PERIBAHASA “tak kenal maka tak sayang” masih berlaku sampai now. Kalau mau bicara media cetak gerejani, ada banyak yang bisa disebut. Tiap Sinode mempunyai masing-masing majalahnya. Belum lagi jemaat-jemaat lokal juga berlomba menerbitkan majalah. Pasti positif tujuannya. Sayangnya majalah atau buletin yang diterbitkan tidak ada yang berkelanjutan lagi, alias tidur kalau tidak mau disebut almarhum.
Media Musik Gerejani
Bagi aktivis paduan suara tahun 60-an banyak yang mengenal majalah musik gerejani “Crescendo”. Diterbitkan oleh Komisi Musik Gerejani Sinode GKI Jawa Timur. Isinya khusus tentang musik gerejani termasuk paduan suara dan yang berkaitan dengannya. Walaupun diterbitkan oleh Sinode GKI Jatim, namun peredarannya meluas sampai Jawa Tengah dan Jawa Barat. Terbit perdana tahun 1967 dan disukai banyak pembaca anggota paduan suara.
Sayangnya lima tahun kemudian terpaksa menarik nafas terakhir pada Edisi No. 21 Tahun 1972. Maklum Sinode tidak hanya mengurusi satu bidang pelayanan saja. Ada banyak yang mereka pikirkan dan kerjakan. Dan jangan lupa tiap dua tahun ada pergantian pimpinan Sinode sesuai Tata Gereja.
Kurang ada yang peduli dan punya hati terhadap penerbitan media. Lalu argumentasinya hanya berkisar soal anggaran yang berpolemik. Waktu itu sebagai Redaktur majalah itu saya merenung dalam hati. Mau jadi berkat saja kok itung-itungannya jlimet? Ya ndak salah kalau lembaga ini mengutamakan untung ruginya. Karena itu memang pola pikir sebagian besar pimpinan Sinode zaman itu, sebagai tolok ukur pelayanan. Maka keputusannya sementara tidak perlu terbit, begitu bahasa eufemisme (kata penghalusnya). Pembaca setia cuma bisa bergumam: Eman ya? Maksudnya sayang ya?
Media untuk Sesama
Entah mengapa para pendiri Yayasan Penerbitan Berkat (YPB) memakai tujuan YPB dalam Akta pendirian tahun 1974 sebagai berikut: “Memberikan pelayanan dan kesaksian Kristen kepada sesama manusia dalam arti yang seluas-luasnya”. Apakah istilah sesama manusia yang dimaksud terinspirasi dari cerita Alkitab tentang orang Samaria yang baik hati? Kalau jawabnya ya, berarti majalah ini bukan untuk kebanggaan GKI saja. Tetapi juga menjadi berkat bagi banyak orang yang mau mendengar “Kabar Baik” (to euangelion) itu.
Bukankah almarhum Pdt. Oei Sioe Tiong menjadi percaya dari potongan Kabar Baik Yohanes 10:11 juga? Semangat beliau berbagi kabar baik, bak benih yang ditabur di semua area. Hasilnya kita menyaksikan tumbuh kembangnya gereja-gereja GKI di Jawa Timur.
Tidak salah awalnya YPB berkiprah mencetak buku cerita anak (Sekolah Minggu). Buku cerita ini bukan hanya menjadi berkat bagi jemaat GKI, tetapi gereja-gereja lain juga. Lalu buku Nyanyian Suplemen I dan II yang pernah dipakai sebagai buku nyanyian ibadah GKI di ketiga Sinode (Jabar, Jateng dan Jatim). Buku-buku di atas memang tidak dipakai lagi. Ada saja yang masih melihat buku-buku tersebut dan menilai isinya bagus. Mereka itu bergumam: “Sayang ya?”
Majalah Kairos
Ya, kata kairos banyak yang tahu, artinya: kesempatan. Dipakai oleh Sinode Am GKI sebagai media yang dikelola Yayasan Komunikasi Antar Insan. Dari tujuannya jelas, majalah ini bukan berisi tentang GKI saja alias GKI centris. Dimaksudkan sebagai konsumsi umum yang bisa dibeli dan dibaca siapa saja.
Majalah ini memiliki motto, “Menyuarakan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan”. Isinya tulisan populer, kritis dalam penyampaian berita, menarik. Terbit sejak tahun 1992 dan berakhir pada tahun 1995 setelah terseok-seok karena masalah intern. Saat itu juga banyak pembaca dan pencinta Kairos berkata melas: “Sayang ya?”
Majalah Berkat
Media yang dinaungi YPB memulai dengan penerbitan tabloid Buletin Berkat dari tahun 1988. Memasuki tahun penerbitan ke 10 pada tahun 1998, maka tabloid ini ditingkatkan menjadi majalah. Motto yang dipakai adalah “Menjalin Komunikasi bagi Usaha-usaha Persekutuan, Pelayanan dan Kesaksian Antar Gereja dan Anggota Gereja. Ini merupakan pengenjawantahan tujuan YPB tahun 1974: Memberikan Pelayanan dan Kesaksian Kristen kepada sesama manusia dalam arti yang seluas-luasnya.
Rubrik majalah BERKAT yang memiliki terobosan keluar adalah Lintas Ekumene dan Lintas Agama/Budaya. Tentu artikel-artikel di luar rubrik ini juga memuat aktivitas ke luar. BERKAT bukan majalah introvert yang hanya berlindung di zona amannya. Justru BERKAT telah menjadi majalah yang extrovert yang membuka terobosan keluar.
Karakteristik BERKAT adalah memenuhi kebutuhan jemaat agar tahu, bukan menentukan mana yang perlu. Ibarat menu siap saji, silahkan pembaca pilih mana yang menjadi kebutuhan. BERKAT memiliki prinsip penyajian terbuka bagi pembaca yang heterogen.
Wawasan teologia BERKAT bersifat mengenal, memberi wawasan kemajemukan dalam berteologia dalam konteks semangat ekumenis. Bersifat analisis dengan memotivasi pembaca untuk berteologia. Bersifat emplementasi agar pembaca dapat mengaktualisasikan pemahaman teologianya. Para penulis BERKAT yang berbeda latar belakang dengan kepelbagaian sudut pandang (multi perspective), justru memperkaya wawasan (world view) kita.
Kuncinya cuma satu: punya komitmen untuk tetap menghadirkan media BERKAT bagi sesama kita. Tuhan menghendaki kita tetap bersemangat menjadi berkat bagi banyak orang. Karena itu redaksi berkeyakinan tidak ada yang berkata: Sayang ya. Justru ada banyak yang memberi apresiasi, melalui SMS, W.A, Line, Email. Ada-ada saja. Di antara mereka ada yang menulis: “Kamu harus terus jadi berkat, ya sayang”.


