HomeOpiniKorupsi: Ketika Hati Menyimpang, Sistem pun Rusak

Korupsi: Ketika Hati Menyimpang, Sistem pun Rusak

Korupsi, kata ini sudah begitu akrab di telinga kita. Setiap hari media memberitakan penangkapan pejabat, skandal anggaran, atau operasi tangkap tangan. Namun, pernahkah kita bertanya: apa sebenarnya akar dari korupsi? Apakah hanya soal sistem yang lemah, hukum yang tumpul, atau ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang bersarang di relung hati manusia?

Mari menelusuri makna korupsi dari beberapa sudut pandang: asal-usul katanya, perspektif Alkitab Ibrani (Tanakh), dan realitas kontemporer di Indonesia. Pada akhirnya, kita akan sampai pada satu kesimpulan yang mungkin tak terduga: bahwa korupsi pada dasarnya adalah penyakit spiritual, dan obatnya bukan hanya penjara, tetapi transformasi hati.

Kata “korupsi” berasal dari bahasa Latin corruptio, dari akar kata: com- /cor-artinya: “bersama, menyeluruh” dan kata: rumpere,artinya:“memecahkan, merusak, menghancurkan”Jadi, secara harfiah, corruption berarti proses perusakan total, pembusukan, atau kehancuran moral. Awalnya, kata ini tidak terbatas pada urusan uang atau politik, bisa berarti makanan busuk, kayu lapuk, atau karakter yang rusak. Dari Latin, kata ini masuk ke bahasa Inggris- corruption, Belanda –corruptie, lalu diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi: korupsi.

Sayangnya, dalam penggunaan modern, makna korupsi menyempit menjadi “penyalahgunaan kekuasaan untuk keuntungan pribadi” (suap, manipulasi jabatan, penggelapan). Namun, akar katanya mengingatkan kita bahwa korupsi sesungguhnya adalah kerusakan total, bukan hanya tindakan ilegal.

Bahasa Ibrani Alkitab, adaspektrum yang lebih kaya. Menariknya, dalam bahasa Ibrani Alkitab tidak ada satu kata tunggal yang persis sama dengan “korupsi” modern. Justru ada beberapa akar kata yang melukiskan spektrum korupsi dari tindakan hingga dampaknya. Kata Ibrani שֹׁחַד – SHOKHAD (suap, tindakan korupsi, Keluaran 23:8); שָׁחַת – SHAKHAT (merusak, membusukkan – kondisi korupsi Kej. 6:12); עָוֶל – AVEL (ketidakadilan – hasil korupsi, Imamat 19:15); רָשָׁע – RASHA (orang fasik – pelaku korupsi, Amsal 17:23). Dengan demikian, korupsi dalam perspektif Ibrani bukan satu kata, tetapi sebuah proses, dari Suap (shokhad) timbul kerusakan moral (shakhat), dan muncul ketidakadilan (avel). Ini jauh lebih kaya dari pada definisi modern, karena korupsi dilihat bukan hanya sebagai pelanggaran hukum, tetapi sebagai kerusakan eksistensial dalam relasi manusia dengan Allah dan sesamanya. Dalam bahasa Ibrani modern, kata umum untuk korupsi adalah שְׁחִיתוּת – SHEKHITUT, yang berarti kebobrokan atau moral decay. Akarnya tetap ש־ח־ת – Shin-Khet-Tav – sama dengan shakhat dalam Alkitab. Seorang koruptor disebut מוּשְׁחָת – MUSHKHAT – harf: si pembusuk/si perusak.

Alkitab berbicara sangat keras tentang korupsi. Bukan hanya dalam bentuk larangan suap, tetapi juga kecaman terhadap pemimpin yang tidak adil, kritik terhadap sistem sosial yang bobrok, dan teguran para nabi yang membakar semangat. Ayat paling terkenal tentang suap adalah Keluaran 23:8: “Ve-shokhad lo tiqakh, ki ha-shokhad ye’aver piqkhim vi-salef divrey tsaddqimSuap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar.” Ayat ini mengajarkan prinsip universal: suap merusak akal sehat dan keadilan. Bahkan orang bijak sekalipun bisa menjadi buta ketika suap masuk ke dalam sistem. Inilah inti korupsi struktural.

1 Samuel 8:3 mencatat kegagalan putra-putra Samuel: “Anak-anaknya itu… menerima suap dan memutarbalikkan keadilan.” Ini adalah contoh paling awal tentang korupsi sistemik: para hakim yang seharusnya menegakkan keadilan justru menjualnya demi keuntungan pribadi. Mikha 3:11 memberikan gambaran mengerikan tentang korupsi total: “Para pemimpinnya menghakimi karena suap, imam-imamnya memberi pengajaran karena bayaran, para nabinya menenung karena uang.” Di sini, semua pilar bangsa: politik (pemimpin), agama (imam), dan spiritual (nabi) telah rusak. Tidak ada lagi tempat berlindung bagi keadilan.

Para nabi tidak hanya mengecam praktik korupsi, tetapi juga dampaknya terhadap orang miskin dan lemah. Yesaya 1:23 menyatakan: “Para pemimpinmu adalah pemberontak dan sekutu pencuri; semuanya suka suap dan mengejar sogok.” Amos 5:12 memperingatkan: “Kamu menindas orang benar, menerima suap, dan mengesampingkan orang miskin di pintu gerbang.” Korupsi, dalam perspektif nabi, adalah dosa kolektif bangsa yang mengakibatkan penindasan sosial dan ketimpangan.

Dalam kerangka Ibrani, Allah adalah שֹׁפֵטצֶדֶק – SHOFET TSEDEQ – Hakim yang adil. Maka korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi pengkhianatan terhadap perjanjian (covenant). Itulah sebabnya hukuman bagi korupsi dalam Alkitab tidak hanya denda atau penjara, tetapi hukuman Tuhan dan kehancuran bangsa.

Setelah memahami akar kata dan perspektif Alkitab, mari kita melihat realitas kontemporer di Indonesia. Sayangnya, korupsi bukanlah fenomena yang menurun. Ia justru bertransformasi menjadi lebih canggih, lebih besar, dan lebih merusak. Korupsi hari ini bukan sekedar angka, tapi pola. Sebagai contoh, skandal Pertamina (2025), melibatkan manipulasi impor minyak dan mark-up biaya. Kerugian negara diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah, ini menjadi skandal terbesar dalam sejarah Indonesia modern. Bukan lagi korupsi individu, tetapi korupsi dalam sistem strategis negara. Kasus Timah melibatkan PT. Timah dengan kerugian negara dan kerusakan lingkungan sangat besar, dengan jaringan bisnis swasta dan pejabat yang terlibat. Korupsi dana haji di kementrian agama, dan masih banyak lagi kasus yang lain. Korupsi tidak hanya merugikan ekonomi, tetapi juga merusak manusia dan alam. Sejalan dengan makna Ibrani shakhat (merusak/membusukkan).

Kita sering berharap perubahan akan datang dari hukum yang lebih keras atau pengawasan yang lebih ketat. Semua itu penting, tetapi tidak cukup. Mengapa? Karena korupsi bukan hanya masalah sistem, tapi hati. Korupsi besar selalu dimulai dari hal-hal kecil. Kompromi yang dibiarkan. Pembenaran diri yang terus diulang. Dan, normalisasi ketidakjujuran dalam keseharian Ketika hati sudah terbiasa dengan “sedikit curang,” maka member ruang bagi pelaku korupsi. Dalam tradisi Yahudi, ada istilah יֵצֶרהָרָע – YETSER HARA – kecenderungan jahat yang tidak dikendalikan. Dari sanalah segala bentuk ketidakadilan, termasuk korupsi bermula.

Dosa tidak pertama-tama dipahami sebagai pelanggaran aturan, tetapi sebagai kondisi hati yang menyimpang dari kehendak Tuhan. Korupsi adalah penyakit spiritual. Dalam dimensi teologis, korupsi adalah pemberontakan terhadap keadilan Tuhan (Kejadian 4:7; 6:5; 8:21). Dimensi antropologis, korupsi adalah kegagalan manusia mengendalikan keinginan jahatnya sendiri (yetser hara). Dalam dimensi sosial, terjadi penghancuran kepercayaan publik. Itulah sebabnya, meskipun sistem dibuat semakin canggih, tanpa integritas hati, korupsi tetap saja terjadi. Ia hanya berubah wajah, tapi tidak pernah benar-benar pergi.

Kita sering bertanya: “Apa yang bisa kita lakukan?” Pemerintah membentuk KPK, Polisi dan Jaksa melakukan OTT, pengadilan menjatuhkan vonis berat. Namun, hasilnya masih jauh dari memuaskan. Mungkin kita perlu mengubah pertanyaan: Bukan hanya “bagaimana memberantas korupsi,” tetapi “mengapa hati kita begitu mudah menyimpang?”

Dalam bahasa Ibrani, kita dipanggil untuk kembali kepada צֶדֶק – TSEDEQ – keadilan  dan אֱמֶת – EMET – kebenaran. Bukan sekadar kepatuhan lahiriah, tetapi keteraturan batin yang mencerminkan siapa kita sebenarnya. Karena pada akhirnya, bangsa yang besar tidak ditentukan oleh kekayaan sumber daya alamnya, melainkan oleh integritas moral warganya. Dan integritas itu selalu berawal dari satu tempat: hati yang tidak menyimpang. Maka, sebelum kita menuntut pejabat berintegritas, marilah kita bertanya pada diri sendiri: Apakah kita sudah jujur dalam hal sekecil apa pun? Sebab dari situlah korupsi dimulai, dan dari situlah pula kebangkitan kejujuran bisa bermula.

(Penulis adalah Lecturer in Biblical Hebrew Philosophy Israel Bible Center& STFT Jaffray Makassar)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments