HomeTokoh & ProfilMental Baja, Hati Bersahaja

Mental Baja, Hati Bersahaja

Oktober Tahun 1953, keluarga Pdt. Agustinus Joanes Obadja (Ds. Oei Liang Bie) tiba di Surabaya. Jemaat yang dilayani di adalah jemaat Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) yang berbakti di sebuah bangunan sederhana di Jalan Johar 4 Surabaya.

Tanggal 6 Januari 1954, Ds. Oei Liang Bie ditahbiskan sebagai pendeta jemaat. Boksu Oei mempunyai semangat penginjilan yang tinggi, karena pengalaman pertobatan yang indah melalui pelayanan Kebangunan Rohani Rev. Dr. John Sung pada tahun 1939.

Kerinduan hati Boksu Oei mula-mula adalah memenuhi panggilan Tuhan sebagai seorang pengabar Injil. Beliau menjalin hubungan baik dengan pendeta-pendeta di Surabaya. Hal ini memungkinkan beliau mendapatkan kemudahan untuk meminjam gedung gereja di beberapa tempat, antara lain gereja Belanda di Jalan Residen Sudirman 16 Surabaya dan gereja Inggris di Jalan Diponegoro 24 Surabaya.

Tuhan memberkati  jemaat di Surabaya dengan kedatangan Ev. Osborn dari Amerika atas undangan gereja Pantekosta, dia melayani KKR selama hampir sebulan. Pelayanan KKR di dukung oleh hampir semua gereja di Surabaya, termasuk THKTKH Johar 4. Maka terjadilah kebangunan rohani yang sungguh menakjubkan; begitu banyak jiwa yang bertobat. Pelayanan Ev. Osborn itu begitu nyata, sehingga Jalan Johar pun menerima 30  jemaat dari pelbagai kota di Jawa Tengah untuk menginap selama sebulan. Jumlah jemaat baru yang dibaptis sangatlah banyak. Kebutuhan penambahan tenaga hamba Tuhan pun mulai dirasakan.

Bersyukur kepada Tuhan karena relasi dengan gereja-gereja lain sangat baik, sehingga pendeta dari GPIB Ebenhaezer, GPIB Bubutan, GPIB Van Candik dan gereja Gereformeerd berkenan membantu melayani. Beberapa hamba Tuhan yang ikut melayani antara lain: Ds. Hardin, Ds. Mijnnen, Ds. Van der Hoek, Ds. Loupati, Ds. Susilo, Ds. Porawo dan Ds. Van Vliet.

Pada masa awal pelayanan tersebut, keluarga Boksu Oei sempat beberapa kali di kost kan, sebelum akhirnya tinggal selama hampir empat tahun di Jalan Johar 4, di belakang gedung gereja dan tepat di atasnya ada lintasan KA. Walau pun demikian Tuhan memberikan kekuatan bagi keluarganya untuk terus bertahan dan tetap melayani Tuhan.

Saat terjadi pergolakan, beberapa bangunan gereja dijual untuk gereja-gereja di Indonesia. Bangunan di Jl. Residen Sudirman 16 juga dijual kepada jemaat THKTKH yang saat itu masih di Jalan Johar 4. Penawaran pada tahun itu adalah Rp. 55.000. Bila Majelis THKTKH tidak mau membelinya, gereja Katolik Kristus Raja sudah menyatakan kesanggupan mereka untuk membelinya. Majelis Gereja setempat justru bermaksud membatalkan pembelian itu, bila harga gedung masih di atas Rp. 50.000. Akibatnya ada sedikit konflik antar majelis dan panitia karena selisih harga tersebut. Bahkan menurut Ds. Oei Liang Bie sebagai ketua panitia untuk mengundurkan diri dari jabatan sebagai gembala jemaat. Beberapa rekan berupaya keras mendamaikan perselisihan tersebut. Bapak Go Lioe Liong dan bapak Liem Teng Lok secara spontan menegaskan bahwa Boksu Oei tidak melanggar keputusan majelis, karena keputusan membeli dengan harga Rp. 55.000 adalah kesepakatan seluruh panitia pembangunan.

Tanpa perjuangan gigih yang penuh resiko itu, tak mungkin kita dapat menyaksikan GKI Ressud dapat menghuni lokasi Jl. Residen sudirman 16. Kehidupan para pendeta yang  sangat sederhana pada masa itu, kendaraan umumnya becak dan sepeda. Mengendarai sepeda motor saja, sudah merupakan sebuah kemewahan. Untuk melayani tamu luar kota yang membutuhkan mobil, ada anggota majelis yang rela meminjamkan mobilnya.

Meski sederhana, keadaan mereka masih jauh lebih baik dibandingkan pada masa pendudukan Jepang. Karena para hamba Tuhan dan jemaat waktu itu, hidup sangat menderita dan miskin. Untuk bisa makan tiga kali sehari saja sudah merupakan mujizat. Hanya sebagian kecil keluarga yang dapat menikmati makan seperti itu.

Kenyataan di atas justru mengakrabkan hubungan antar pendeta dan jemaat, bahkan sangat dirasakan hubungan yang indah bersama Tuhan. Hal ini nampak nyata dalam kehidupan jemaat yang saling mengasihi. Namun di tengah pekerjaan Tuhan yang indah ini, iblis tidak tinggal diam. Upaya iblis untuk memecah belah jemaat pun sering terjadi. Pada saat pembangunan gedung GKI Ressud akan dilaksanakan, mulai muncul beberapa hal yang memicu perselisihan. Bersyukur kalau masalah ini dapat diatasi dan pembangunan gedung gereja pun dapat berjalan.

Boksu Oei diberi karunia indah oleh Tuhan untuk melahirkan jemaat THKTKH yang kemudian menjadi jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) seperti yang kita kenal  hari ini. Sebab bila bukan karena kasih karunia-Nya, tidak mungkin dapat menjadi seorang hamba Tuhan yang tunduk pada kehendak dan pimpinan-Nya.

Pantang Menyerah

Lahir di Semarang, tanggal 24 Agustus 1921, Oei Liang Bie adalah putera sulung dari 8 bersaudara. Papa dan mama Oei Tjoe Ie, bukan orang Kristen. Kecintaannya pada Tuhan Yesus menggairahkan hati pemuda yang bersemangat ini untuk mengikuti pelayanan Dr. John Sung dari Semarang ke Surabaya. Keluarganya yang miskin tak mampu memberikan biaya transportasi. Itu bukan halangan bagi pemuda yang tidak pernah menyerah bila menghadapi kesulitan. Bersama dengan beberapa teman yang juga rindu mendengarkan Dr. John Sung, beliau memutuskan naik sepeda pancal dan menempuh perjalanan selama tiga hari dari Semarang ke Surabaya. Tuhan telah menyediakan tempat menumpang, di rumah keluarga The The Kie, Jl. Bakmi, sehingga akhirnya dapat mengikuti pelayanan Dr. John Sung selama sebulan penuh.

Sepulang dari mengikuti KKR tersebut, hatinya bertekad untuk memenuhi panggilan Tuhan sebagai penginjil. Sayangnya, karena papa Oei bukan orang Kristen, anaknya dilarang masuk sekolah theologi. Ia malah diharuskan membuka toko untuk berjualan jamu di Temanggung. Tak sanggup memenuhi kerinduan hatinya untuk segera dipersiapkan menjadi seorang penginjil, beliau akhirnya memutuskan untuk menunggu dan dengan sabar member pengertian bagi ayah yang dikasihinya. Dengan tekun ia berdoa dan berusaha memberitakan Injil pada orang tuanya.

Saat Tuhan tiba, meski jalan ini tidak diharapkan, papa tercintanya meninggal dunia. Apakah papanya sudah menerima Tuhan Yesus dalam hidupnya? Tak seorang pun tahu. Tetapi yang pasti beliau sudah berkali kali mendengar berita Injil dari mulut anaknya. Akhirnya dengan pedih hati ia segera meninggalkan tokonya dan pergi ke Yogya dan masuk ke Sekolah Theologia (sekarang STT Duta Wacana).

Saat itu keadaan STT Yogya masih sangat sederhana. Makan sehari-hari dengan nasi jagung, tempe dan sayur rebus. Masa studi beliau diakhiri dengan praktik pelayanan di Purwokerto selama tiga tahun dan di rumah keluarga Ds. Go Eng Tjoe. Ketika baliau mengambil cuti pelayanan dan pulang ke Salatiga, tahun 1947, itulah saatnya Tuhan mempertemukan beliau dengan seorang gadis yang mengasihi Tuhan sebagai guru sekolah minggu. Dia segera jatuh hati melihat gadis itu dan sebaliknya, dalam hati gadis Hoo Tien Nio ada rasa kagum dan hormat kepada pengiinjil muda yang bersemangat. Akhirnya dia memberanikan diri untuk berkenalan dengan Tien, anak ke-10 dari 14 bersaudara, keluarga Hoo Pik Biauw.

1 Januari 1951, Oei Liang Bie menikah dengan Hoo Tien Nio, dan pasangan pengantin yang saling mengasihi ini, diteguhkan oleh Ds. Tan Ik Hay di gereja THKTKH Salatiga. Boksu Oei membawa mempelainya untuk berbulan madu langsung di ladang pelayanan, yakni di jemaat Purwokerto. Pada tanggal 29 Januari 1953, lahirlah Oei Sian Hwa (Jeane Christiana Obadja). Pada tahun yang sama, datanglah bapak Oey Khoen Heng yang ditugaskan untuk mencari seorang hamba Tuhan yang melayani jemaat di THKTKH Johar, Surabaya. Jemaat Purwokerto sebenarnya sangat berkeberatan untuk merelakan gembala sidangnya meninggalkan Purwokerto. Namun kebutuhan jemaat di Surabaya yang tak mempunyai pendeta sangatlah mendesak. Maka Ds. Oei Liang Bie memutuskan untuk menerima undangan pelayanan di Surabaya.

Memimpin rapat pada persidangan Sinode

Sekitar tahun 1956 jemaat THKTKH berkembang pesat, Boksu Oei memandang perlu untuk membuka berbagai jam kebaktian di beberapa tempat. Boksu Oei menghubungi beberapa gereja antara lain, di Jl. Diponegoro 24, Jl. Residen Sudirman 16, Jl. Pregolan Bunder 36 dan Sekolah Kristen Petra, Jl. Embong Wungu 2. Demikianlah  Boksu Oei memimpin kebaktian jemaat THKTKH di beberapa tempat dengan jam kebaktian yang berbeda. Dalam jangka waktu lima tahun, jumlah anggota yang mengikuti kebaktian di gereja-gereja tersebut berkembang pesat.

Bertepatan pada saat Boksu Oei membuka kebaktian pukul 06.00 pagi di gedung gereja Pregolan Bunder 36, Ds. Hanye, seorang dominee Belanda yang menghuni rumah Jl. Pregolan Bunder 38-40, harus segera pulang ke Belanda dan menyerahkan hak tinggal di rumah tersebut kepada Ds. Oei Liang Bie. Dengan persetujuan pemilik rumah yakni bapak Zakharia, akhirnya bulan Maret 1958, Boksu Oei sekeluarga pindah rumah dari Johar ke Pregolan Bunder. Bersyukur karena berkat Tuhan sungguh menikmati rumah itu, karena itu berarti menikmati hari tenang.

Tahun 1958, bersamaan dengan THKTKH sudah berubah nama menjadi Gereja Kristen Indonesia, Ds. Han Bing Kong tiba di Surabaya serta menjadi konsulen untuk jemaat Gereja Gereformeerd Surabaya (GGS). Waktu itu jumlah jemaat hanya 25 orang, karena banyak anggota jemaat yang pulang ke negaranya, Ds. Mijnnen melakukan percakapan enam mata dengan Ds. Oei Liang Bie dan TT. Oei Koen Heng, dan mempercayakan jemaat GGS kepada GKI Johar. Penyerahan gereja tersebut ditindaklanjuti dalam rapat majelis GGS dan GKI Johar.

Sementara itu pelayanan Boksu Oei untuk jemaat GKI yang meminjam gedung GGS berkembang pesat. Melihat potensi perkembangan jemaat, majelis GGS merencanakan untuk mengundang Ds. Tan King Hien dan akan memulai kebaktian bahasa Indonesia pk. 07.00 untuk jemaat GGS sendiri. Hal ini memicu kerancuan, mengingat sudah diadakannya kebaktian pk. 06.00 pagi bagi jemaat GKI yang dilayani Boksu Oei. Majelis tetap pada keputusan untuk membuka kebaktian sendiri dan berharap Boksu Tan dapat menggembalakan jemaat tersebut. Namun rencana majelis GGS untuk mengundang Boksu Tan akhirnya gagal, karena puteranya meninggal, dua hari sebelum keberangkatannya ke Surabaya dan beliau membatalkan kesediaan melayani di GGS.

Di luar dugaan, ternyata majelis GGS tetap sepakat untuk memulai pelayanan jemaat berbahasa Indonesia dan mengalihkan penggilan mereka kepada Boksu Oei. Sudah dapat dipastikan bahwa dengan menerima uandangan pelayanan tersebut, bakal memunculkan tanggapan pro dan kontra, terutama dari pihak yang ditinggalkan. Dalam pergumulan pribadinya, Boksu Oei akhirnya memutuskan menerima undangan malayani GGS, karena ada perjanjian satu bulan dalam setahun cuti untuk penginjilan (Serie-Meting). Setelah hampir 10 tahun Boksu Oei melayani jemaat THKTKH Johar, (menjadi GKI, 1958), maka mulai 1963, beliau melayani jemaat Gereja Gereformeerd Surabaya, di Jl. Pregolan Bunder 36 (sekarang GKI Pregolan Bunder).

Seiring dengan pertumbuhan jemaat yang sangat baik, ternyata kerinduan hati Boksu Oei untuk melakukan penginjilan dan KKR, tetap berkobar-kobar. Namun sebaliknya, melihat  jumlah jemaat semakin besar, majelis justru meminta beliau untuk lebih mengutamakan pelayanan penggembalaan jemaat dan tidak melakukan penginjilan dalam bentuk KKR di luar jemaat GGS. Permintaan majelis memunculkan pergumulan yang sangat hebat dalam diri hamba-Nya. Panggilan penginjilan dan penggembalaan merupakan dua hal yang tak terpisahkan dalam hidup beliau. Bagaimana mungkin Boksu Oei menghentikan pelayanan KKR selama satu bulan setiap tahun itu, yang telah dilakukan sejak 1963? Bila beliau juga sangat mencintai jemaat yang sudah dilayani dan digembalakannya selama 6 tahun itu, mengapa beliau harus dihadapkan pada pilihan pelik ini? Akhirnya, setelah menyakini kehendak Tuhan untuk beliau tetap melakukan pelayanan Serie-Meting, Boksu Oei mengutarakan keputusannya. Karena majelis berseberangan pendapat, maka keputusan tersebut membuat beliau dibebas tugaskan dari jabatannya sebagai gembala jemaat dan majelis memanggil hamba Tuhan lain untuk menggantikan beliau.

Ds. Oei Liang Bie adalah seorang hamba Tuhan yang merintis dan mengembangkan jemaat di GKI Surabaya, yang selain memiliki panggilan sebagai gembala jemaat, juga tidak mungkin dapat melepaskan visi misi penginjilan Serie-Meting nya di mana saja beliau diundang, dan beliau harus menerima kenyataan, bahwa kedua panggilan itu ternyata tak dapat berjalan bersama-sama di GGS.

“Jalan hidup tak selalu tanpa kabut yang pekat. Namun kasih Tuhan nyata pada waktu yang tepat”. Pada tahun yang sama, Boksu Oei menerima undangan pelayanan penginjilan bukan hanya di dalam tetapi juga di luar negeri. Beliau diundang oleh Dr. John Haggai sebagai pekabar Injil di beberapa negara. Inikah jalan-Mu, Tuhan? Kalau sebelumnya, Boksu Oei mempunyai kesempatan Serie-Meting di beberapa kota di Indonesia hanya selama kurang lebih satu bulan setiap tahunnya, kini beliau dapat memberitakan Injil Kristus, selama dua bulan selama empat bulan sekali.

Keluarga Pdt. A.J. Obadja yang setia memberitakan Injil Yesus Kristus

Keluarga yang ditinggalkan selama beliau melakukan perjalanan Serie-Metingnya, menggantungkan kebutuhan hidup mereka pada anugerah Tuhan. Tuhan mencukupkan dengah pelbagai macam cara dan pekerjaan indah yang dikerjakan oleh ibu Hanna, istri beliau yang tabah, setia dan beriman teguh dalam Tuhan. Kelima anak mereka yaitu, Jeane, Lydia, Magdalena, Gideon dan Rachel mengalami banyak pelajaran dan pengalaman rohani yang indah, melaluiu hidup beriman dan bergantung pada Tuhan. “Habis hujan tampak pelangi, sebagai janji Tuhan yang teguh. Di balik duka menanti pelangi kasih Tuhanku.

Perjalanan seorang hamba Yahweh (sesuai arti nama “Obadja” yang dipilihnya sendiri), memang ditentukan oleh yang empunya dirinya. Setelah 35 tahun lebih Boksu Oei melayani Tuhan bersama keluarganya di Surabaya, pada usianya yang ke-68, tiga hari setelah hari ulang tahun yang jatuh tanggal 24 Agustus, Tuhan telah memanggil hamba-Nya. Pekerjaan yang Tuhan percayakan padanya telah diselesaikan dengan baik.

Kini, anak-anak beliau mengikuti jejak yang telah ditinggalkannya. . . “Kepada-Mu ya Bapa, kami persembahkan hidup ini, hanya untuk membalas kasih-Mu, kami melayani-Mu. Terpujilah nama Tuhan, untuk hamba-Mu yang pernah hadir di tengah-tengah kami, untuk menjadi teladan kami. Untuk seorang ayah yang cinta kasih dan semangat hidupnya senantiasa tertanam di hati isteri dan anak-anak terkasih yang ditinggalkannya. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus Kristus.(Hanna Christin Obadja)

(Profil Pdt. Agustinus Joanes Obadja – BERKAT No. 62 Th 2004)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments