HomeOpiniNilai Kuno di Masa Disruptif

Nilai Kuno di Masa Disruptif

KATA kunci yang favorit dalam era digital ini adalah disruptif (disruptive). Suatu keadaan yang tiba-tiba berbeda dengan keadaan normal sebelumnya. Saat orang terbiasa dengan pola pikir “sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”, orang berpikir bisa memulai dengan membuka warung kelontong kecil dengan cita-cita nanti bisa punya supermarket dan department store. Demikian juga, orang dulu berpikir memulai dengan punya satu atau beberapa mobil untuk bisa kemudian bercita-cita menjadi perusahaan taksi raksasa kelak di kemudian hari.

Kondisi disruptif kini bisa membawa seorang anak muda menjadi pebisnis retail skala besar dengan bisnis daring (online). Saat ini juga tiba-tiba bisa muncul bisnis taksi dan ojek daring tanpa punya mobil atau motor sendiri. Kondisi disruptif membawa perubahan yang sudah tidak sesuai dengan nalar konvensional yang kuno. Kini ada kisah terobosan yang selalu bisa dipakai. Digitalisasi dan internet menawarkan kondisi ini bagi kita semua. Disrupsi memang berarti tercabut dari akarnya. Nilai baru telah tumbuh dan muncul.

Salah satu nilai yang ditawarkan oleh Alkitab adalah ‘ketekunan dan kesabaran’, nilai yang menjadi kuno saat harus disandingkan dengan kondisi disruptif ini. Rasanya akan ada jalan disruptif untuk mencapai tujuan kita. Dan bisa jadi kita ada dalam kondisi yang mungkin menjebak kita untuk berpikir bahwa inilah disruptif itu.

Banyak orang ingin tenar dengan cepat dan mudah. Kita bisa melihat fenomena yang ada. Dalam suatu diskusi tercetus pertanyaan mengapa banyak orang yang berpendidikan tinggi, bahkan profesor yang mendukung suatu organisasi masyarakat (ormas) yang kini jadi organisasi terlarang di negara kita? Jawaban yang ada, ”Lihat saja, mereka itu sudah  berapa tahun tidak menulis jurnal dan penelitian yang kerkaitan dengan keilmuan mereka. Secara keilmuan mereka itu sudah mati. Namun, untuk bisa tetap eksis mereka itu mengambil jalan aktif di ormas yang berbau keagaaman itu”.

Ternyata bidang keagamaan bisa menyediakan jalur untuk tetap eksis. Tetap bisa dipanggil ‘Prof’ dan diakui sebagai cendekiawan walau sudah hilang dari bidang keilmuannya. Jalur keagamaan menyediakan breaktrough untuk tetap eksis. Makin radikal  pemikirannya, makin bisa dibungkus dengan kadar keimanan. Seakan-akan kita kurang beriman kalau mengandalkan ketekunan dan kesabaran akan nilai yang biasanya ada.

Agama bisa jadi jalur agar orang bisa cepat menjadi eksis, karena jalur ini ukurannya absurb, tidak jelas. Ukuran yang tidak setegas ukuran yang sekuler. Untuk diakui sebagai ahli harus buat tulisan sebanyak ini atau dipublikasikan di Jurnal sekelas itu. Standard sekuler yang ketat itu membuat banyak orang gagal meraih puncak popularitas dengan mudah. Di satu sisi, bidang keagamaan yang mudah dipelintir dan dipoles secara emosioal, bisa jadi merupakan jalur enak untuk meraih popularitas. Inikah disrupsi itu?

Di jalan yang dikatakan disruptif itu, benarkah nilai ketekunan dan kesabaran itu benar-benar sirna? Saat bisnis daring, ojol dan taksol itu dikatakan disruptif, apakah di sana tidak membutuhkan kesabaran dan ketekunan dalam mencari pelanggan? Itu di sisi pemanfaatnya.

Di sisi pencipta disruptif pertaksian itu sendiri, yang katanya untuk bisa menjadi raja taksi sudah tidak perlu lagi merintis dari punya mobil sendiri? Ternyata memang tidak perlu tekun punya satu persatu mobil, tetapi mereka harus tekun mencari ide dan mengembangkan ide mereka itu. Mereka harus tekun menyusun algoritma jutaan baris program komputer untuk bisa mendukung bisnis daring mereka itu. Mereka harus tekun melihat dan sabar menyempurnakan semua detail program penyusun aplikasi mereka.

Ternyata tidak ada nilai-nilai yang bisa dianggap kuno untuk kemudian ditinggalkan, hanya karena kita masuk di masa yang disruptif ini. Nilai yang juga buah dari keimanan kita dan buah Roh kita masih akan terus dibutuhkan, walau hadir dalam bentuk yang lain. Nilai-nilai negatif juga mungkin akan selalu muncul dengan kedok yang baru, keinginan mencari jalan pintas kesuksesan bisa juga hadir dengan kedok disruptif ini. Bagaimana menurut Anda?

(Daniel Theophilus Hage)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments