Iri Hati

SUATU kali dalam obrolan santai di sebuah kedai, seorang kawan bercerita, “Enak ya si A itu,” sambil menyebut nama seseorang yang saya juga mengenalnya.
“Sudah korupsi uang perusahaan, seenaknya menggunakan fasilitas kantor, eh.., malah sekarang naik jabatan…”

Ada juga seorang ibu menceritakan temannya yang kelakuannya tidak baik, suka mengadu domba teman, suka membolak-balikkan fakta, tapi hidupnya enak, hartanya melimpah, punya suami ganteng dan anak-anak nya pun semuanya sukses.

Kedua kondisi dari cuplikan kisah di atas seringkali membuat seseorang menjadi iri hati, bukan? Kita yang sudah berusaha mati-matian dalam bekerja dan tetap menjaga kebenaran tetapi tidak bisa lebih dari orang itu.

Ya, sifat iri seseorang akan muncul ketika melihat orang lain “lebih” dari dirinya.
Kata “lebih” di sini tidak hanya lebih kaya dan lebih sukses saja. Ada orang merasa iri karena melihat orang lain lebih bahagia meski secara materi biasa saja. Iri karena melihat orang lain lebih sabar, lebih pintar, atau lebih rajin dan sebagainya.

Tetapi ada juga seseorang yang sudah punya segalanya pun bisa iri dengan orang lain yang hidupnya biasa-biasa saja. Ibarat rumput, rumput tetangga selalu terlihat lebih indah, ketimbang rumput di rumah sendiri, bukan?

Orang yang dalam hidupnya selalu diliputi rasa iri, sudah pasti kehidupannya tidak pernah tenang, dalam hatinya tidak ada rasa syukur, tidak bahagia dalam hidup, tidak pernah merasa cukup, sulit untuk berbagi, sulit menerima kegagalan, dan bagi orang seperti ini, melihat masa depan hanya sebuah bayang-bayang semu.

Karena itu ada satu nasihat yang ditulis di dalam Amsal 23:17-18, “Janganlah hatimu iri kepada orang-orang yang berdosa, tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa. Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.”

Tulisan Amsal ini juga merupakan peringatan dan janji Tuhan, yaitu sebuah kepastian akan masa depan. Nah, untuk mewujudkan masa depan penuh harapan tanpa dibayangi rasa iri, dua hal ini harus kita ingat.

Pertama, Hindari Dosa dan Takut Akan Tuhan

Dosa menjadikan kita mengabaikan Tuhan, sebab dosa adalah perbuatan yang tidak sesuai standar-Nya. Tuhan menghendaki kita menggapai masa depan dengan cara tidak berdosa. Menjadi kaya raya tidaklah salah, tetapi menggunakan cara berdosa untuk meraihnya adalah kejahatan yang dapat menghancurkan.

Karena banyak orang cemas akan masa depan dan faktor iri terhadap orang lain, lalu menggapainya dengan cara yang tidak benar. Seorang kawan lain pernah menceritakan pengalamannya ketika mendirikan usaha sebuah kafe. Karena tidak mau berbelit dalam urusan perijinan dan segala macamnya itu, Ia yang merasa kenal baik dengan pejabat tinggi di pemerintahan berhasil menekan beberapa kepala dinas agar urusanya dilancarkan (potong jalur). Usahanya memang berhasil, tetapi banyak pihak yang dirugikan dan tidak senang dengan caranya yang tidak baik tersebut.

Mungkin beberapa dari kita pernah melakukan itu meski dari hal-hal kecil, seperti mencari untung dengan menipu orang lain, menjatuhkan rekan kerja demi naik jabatan, mencari-cari kesalahan saudara sendiri demi dapat pujian orang tua, dan sebagainya.

“Takut akan Tuhan” juga bukan berarti gentar atau seram, melainkan rasa sungkan atau hormat kepada Allah. Ketika kita sungkan dan hormat kepada Tuhan, tentu kita tidak mau Tuhan mengetahui saat kita berbuat tidak benar, bukan? Takut akan Tuhan berarti melibatkan Tuhan senantiasa dalam segala hal.

Berbeda halnya dengan melupakan Tuhan yang cenderung dominan mengandalkan kekuatan diri sendiri. Takut akan Tuhan bergantung sepenuhnya pada Allah. Takut akan Tuhan cenderung ‘rendah hati’, karena menyadari bahwa keberhasilan hidupnya atas peran serta Tuhan. Tetapi melupakan Tuhan cenderung arogan, tinggi hati dan tidak mau tersaingi.

Aturan dan peringatan Tuhan ini jelas dan berlaku untuk segala hal dalam hidup kita. “Takutlah akan Tuhan senantiasa”. Di sini menunjuk kepada segala hal dalam hidup yang kita jalani, entah dalam pekerjaan, bisnis, pergaulan, keluarga dan sebagainya.

Kedua, Ada Masa Depan, Ada Harapan

Masa depan dan harapan yang dijanjikan Tuhan itu sungguh ada. Bukan hanya untuk sekedar dipercayai tetapi harus direalisasikan dalam kehidupan kita.

Anda adalah produk dari apa yang Anda percayai. Saat kita mempercayakan hidup kita hanya pada uang atau kekayaan, maka apapun yang kita lakukan selalu diukur secara materi semata.
Berbeda jika kita mempercayakan hidup kita hanya pada Yesus, maka keberadaan kita akan seperti Kristus, seperti batu karang yang tidak mudah di hempas gelombang dan topan kehidupan.

Iri hati dapat kita tepis dengan cara mempercayakan diri sepenuhnya kepada Tuhan, bukan kepada pengertian diri sendiri. Percaya di sini tidak hanya percaya saja, tetapi berhubungan dengan perbuatan kita sehari-hari yang selaras dengan Firman Tuhan dan taat akan firman-Nya. Tahukah Anda bahwa setan pun percaya kepada Allah tetapi tidak taat firman-Nya?

Iri hati juga bisa terkikis saat kita mengenal seutuhnya akan hakikat Tuhan Yang Maha Kuasa serta hakikat sebagai pribadi yang penuh dengan kelemahan. Percaya dan mengenal itulah yang membuat kita bisa terus move on dalam menggapai masa depan yang penuh harapan.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments