Persekutuan doa pagi Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG) Kota Surabaya kembali digelar. Kali ini acara rutin bulanan ini diadakan di gereja GPIB Maranatha Surabaya pada 5 Agustus 2025. Acara ini dimeriahkan oleh penampilan Angklung dari GKJW Sukolilo yang memuji kasih setia Tuhan, serta pembacaan puisi yang meninggikan nama Tuhan dengan penuh kerendahan hati.
Pdt. Adrians Koedoeboen menyampaikan kotbah yang terambil dari Matius 5:13-16, yang membahas tentang identitas diri orang percaya sebagai garam dan terang dunia. Menurut Pdt. Adrians, keberadaan kita sebagai orang percaya tidak terlebas dari dunia, dan kita harus menjadi berdampak bagi dunia ini.
“Garam dan terang tidak punya arti apa-apa kalau tidak berada di dunia, Karena itu kita harus ada di tengah-tengah dunia, agar makin berarti, berguna dan bermanfaat,” paparnya.
Lebih lanjut Pdt. Adrians menjelaskan bahwa garam dan terang tidak dapat dipisahkan dari dunia. Garam digunakan sebagai pupuk yang dimaksud oelh Yesus sebagai nutrisi untuk menghasilkan pertumbuhan bagi tanaman, dan kehadiran kita sebagai orang percaya dapat membuat orang lain dicerdaskan dan berdampak bagi orang lain.
“Pertanyaannya apakah kita berdampak bagi dunia ini?” Tanya Pdt. Adrians.
Usai doa syafaat secara bergantian oleh Pdt. Samuel M Sibuea, Pdt. Caleb, Pdt. Heny, dan Pdt. Adrians, acara dilanjutkan presentasi program BAMAG yang disampaikan oleh Sekretaris Umum BAMAG, Pdt. Sinwo Susanto.
Salah satu program yang disampaikan yaitu mengadopsi kelurahan yang ada di Surabaya melalui program “Tangan Surabaya”.
“Program Tangan Surabaya ini adalah program pengentasan kemiskinan melalui UMKM dengan melakukan pelatihan dan pendampingan bagi warga miskin,” jelas Pdt. Sinwo.
“Saat ini sudah ada 116 warga miskin dari 31 kecamatan yang ada di Surabaya yang sudah mendaftar dalam program Tangan Surabaya ini,” imbuh Pdt. Sinwo. (pete/doc/brkt)



