HomePernak-Pernik KeluargaMenjadi Orang Tua Ideal

Menjadi Orang Tua Ideal

MENJADI orang tua adalah panggilan mulia, dan semua orang tua tentu memiliki idealisme pengasuhan anak mereka. Namun, menjadi orang tua yang ideal tidaklah mudah, karena tidak ada “sekolah” untuk menjadi orang tua.

Pola asuh orang tua sangat berperan penting dalam mengarahkan dan membimbing anaknya agar menjadi pribadi yang bisa mengambil suatu keputusan secara mandiri dan bertanggungjawab.

Sedikitnya ada tiga pola asuh yang umumnya diterapkan orang tua. Pertama, pola asuh demokratis, yaitu pola asuh yang memberi kebebasan pada anak, tetapi orang tua tetap memberikan batasan-batasan untuk mengendalikan sikap dan tindakan mereka. Keluarga dengan pola asuh demokratis dapat dijumpai pada keluarga seimbang yang ditandai keharmonisan hubungan (relasi) antara ayah dan ibu, ayah dengan anak, serta ibu dengan anak. Anak yang diasuh secara demokratis cenderung aktif, berinisiatif, tidak takut gagal karena anak diberi kesempatan untuk berdiskusi dalam pengambilan keputusan di keluarga.

Kedua, pola asuh otoriter (authoritarian parenting), penegakkan aturan yang diberikan orang tua pada anak cenderung kaku dan banyak pembatasan. Pola asuh otoriter umumnya sebagai hasil bentukan dari orang tua perfeksionis yang cenderung menekan dan menuntut anak-anaknya.

Ketiga, pola asuh permisif, yaitu pola asuh yang cenderung membolehkan, tidak ada aturan yang jelas, anak dibiarkan sesukanya, tidak ada hukuman, anak dianggap mampu belajar sendiri dari tindakannya. Dalam setiap keberhasilan tidak ada hadiah atau pun pujian, dan tidak ada kontrol.

Melalui pola asuh (parenting), orang tua diingatkan kembali tentang komitmen, tanggung jawab, serta kebutuhan mendasar yang diperlukan dalam mendidik anak. Peran efektif menjadi orang tua adalah mendidik, membimbing, mendisiplin, dan menyiapkan anak secara bertahap untuk memikul tanggung jawab penuh menuju kedewasaan.

Prinsip Alkitabiah tentang Parenting

Di dalam Alkitab, anak-anak dipandang sebagai karunia dari Tuhan. Anak-anak harus dikasihi, dihargai, dan dihormati sebagai individu, bahkan mereka penting dalam kerajaan Allah (Maz. 127:3, Mat. 18:1-6, 10).

Alkitab menyatakan bahwa tugas utama dalam mendidik anak ada pada orang tua. Sejak anak dibesarkan, peran orang tua tidak dapat diabaikan, baik pemberian nutrisi, pemeliharaan, pendidikan, dan keteladanan bagi perkembangan anak, baik untuk perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional maupun spiritual.

Pendidikan anak tidak semata-mata mengajarkan nilai-nilai kehidupan, tetapi terutama mengenal Tuhan dan kebenarannya. Semua orang tua berkewajiban mendidik dan mengajar anak-anak mereka agar hidup benar dan takut akan Tuhan, sehingga dikemudian hari mereka menjadi alat-alat Tuhan untuk menjalankan agenda kerajaan Allah di dunia.

Parenting berarti juga pelayanan, karena memperkenalkan Tuhan pada anak-anak dan menghadirkan Tuhan bagi anak-anak, sekaligus mengajarkan anak untuk memahami rencana hidupnya dalam rancangan Tuhan. Di dalam mendidik anak seharusnya orang tua lebih banyak memberi teladan kepada anak, bukan sekedar berbicara. Jadi seandainya orang tua hendak mengajarkan firman Tuhan kepada anak, mereka harus terlebih dahulu mempraktikkan dan menunjukkan kepada anak.

Setiap orang tua pasti menginginkan anak-anaknya memiliki karakter yang baik, mulai dari kecil hingga dewasa. Tetapi, mendidik anak menjadi seperti yang diharapkan orang tua bukanlah hal mudah. Ada tantangan yang harus dihadapi orang tua, tantangan itu bisa berasal dari diri orang tua sendiri, maupun dari lingkungan dan media sosial.

Konsisten Dalam Aturan Dan Keteladanan

Orangtua hendaknya konsisten dengan apa yang mereka katakan untuk menegakkan aturan dan norma kebenaran dalam rumah. tidak ada dualisme (aturan ganda) yang membingungkan anak. Bila orang tua tidak konsisten, maka anak akan berpikir bahwa setiap aturan yang diterapkan dalam rumahnya, tidak kuat dan gampang untuk dilanggar.

Di atas semua keteladanan dan didikan kepada anak, sangat penting untuk diletakkan dasar kasih. Didiklah anak dengan kasih, nasihati mereka dengan kasih, teladankan kepada mereka hubungan yang penuh kasih dengan menunjukkan cinta kasih orang tua. Bila kita gagal membangun hubungan yang penuh cinta kasih ini, maka bisa dipastikan anak-anak akan tumbuh dengan hati yang luka dan pahit.

Kekecewaan karena tidak menemukan kasih di rumah, maka mereka akan mencarinya di luar rumah. Itu sebabnya harus ada keseimbangan dalam pemberian punishment dan reward bagi anak. Karena ada orang tua yang hanya cenderung menghukum bila anak bersalah dan tidak pernah memberi pujian atau dukungan. Sebaliknya, ada juga orang tua yang cenderung memanjakan anaknya dengan berbagai reward, namun lemah dalam penegakan disiplin.

Orang tua kadang tidak percaya diri dan memiliki ketakutan akan masa depan anak. Kondisi tersebut juga diperparah dengan tuntutan yang tidak realistis dari orangtua atas prestasi studi yang merupakan beban psikologis mereka. Dunia anak-anak yang seharusnya penuh dengan tawa dan keceriaan, bisa berubah menjadi penuh tekanan. Salah satu penyebabnya adalah ambisi orang tua bahwa anak-anak mereka harus “sempurna,” sehingga menuntut anak secara berlebihan dalam berprestasi.

Orang tua hendaknya menerima anak apa adanya. Setiap anak unik, berharga, dinamis, dan dapat dididik, dilatih dan diajar dengan baik. Banyak orangtua cenderung mengabaikan apa yang anak mereka ungkapkan. Anak-anak membutuhkan perhatian, diajak berbicara, diberi kepercayaan, sentuhan, ucapan terima kasih, dan lain-lain. Itu semua adalah bentuk dari kesediaan kita sebagai orangtua untuk berbagi kepada anak.

Orang tua juga perlu menjadi pendengar yang baik bagi anak-anaknya, yang berarti menganggap bahwa anak cukup istimewa untuk menerima perhatian penuh sehingga anak dapat mengungkapkan atau menceritakan apa yang telah terjadi atau yang mereka rasakan. Biarkan mereka membangun kebiasaan berkata jujur dan terbuka tanpa rasa takut, sejak mereka kecil. Karena ini akan sangat berpengaruh ketika mereka menginjak remaja dengan pergaulan dan pengaruh dunia luar yang kompleks.

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Amsal 22:6)

(Abigail Soesana)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments