merasa dizolimi dan diperlakukan tidak adil, dan lain-lain.
Selain itu, dengan siapa atau kelompok yang bagaimana kita bergaul juga harus kita perhitungkan. Ada orang-orang yang bisa memberi pengaruh yang baik dan membangun, tetapi ada juga pribadi yang toksik, yang cenderung menyuburkan kelemahan-kelemahan kita. 1 Korintus 15:33 berkata bahwa pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.
-
Bertumbuh menjadi pribadi yang berkenan kepada Tuhan
Siapa pun kita dan bagaimana pun lingkungan kita telah memberi “cap” dan membentuk kita, kita memiliki hak dan tanggung jawab pribadi untuk memilih: menghidupinya atau menolaknya dan bertumbuh menjadi semakin kuat.
Demikian juga jika kita sudah terlanjur memberi “cap” dan mengasuh anak-anak kita dengan pola yang salah, sehingga hari ini kita menuai generasi yang lemah dan mudah patah. Jangan putus asa, sebab di dalam Tuhan kita tidak harus hidup di dalam penyesalan selamanya. Hanya saja kita perlu aware terhadap diri kita sendiri, berhenti menyalahkan siapa pun, mengakui bahwa kita telah melakukan kesalahan dalam mendidik anak-anak yang dipercayakan kepada kita, dan bahwa kita tidak bisa menghapus dan memperbaiki kesalahan kita tersebut, memohon pengampunan dan bertobat.
Kita juga perlu meminta Tuhan memberi kita kesempatan yang baik untuk berbicara dari hati ke hati dengan mereka, mengakui bahwa kita ikut andil dalam membentuk mereka, meminta maaf dan memberi diri untuk bersama-sama mereka bertumbuh menjadi pribadi yang berkenan kepada Tuhan. Pengakuan yang tulus dan kesediaan berjalan bersama memberikan dorongan yang besar untuk berani keluar dari zona nyaman yang mungkin sudah dihidupi selama ber tahun-tahun dan bertumbuh.
Kita semua adalah orang berdosa yang dalam menjalankan mandat yang diberikan Tuhan sering melakukan kesalahan, bahkan terkadang berakibat fatal. Meskipun demikian kita bersyukur karena Tuhan Yesus sudah menanggung semua dosa dan kesalahan kita serta membayar lunas semuanya dengan darah Nya.
Mari kita serahkan semuanya yang sudah terlajur terbentuk dan dengan bersandar kepada Tuhan, kita lakukan bagian kita dengan setia, maka kita akan melihat pekerjaan Tuhan yang dahsyat di dalam dan melalui diri kita. Efesus 6:10 berkata: “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.” Amin.


