HomeOpiniGereja dan Generasi Milenial

Gereja dan Generasi Milenial

TIK TOK kini menjadi tren dunia. Sekitar dua tahun yang lalu, aplikasi berbagi video (terutama video berjoget mengikuti musik) ini sempat digandrungi oleh ribuan anak-anak remaja di Indonesia, namun di saat yang sama juga dikecam ribuan bahkan puluhan ribu orang, terutama oleh orang-orang tua.

Saya masih ingat alasannya adalah video-videonya dianggap terlalu alay, tidak mendidik, menghabiskan waktu secara sia-sia, dan lain sebagainya. Karena alasan-alasan tersebut, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) RI sempat memblokir Tik Tok. “Sekitar tiga ribuan laporan masyarakat yang masuk ke kita”. Begitu ungkap Semual Abrijani Pangerapan, Dirjen Aplikasi Informatika Kemkominfo pertengahan 2018 lalu.

Bowo Alpenliebe, seorang selebriti Tik Tok yang namanya menjadi sangat populer di awal kemunculannya di Indonesia sampai memutuskan untuk keluar sekolah, dan menempuh jalur pendidikan home schooling karena gelombang bully yang ia terima. “Sekarang sih di rumah aja,” katanya 2018 lalu.

Kini, hampir dua tahun setelah Tik Tok digandrungi dan dicerca, Tik Tok berhasil kembali lagi menjadi bahan perbincangan tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Entah apa yang merasuki, kini Kemkominfo punya akun terverifikasi di Tik Tok dan Bowo tak lagi seterkenal dulu. Bukan karena ia tak lagi bermain Tik Tok, namun karena ada serbuan tokoh-tokoh publik yang kini ikut berjoget ria di jagat Tik Tok, menandingi popularitas Bowo. Mulai dari aktris Dian Sastrowardoyo, Luna Maya, penyanyi Yuni Shara, Youtuber Ria Ricis hingga Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Sandiaga Uno, dan penyair Sapardi Djoko Damono.

Fenomena ini memberi gambaran menarik tentang masyarakat Indonesia yang karakter aslinya sebenarnya suka jogetan ini. Generasi Z, Generasi Milenial, dan terutama Generasi Pra-Milenial tampaknya memang harus mengakui, tak ada gunanya melawan perubahan. Cepat atau lambat, ia akan menyisir kita semua.

Mereka yang awalnya jogetan dengan musik dangdut di kondangan harus siap berbagi ruang dengan mereka yang lebih senang jogetan plus direkam dengan lagu-lagu catchy modern. Sebelum kita khintir terkena gelombang arus perubahan ini, sebaiknya kita senantiasa menyongsongnya dengan siap siaga.

Sulitnya Melakukan Perubahan

Prof. Rhenald Kasali memomulerkan istilah disruption untuk menggambarkan serangkaian peristiwa semacam ini. Pada dasarnya ia berarti perubahan mendasar yang menerjang semua yang tak mau ikut serta mengikuti arah perubahan. Belajar pada pengalaman banyak perusahaan konvensional, sekedar diam dan tak berubah saja sudah merupakan bunuh diri di era “Inovasi Harga Mati” ini. Kata kuncinya terletak pada ‘perubahan’.

Setiap entitas yang ingin bertahan menghadapi tantangan ini, harus siap mentransformasi nilai-nilai menjadi seperangkat nilai-nilai dengan kemasan atau metode yang baru. Ia harus mampu mentransfer karakter lama ke peranti baru. Di kasus Tik Tok, itu berarti mentransfer kebiasaan joget konvensional menjadi joget plus direkam dan dipamerkan. Tak sulit, asal paham substansi yang perlu diselamatkan.

Berkali-kali kesulitan institusi-institusi mapan adalah untuk menyelamatkan substansi dari perangkap kulit dan sensasi. Prosedur-prosedur yang sudah terlanjur mapan disalahartikan menjadi substansi itu sendiri, sehingga perubahan dipersulit untuk menemukan jalan. Padahal perubahan itu penting di era ini.

