HomeJelajah KameraMensyukuri Berkat Tuhan di HUT ke-35 Majalah Berkat

Mensyukuri Berkat Tuhan di HUT ke-35 Majalah Berkat

Kamis, 21 September 2023 merupakan hari bahagia bagi Majalah Berkat yang hari itu mensyukuri Hari Ulang Tahun (HUT) ke-35. Jarang ada majalah gerejawi mempertahankan eksistensinya sebagai pewarta kabar baik sampai begitu jauh.

HUT dengan tema, “Tak Berkesudahan Berkat-Nya” ini, dihadiri Ketua Umum Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GKI, Pdt. Setyahadi; Ketua Umum Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah (BPMSW) GKI Jawa Timur, Pdt. Leonard Andrew Immanuel; Pembimas Kristen Provinsi Jawa Timur, Pdt. Luki Krispriyanto; Ketua DPD Asosiasi Pendeta Indonesia (API) Jawa Timur, Ps. Djoni Setiono; Anggota DPR-RI komisi XI, Indah Kurnia; Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Timur, Yordan M. Bataragoa.

Bermula dari Gereja Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) yang eksis tanggal 22 Pebruari 1934. Kemudian berganti nama menjadii Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jawa Timur. Di Surabaya ada GKI Jatim Surabaya yang berkantor di jalan Johar nomor 4 Surabaya. Seiring waktu GKI Jatim Surabaya mengalami perkembangan, lalu dibagi lima daerah pelayanan, yaitu GKI Jatim Surabaya daerah Sulung, Residen Sudirman, Embong Malang, Diponegoro dan Ngagel.

Mengingat pelayanan yang makin banyak, maka pada tanggal 3 April 1974 dilaksanakan kebaktian pengembangbiakan menjadi lima gereja GKI yang berotonom penuh. Untuk pelayanan di bidang penerbitan, dibentuklah Yayasan Penerbitan Berkat pada tanggal 27 November 1974.

Yayasan ini menerbitkan buku nyanyian rohani anak-anak yang dikerjakan oleh Ibu Oey Sien Nio (alm) yang waktu itu adalah Kepala Kantor Gereja. Kemudian meminta Ibu Na Kiem Hwie merevisi sekaligus menjadi ilustrator gambar untuk buku nyanyian tersebut. Dari tahun 1974 sampai dengan 1994 sudah dicetak sebanyak 216.500 buku.

Talkshow seputar sejarah berdirinya Majalah Berkat bersama Bapak Willy Purwosuwito dan Ibu Na Kiem Hwie

Kemudian tahun 1988 Yayasan Penerbitan Berkat mulai mencetak Tabloid Berkat dengan mengangkat Willy Purwosuwito sebagai Pemimpin Redaksi. Tahun 1998, yaitu sepuluh tahun kemudian mencetak Majalah Berkat yang berlangsung secara teratur sampai tahun penerbitan yang ke-24.

Tanggal 24 Juni 2012 dilaksanakan regenerasi oleh Yayasan Penerbitan Berkat dengan mengangkat Purnowo Junarso sebagai Pemimpin Redaksi dan Willy Purwosuwito sebagai Senior Editor.

Wawasan teologia BERKAT bersifat mengenal, memberi wawasan kemajemukan dalam berteologia dalam kerangka semangat ekumenis. Bersifat analisis dengan memotivasi anggota jemaat untuk berteologia. Bersifat implementasi sehingga pembaca dapat mengaktualisasikan pemahaman teologianya.

Di dalam mukadimah Tata Gereja GKI butir 10 dikatakan dalam kebersamaan yang dijiwai oleh lman Kristen tentang semangat persatuan dan kesatuan bangsa, GKI membuka diri untuk bekerjasama dan berdialog dengan gereja lain secara ekumenis serta kelompok-kelompok yang ada di dalam masyarakat guna mengusahakan kesejahteraan, keadilan, perdamaian bagi seluruh rakyat Indonesia. Beranjak dari situ kiprah majalah BERKAT banyak menjalin hubungan dengan lintas agama, suku dan budaya.

Acara diawali dengan ibadah syukur pada pukul 18.00 WIB. Ibadah yang bersifat kontemporer ini bernuansa Nusantara, karena itu votum salam dan berkat dipakai bahasa Jawa. Juga beberapa lagu berbahasa Jawa, seperti Kula Tresno Gusti Yesusdan Monggo-mongo Nderek Gusti. Semua pujian dalam ibadah diiringi oleh musik keroncong yang anggotanya terdiri dari lintas agama. Pengisi acara yang turut memeriahkan perayaan, antara lain Musik Keroncong, Tari Bedhaya, Vokal Grup Bejana Kasih GKI Ressud dan Angklung GKI Ngagel.

Tari Bedhaya

Dr. Ronny H. Mustamu, M.Mgt., CPHR., CBA. sebagai narasumber menyampaikan pemahaman pentingnya mengerti dan memilah mengenai tiga hal komponen, yaitu Atribusi (label), Aset (gelar, ijazah), dan Kapabilitas dalam menjalankan bisnis usaha apapun.

Ronny juga mengatakan, bahwa konvergensi media seringkali tidak dicermati oleh pengelola media. Disrupsi jelas di depan mata. Kalau pendapatan media turun, maka bisa dipastikan model bisnis media tersebut harus ditinjau kembali.

“Karena itu dibutuhkan “Prinsip Kebaruan”. Apakah kita membawa sesuatu yang baru? Membawa sesuatu yang baru belum tentu baru. Kalau kita biasa-biasa saja (membiasa), maka tidak pernah ada hasil yang berbeda. Maka yang harus dilakukan adalah mengubah mind set kita,” terangnya lebih lanjut.

Ketua Yayasan Penerbitan Berkat, Bambang Harianto melalui sambutannya, mengharapkan agar Majalah Berkat tetap menjadi sumber sejarah, sumber informasi sekaligus sumber bacaan yang dapat menggugah dan menumbuhkan iman percaya kita, baik sebagai jemaat maupun gereja dari GKI untuk lintas ekumene, lintas iman dan masyarakat secara luas.

Pdt. Leonard Andrew Immanuel

Sambutan Ketua Umum BPMSW GKI Jatim, Pdt. Leonard Andrew Immanuel, mengatakan bahwa pernah ada satu masa Injil dianggap tidak relevan. Yesus Kristus yang bagi Yahudi adalah batu sandungan dan bagi orang Yunani adalah kebodohan. Kalau Injil itu mengandung tidak relevan/irelevansi, mengapa kemudian Eropa menjadi Kristen dan setidaknya eropa sampai saat ini masih menjadi mayoritas di seluruh dunia?

“Mungkin, jangan-jangan yang kita butuhkan bukan hanya relevansi tapi juga demi survival BERKAT dan survival Kekristenan. Kita harus punya semacam irelevansi yang membuat BERKAT sebagai berkat dan yang membuat Kekristenan sebagai Kekristenan. Dan irelevansi itu cuma Kristen yang punya. Itu yang membuat Kekristenan lestari dan langgeng. Majalah Berkat harus punya semacam irelevansi distingtif itu,” papar Leonard.

Sedang sambutan dari Pembimas Kristen Provinsi Jawa Timur, disampaikan oleh Pdt. Dr. Luki Krispriyanto, M.Th, M.Pd., M.M. Beliau berpesan agar di tengah gempuran kemajuan teknologi seperti yang tidak ada ujungnya, selalu ada hal baru yang diciptakan termasuk dalam hal literasi keagamaan. Majalah Berkat hendaknya tetap setia memberitakan masalah toleransi umat beragama.

Pembimas Kristen Prov. Jatim, Pdt. Luki Krispriyanto

Biarlah usia 35 tahun ini makin mendewasakan Majalah Berkat dalam memberitakan kehidupan kekristenan yang menyejukan. Bahkan bisa menunjukkan kepada masyarakat bahwa kita bisa hidup toleransi. Kalau dalam Kementerian Agama dipakai istilah moderasi beragama, yaitu satu cara pandang dengan mengamalkan agama tidak dengan ekstrim.

Acara yang digelar di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Ngagel Surabaya ini, selain dihadiri oleh utusan masing-masing GKI, juga beberapa lembaga Kristen, seperti Majelis Pendidikan Kristen Wilayah (MPKW) Jawa Timur, Yayasan Trampil, Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) Jawa Timur, GMKI dan Perkantas Surabaya, serta beberapa kawan-kawan lintas agama, termasuk dari Orthodox Rusia.

Di penghujung acara, Indah Kurnia turut menyemarakkan suasana. Lagu rohani langgam keroncong berjudul “Kasih Pasti Lemah Lembut” dan “Hidup Ini Adalah Kesempatan” dilantunkan dengan gayeng. (doc/brkt).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments