Penampilannya cocok kalau ia disebut pemimpin. Apalagi jika sudah berbicara dalam forum rapat, orang menyebutnya “jago ngomong” dan bisa dipastikan ia organisator tulen. Sudah seabrek jabatan Ketua pernah diemban baik dalam lingkup lokal, regional, nasional bahkan sampai lingkup internasional.
Bagi yang belum kenal pribadinya, wajah yang selalu tampak serius menimbulkan kesan pribadi “sombong”. Padahal bagi yang pernah bergaul dengannya, tahu betul isi hatinya yang tulus.
Sikap keterbukaan inilah yang membuat orang makin asyik berdiskusi dengan dia tanpa berprasangka. Ia mau mengkritik orang lain, tapi ia pun senang menerima kritik. Ya, siapa lagi kalau bukan pak Abed, panggilan akrab nama Benyamin Agustinus Abednego. Dua nama tokoh Alkitab dan satu nama tokoh Bapak Gereja dirangkum untuk menggambarkan pribadi yang kuat.
Si Bungsu yang beradik Sepuluh
Karena ayahnya mengira ia anak bungsu, maka diberinya nama Benyamin ketika ia lahir tanggal 2 Nopember 1934. Eeh, ternyata masih lahir lagi sepuluh anak dari pasangan Alm. Pdt. Caleb Abednego dengan Alm. Yo Hong Nio. Jadi memang keluarga besar (KB) yang punya 15 anak. Kalau dibuat istilah anak, menantu, cucu dan cucu menantu kini bisa dihitung jumlahnya 90 orang.
Bertobat karena traktat
Kalau dilihat masa kecil Benyamin (Benny), tak ada yang mengira ia bakal menyandang jabatan pendeta. Orang tuanya sudah kewalahan mendidik anak yang dikenal “mbandel” semasa kecilnya. Tetapi doa dan kepasrahan mereka melalui bidstond keluarga telah mengantar Benny pada panggilan Tuhan pada usia 18 tahun.
Traktat berjudul “Eternity” telah mengusik batinnya untuk beberapa bulan. Kemudian ia hadir dalam “serie meeting” yang dipimpin Dr. Dzao Zse Kuang di gedung Merdeka, Bandung. Kala itulah pemuda Benny telah menyerahkan hidupnya bagi Kristus.
Berteologia
Tahun 1954 pemuda Benny diantar Pdt. M. I. Gamaliel menuju ke Sekolah Menengah Bale Wiyoto di Malang. Di situlah dia ditempa sampai selesai tahun 1958. Kesempatan yang baik dimanfaatkan untuk memperdalam bidang kepemudaan di Union Theological College, Manila tahun 1965-1966 dengan gelar B. Th. (Bachelor of Theology). Pada tahun 1971-1972 mendapat kesempatan kembali tugas belajar di Ecumenical Institute Bossey, Geneva, Swiss. Dan yang terakhir studi lanjut di South East Asia Graduate School of Theology dan meraih gelar “Doctor of Pastoral Studies” (D.P.S) pada tahun 1987.
Sekalipun jenjang pendidikan formal berhasil dilampaui, namun wawasan berteologia yang luas ini ditunjang dari hasil otodidak (pendidikan mandiri) melalui membaca. Kemana pun ia pergi, buku selalu menemaninya dengan setia. Tak ada hari terlewatkan tanpa membaca. Pantas kalau rekan-rekan dekat menjulukinya “kutu buku”. Tak heran kalau karya tulisnya telah diterbitkan dalam beberapa judul buku.
Waktu penulis menghubungi di “Guest room” GKI Residen Sudirman Surabaya, di mejanya tercecer buku-buku yang habis dibaca. Kontan, ia menyodorkan pada saya dua bukunya yang baru: Kepemimpinan Gerejawi dalam Konteks Budaya terbitan Yayasan Pusat Studi Agama dan Kebudayaan dan Jabatan Gereja Pada Masa Perjanjian Baru yang diterbitkan oleh PERSETIA. Keduanya diterbitkan pada akhir tahun 1991. Tak lupa dua majalah Dian Pustaka mengiringi kedua buku yang dikarangnya, di mana tidak ketinggalan karya tulisnya yang selalu mengusik.
Aktif dan Kreatif
Sambil kuliah ia juga aktif dalam organisasi pemuda gereja. Rupanya bakat kepemimpinan ini sudah ia miliki sejak masa pemudanya. Di sini ia terpilih sebagai Ketua, sedangkan jabatan Wakil Ketua terpilih seorang gadis bernama Olga. Memang kerjasama yang baik antara Ketua dan Wakil Ketua harus dibina seharmonis mungkin.
Rupanya kerjasama ini malah ditambah unsur kesehatian yang paling mesra yaitu cinta. Hal inilah yang telah menghantar mereka memasuki mahligai pernikahan suci. Mereka diteguhkan pernikahannya oleh Pdt. M.I. Gamaliel di GKI Jatim Malang pada tanggal 25 Juli 1959.
Tanggal 24 Maret 1960 Abed dalam usia 25 tahun ditahbiskan sebagai pendeta jemaat GKI Jabar Indramayu oleh Pdt. Clement Suleeman. Kemudian pada bulan Januari 1964 menerima panggilan jemaat GKI Jatim Surabaya. Pelayanannya di Surabaya telah memberi sumbangsih yang besar dalam bidang hukum gereja, dalam hal ini dia adalah salah satu konseptor Tata Gereja GKI Jatim tahun 1965. Dia pulalah yang ikut membidani lahirnya kelima gereja setempat GKI Jatim Surabaya yang dikembangbiakan karena struktur yang sentralis dan birokratis.
Menerima Panggilan di PPAG
Sebelum GKI Jatim Surabaya dikembangbiakkan pada tanggal 3 April 1974, dia lebih dahulu mengakhiri pelayanan di GKI Jatim Surabaya daerah Residen Sudirman. Bulan Januari 1974, tepat sepuluh tahun bergumul dengan masalah jemaat, ia menerima panggilan dari Pusat Pembinaan Anggota Gereja (PPAG) Malang sebagai tenaga Staf Pembina. Ini hanya berlangsung selama lima tahun sesuai perjanjian kerja dalam lembaga pembinaan yang dikelola DGW Jatim Balom (sekarang PGIW).
Tanggal 17 Januari 1979 diteguhkan sebagai pendeta jemaat GKI Jatim Malang. Sekali lagi ia ikut membidani lahirnya GKI Tumapel dan GKI Bromo pada tanggal 5 April 1990, yang dahulunya adalah GKI Jatim Malang yang satu. Sekaligus hari yang bersejarah itu menandai berakhirnya masa pelayanannya di ladang jemaat Tuhan selama 30 tahun.
Kini ia menyandang status sebagai Pendeta Emeritus GKI Jatim. Namun pelayanan di ladang Tuhan memang tidak pernah berakhir. Kreativitasnya dalam karya penulisan telah tersalur sebagai Anggota Dewan Pengarah Jurnal Dian Pustaka, suatu media ilmiah dan analisis yang dikelola oleh Pusat Studi Agama dan Kebudayaan Malang.
Prestasi atau prestise?
Rekan sepelayanan yang dekat tentu tahu bahwa falsafah hidupnya memang lebih menekankan prestasi daripada prestise. Walaupun itu diakuinya sebagai dua sisi yang saling timbul tenggelam. Dalam kariernya sebagai pendeta, pemimpin yang sekaligus konseptor, kedua segi ini memang sulit ditarik garis pemisahnya. Tapi tokoh dalam pelayanan selama 30 tahun yang telah dilampaui, ia berpendapat bahwa yang penting itu bukan prestise, bukan kedudukan, bukan posisi, bukan status, tetapi apa yang bisa dikarya nyatakan bagi kemuliaan Tuhan.

Perlu Media Informasi
Ia sangat mendukung penerbitan Bulletin Berkat yang dianggap sangat perlu untuk melatih jemaat agar senang membaca, apalagi kalau senang menulis. Dibandingkan dengan luar negeri, minat baca orang kita masih jauh tertinggal. Misalnya di Hongkong ia melihat orang selalu memanfaatkan waktunya dengan membaca. Mereka membaca di kendaraan umum, di kapal dan di mana saja.
Dikatakan bahwa saat ini kita sedang memasuki era gelombang informasi seperti yang digambarkan oleh Alvin Toffler. “Jemaat harus dilatih berpikir secara kritis dengan aneka informasi yang sedang mengejala. Membiasakan jemaat mengenal satu warna pandangan akan membuat mereka berpandangan sempit. Jangan terlalu kuatir dengan pandangan yang kontroversial kalau kita mau mendewasakan jemaat”, demikian sarannya kepada penulis untuk pembaca Bulletin Berkat
Menggalang Kesatuan Gereja
Hadirnya Bulletin Berkat antara lain ingin membuka alur komunikasi dan informasi antar GKI Jawa Timur khususnya dalam penghayatan keesaan gereja. Ditanya masalah polarisasi di antara pemimpin gereja, atau denominasi di Indonesia, pak Abed spontan menjawab sangat tidak menyukainya. Komentarnya tegas: “Tidak perlu membuka polarisasi antara yang ecumenical- evangelical dan kharismatik. Bukankah sebetulnya gereja seharusnya memiliki hakikat ketiganya itu secara Alkitabiah? Mengapa tidak diusahakan adanya jumpa muka diantara pimpinan gereja, kan kita ini orang Timur. Saling mengundang berbicara dalam ceramah atau persekutuan, tukar pengalaman dalam sharing akan merupakan kiat mengesakan gereja di Indonesia. Daripada saling mengkritik, apakah tidak lebih baik saling menerima kehadiran dan menghargai pandangan kelompok lain? Mengritik pihak lain sama saja dengan menelanjangi ketidakmantapan dirinya sendiri. Tugas yang Tuhan berikan kepada kita itu kok jauh banyak yang belum tertangani, jadi kita masih harus banyak bekerja keras”.
(Profil Pdt. B.A. Abednego, D.P.S. – BERKAT Edisi 16 Tahun 1992)


