Surabaya – PGIS Kota Surabaya menggelar acara Pergelaran Seni Budaya & Eco Craft dengan tema “Harmoni yang Hilang: Dari Kehampaan Akan Kehidupan” di Graha Sawunggaling, Surabaya. (9/8/25).
Acara ini didukung oleh Pemerintah Kota Surabaya dan PT Kencana Maju Bersama, serta mengundang pelbagai pihak, termasuk Pemkot, Forkopimda, Aras, FKUB, PGPI Surabaya, Indonesia Merayakan Perbedaan, dan Mitra PGIS.
Ketua Panitia, Victor Herman, menyampaikan bahwa pergelaran seni ini menggambarkan kehampaan kehidupan manusia, kerusakan, dan ketidakpedulian akan lingkungan. Sementara itu, Ketua Umum PGIS, Claudia S. Kawengian, menekankan pentingnya konservasi alam, edukasi, dan ekonomi kreatif dalam menjaga harmoni dengan alam.

“Seni dan alam ini adalah dua hal yang saling terkait, berkelindan, saling terkoneksi. Karena itu di mana kita hidup adalah karya seni ciptaan Tuhan. Dan alam semesta mengajarkan kita seni kehidupan. Bagaimana kita hidup secara adil, cukup, bersyukur, dan bertanggung jawab,” papar Claudia.
“Kegelisahan akan kerusakan lingkungan akibat polusi yang mengancap kehidupan kita ini diekspresikan dan ditunjukkan melalui tampilan karya seni dari pelbagai arga kota. Sekaligus mengajak kita dalam upaya mengubah perilaku hidup agar tidak lagi mencemari alam, sehingga anak cucu kita masih bisa menikmati ciptaan Tuhan ini,” terang Claudia lebih lanjut.
Dalam acara ini, terdapat pemaparan dari Ecoton tentang penelitian lahan basah dan pengolahan limbah plastik, serta Noovoleum tentang pengumpulan minyak jelantah dan pengolahannya menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Pergelaran ini menampilkan berbagai pertunjukan seni, antara lain: Tari ‘Greget Sawunggaling’, sebuah tarian tradisional yang memukau, pisi “Semuanya Baik-Baik Saja” yang dibawakan oleh seniman Desemba dengan iringan musik gitar dan lagu oleh Pdt. Andri Purnawan.


Penampilan Musik Ukulele oleh Perkat Lansia dari GPIB Genta Kasih Surabaya, penampilan Angklung Hamaaloth dri GKI Darmo Satelit, Surabaya, dengan lagu “Brikanku Hati” dan “Rayuan Pulau Kelapa”.
Tak hanya itu, masih ada penampilan Karawitan Dentang Efrata, sebuah pertunjukan karawitan yang memukau. Dilanjut penampilan Band Sonax Sapora, sebuah band gabungan dari beberapa GKI di Surabaya, dengan lagu-lagu seperti “Bumi Makin Panas”, “Rumah Kecil”, dan “Rumah Kita”.

Acara diakhiri dengan sambutan Walikota Surabaya, yang diwakili oleh Staf Ahli Bidang Hukum, Maria Theresia Ekawati Rahayu. Pergelaran Seni Budaya & Eco Craft ini menjadi ajang penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan dan melestarikan alam semesta. (doc/brkt)