Kita bicara tentang era dimana Blackberry Messenger berubah menjadi Whatsapp dalam sekejap mata, dan Facebook berubah dari sekedar alat mencari teman menjadi media Data Mining, analisis Big Data, dan bahkan medan latihan Artificial Intelligence. Kita sedang berada di era yang haus akan kecepatan, haus informasi, haus hal baru untuk dieksplorasi. Hal-hal yang harus disambut oleh institusi besar seperti gereja sebagai kesempatan untuk berkembang.

Ada puluhan bahkan ratusan ribu anak-anak muda yang menjadi wajah-wajah gereja di hadapan dunia nyata maupun maya. Anak-anak muda ini merupakan bagian penting dari berkah bonus demografi yang sedang kita alami bersama-sama. Jumlahnya banyak, masif, dan terkoneksi satu sama lain.

Potensi maha dahsyat ini dapat berjuang dan bermitra bersama gereja sebagai agen-agen kebaikan yang tersebar di pelbagai medan dan lingkungan. Ada impact besar yang menanti apabila gereja berhasil menarik minat sejumlah besar anak-anak muda ini untuk menyumbangkan kebaikan di lingkungannya masing-masing. Tentu saja harus dengan memberi ruang untuk casing atau tampilan yang berbeda-beda, sesuai karakter mereka masing-masing.

Karakter dan cara penyampaian ini tidak bisa diseragamkan satu sama lain. Ada anak muda gereja yang lebih suka bergumul dengan saudara saudara beda agama, anak anak muda gereja yang lebih suka main gitar di kala senja sambil memutar lagu-lagu indie, ada anak muda gereja yang getol memperjuangkan isu-isu feminisme di twitter, ada anak muda gereja yang merasa teralienasi oleh lingkungannya karena pendapatnya tentang LGBTQ berbeda dengan teman sebayanya, ada anak muda gereja yang lebih suka main Mobile Legend daripada sepak bola atau sebaliknya.

Kebhinekaan yang ada di antara anak-anak muda gereja ini harus dirayakan sebagai satu aset besar. Pola mereka ini bukan ancaman bagi masa depan gereja, sebaliknya mereka harus terus menerus dirangkul dengan pola komunikasi yang inklusif. Tentu tidak mudah menghadapi sekelompok besar anak-anak muda labil dengan pola pemikiran yang sangat beragam. Namun, mereka sebenarnya penuh ide-ide segar, juga punya keberanian untuk melakukan inovasi. Mereka juga biasanya punya kepedulian tinggi terhadap isu-isu yang ada di sekitarnya.

Bukankah itu saja sudah cukup untuk menjelaskan bahwa mereka punya kasih? Kelemahan mereka mungkin hanya pada persoalan pembumian aksi. Dimana mereka dapat menyalurkan potensi-potensi yang ada di mereka menjadi sumbangsih yang berdampak positif untuk lingkungan sekitar secara nyata. Disinilah gereja dapat mengambil peran sebagai fasilitator, juga pendamping agar tak ada yang lepas dari rel kasih.

Ya, kasih. Substansi hidup menggereja adalah membagi-bagikan kasih untuk sekitar, siapapun itu. Sejak dulu hingga sekarang, karakter itu menjadi mantra sakti gereja menghadapi pelbagai macam tantangan zaman. Sampai kapanpun gereja akan dapat eksis apabila kasih tetap menjadi substansinya, apapun kulit pembungkusnya. Pun sama halnya era Millenial ini tak perlu ditakuti berlebihan.

Era ini memang cepat, era ini memang menyukai perubahan, era ini memang meninggalkan siapa pun yang tak cepat beradaptasi. Namun, tak ada yang mengatakan era ini tak memberi ruang untuk kasih. Kita membutuhkan pelita gereja untuk menemani lari kencang anak-anak mudanya.

(Seno Bagaskoro, Inisiator Kaukus Pemuda Surabaya)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments