Meski di beberapa sekolah sudah memberlakukan sekolah secara tatap muka, namun masih banyak siswa yang masih mengikuti sekolah secara daring. Nah, pembelajaran secara daring ini telah membawa perubahan cukup besar.
Perubahan itu tidak hanya dirasakan oleh siswa, tetapi juga dirasakan tenaga pengajar dan para orang tua. Dampak dari perubahan tersebut menimbulkan pelbagai masalah, dari masalah ringan hingga masalah yang serius. Lantas, apa yang bisa kita lakukan agar pembelajaran secara daring ini membawa hasil maksimal?
Sebelum membahas lebih lanjut kita perlu mengetahui permasalahan yang muncul dan dirasakan oleh masing-masing pihak.
Permasalahan yang dirasakan siswa antara lain: Mengalami kejenuhan, kurang bisa konsentrasi, tugas-tugas yang diterima terlalu banyak sehingga terkesan menumpuk, dan kangen dengan suasana sekolah tatap muka. Kangen bertemu langsung dengan teman, guru dan lingkungan sekolah.
Sedangkan permasalahan yang dirasakan orang tua yaitu: Masalah kemajuan teknologi. Masih banyak orang tua yang gaptek akan teknologi saat ini, sehingga kesulitan dalam menyediakan atau pun memantau anak saat sekolah daring; kesulitan orang tua dalam membagi waktu saat memantau anaknya; kesulitan dalam memotivasi anak agar tidak jenuh serta harus menyediakan kuota lebih.
Bagi guru atau tenaga pengajar juga mengalami permasalahan antara lain: Kesulitan pada cara pengajaran. Mengajar secara daring tidak bisa disamakan saat mengajar secara tatap muka; kesulitan dalam menentukan bentuk pengajaran yang efektif dan mengena; kesulitan membuat siswa agar tertarik dan berminat pada pelajaran yang diberikan.
Permasalahan-permasalahan tersebut di atas dapat menjadi ukuran sekaligus masukan bagi para orang tua dalam mencari solusi yang tepat bagi anak-anaknya.
Kita juga harus menyadari bahwa keadaan ini merupakan akibat dari pandemi yang tidak bisa dielakkan  kita semua. Dan pembelajaran secara daring merupakan pilihan tepat agar siswa tetap bersekolah sekaligus menekan penyebaran Covid-19.
Yang menjadi pertanyaan kemudian, bagaimana caranya agar model pembelajaran secara virtual ini dapat mencapai hasil maksimal?
Tiga hal ini patut diperhatikan orang tua dan anak saat pembelajaran daring:
Pertama, Komunikasi yang Baik
Orang tua harus bisa menjalin komunikasi yang baik (dua arah) dengan anaknya. Orang tua harus bisa membuka diri agar anak berani menyampaikan isi hati dan permasalahannya selama pembelajaran daring. Dengan komunikasi yang baik diharapkan anak mendapat solusi, masukan, maupun kritik dari orang tua. Sehingga, jika anak ada permasalahan selama pembelajaran daring, orang tua diharapkan bisa peka.
Kedua, Rekan Seperjuangan
Menjadi rekan seperjuangan berarti berjuang bersama-sama dalam rangka mencapai tujuan. Ketika anak-anak tahu bahwa orang tuanya ada dan berjuang bersama, maka si anak tidak merasa sendirian saat menghadapi keadaan ini. Ia akan tetap semangat dan berusaha melakukan yang terbaik meski keadaan menuntut untuk sekolah secara daring.
Berjuang bersama bukan berarti turut campur penuh dalam pembelajaran maupun tugas-tugas anak. Orang tua cukup hadir, mendampingi serta memberi masukan, ide dan motivasi.
Ketiga, Kerjasama Tim
Orang tua, siswa, dan guru harus bisa bergerak seirama sebagai satu tim. Terutama jika ada kendala, siswa bisa berani untuk mengkomunikasikannya baik dengan guru maupun dengan orang tua. Karena keberhasilan proses pembelajaran adalah tanggung jawab orang tua, siswa, dan guru secara bersama-sama.
Jika dalam pembelajaran daring, siswa menemui suatu permasalahan, misal kendala deadline tugas-tugas diharapkan siswa bisa mengkomunikasikannya dengan guru mata pelajaran maupun guru Bimbingan Kelas (BK). Sehingga beban siswa dapat terbagi. Contoh permasalahan lain yaitu dalam hal pemilihan jurusan pendidikan lanjut. Selain mempertimbangkan dengan orang tua, siswa juga dapat meminta masukan dari guru BK. Disitulah letak kerjasama tim yang solid.
Peran orang tua terhadap anak tidak bisa terjadi secara mendadak, tidak pula pada masa-masa tertentu saja. Peran orang tua akan terlihat dan nampak terjalin dengan baik jika peran itu sudah dilakukan sedini mungkin, yaitu dimulai sejak anak lahir. Keterikatan batin yang berlangsung terus menerus akan sangat membantu relasi orang tua dan anak untuk saling memahami.
(Tosca Shelomita)


