Di suatu sore di akhir bulan Januari 2020, saya sedang memasak di dapur sambil mendengar berita di radio. Pembawa berita mengatakan ada penyakit baru di Wuhan, Cina yang menyebabkan 25 orang meninggal. Di hati saya berkata “Ah tidak ada yang perlu dikhawatirkan,kami tinggal di Inggris, seperti SARS atau MERS paling hanya wabah kecil di sekitar Wuhan/China saja, tidak akan terasa apa-apa di sini”.
Kami tetap beraktivitas biasa, setiap hari saya dan suami pergi ke tempat kerja dan anak-anak ke sekolah. Dua sampai tiga kali seminggu pergi belanja ke supermarket. Jumat pagi membantu di café gereja dan hari Minggu beribadah ke gereja yang karena saat itu masa persiapan Paskah. Setelah kebaktian ada makan-makan siang sup dan roti bersama. Semua orang masih santai dan menikmati rutinitas yang ada.
Keadaan Berubah Cepat
Siapa menyangka pada hari Rabu, tanggal 18 Maret 2020, Perdana Menteri Boris Johnson melalui televisi mengumumkan penutupan sekolah-sekolah sampai batas waktu yang belum ditentukan. Ujian-ujian nasional yang yang akan dilaksanakan bulan Mei dibatalkan semua. Sekolah diliburkan kecuali untuk anak-anak yang diawasi negara (vulnerable children) dan anak-anak dari pekerja-pekerja kunci seperti petugas kesehatan, polisi, pemadam kebakaran, pegawai supermarket, petugas pos dan transportasi logistik. Setiap sore PM Boris Johnson didampingi ketua tim penasihat sains dan medis menyampaikan update terkait penyebaran wabah Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona (SARS-CoV-2).
Situasi tereskalasi dengan cepat, hari Senin, tanggal 23 Maret 2020, Perdana Menteri kembali hadir di televisi untuk mengumumkan mulainya lockdown yang ketat di mana masyarakat diminta tinggal di rumah, hanya boleh keluar untuk belanja yang perlu saja dan olahraga sekali sehari dengan tetap menjaga jarak. Pemerintah harus mengambil tindakan cepat dan drastis karena jumlah kasus yang terdeteksi hari itu sudah mencapai 6.650 kasus dengan jumlah kematian 359 orang.
Pandemi Covid-19 Itu Sangat Nyata!
Dunia seakan berhenti, kita tertegun akan begitu besarnya pengaruh virus korona ini yang ternyata mampu menghentikan putaran aktivitas kehidupan dunia yang 24 jam 7 hari. Manusia yang selama ini bangga dengan kemampuannya sendiri untuk menguasai bumi, manusia yang merasa hebat sebagai makhluk yang bisa menaklukkan apa saja di muka bumi ini, sekarang kebingungan.
Manusia yang kagum dengan kemampuan akalnya untuk menciptakan disrupsi teknologi di berbagai bidang sekarang dipaksa bertekuk lutut pada disrupsi yang dilakuan satu jenis benda kasat mata. Manusia gelagapan bak orang yang kelelep air tak bisa berenang. Berkelahi melawan virus ini ibarat berkelahi dengan mata tertutup, kita masih meraba-raba seperti apa sebenarnya musuh ini. Hal ini diungkapkan Direktur WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus: ‘we are building the ship as we sail’ atau ‘kita berlayar sembari membangun kapal kita’
Hampir semua negara sekarang berjuang keras menekan penyebaran virus ini. Semua orang di belahan dunia saat ini mengalami dampaknya baik dari sisi kesehatan maupun dari sisi non kesehatan. Sebagian besar kantor, pabrik dan tempat usaha harus ditutup. Banyak orang kehilangan pekerjaan dan penghasilan. Anak-anak harus belajar di rumah. Meskipun kita merayakan Paskah ataupun Ramadhan/Idul Fitri, semua orang harus beribadah di rumah. Semua orang kehilangan kebebasan untuk keluar rumah. Banyak hal yang selama ini kita anggap biasa, sekarang tidak bisa kita lakukan lagi. Entah kapan kehidupan normal itu bisa kembali lagi?
Diliputi Rasa Kuatir
Selama beberapa minggu belakangan kita kuatir dan ketakutan. Banyak dari kita merasa stress bahkan depresi melihat situasi yang tidak terkendali ini. Banyak usaha yang kita perjuangkan selama ini serasa menjadi sia-sia. Kita lebih banyak diam di rumah, tidak bisa bertemu keluarga dan teman-teman yang kita kasihi, membuat banyak yang kehilangan pekerjaan, membuat kita bosan dan kesepian, membuat gagal rencana-rencana yang sudah kita susun dan mungkin membuat kita kehilangan harapan dan makna hidup ini. Kita merasa seperti yang tertulis di Mazmur: Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi (Mazmur 103:15-16).
Betul kah tidak ada lagi harapan bagi kita? Virus korona dan pandemi Covid-19 ini memang nyata sudah membuat kehancuran di banyak sendi kehidupan kita. Tapi sebagai orang Kristen kita “selalu” memiliki harapan dalam situasi apapun juga, termasuk di saat pandemi ini karena: Allah kita lebih nyata! Yesus Kristus Juru Selamat kita lebih nyata! Allah Maha Kuasa! Dia berkuasa dan memegang kendali atas segala hal yang nyata (maupun tidak nyata). Kuasa dan kemuliaan-Nya terlihat di semua ciptaan-Nya di alam semesta ini. Allah yang menciptakan setiap DNA dan semua bagian sel di dalam tubuh kita. Dan materi genetik virus juga dikatakan berasal dari renik DNA makhluk hidup.
Tuhan Satunya Harapan
Pandemi ini membuat kita sadar betapa lemah dan rapuhnya kita manusia yang mengandalkan fisik dan hikmat dunia. Di dalam kelemahan kita menyadari hanya “satu” kubu perlindungan kita yaitu Allah (Mazmur 61:1-4). Dia selalu bersama kita dalam hidup dan mati (1 Tesalonika 5:9-10). Kita menyadari bahwa hidup tidak lah sebatas di dunia saja namun kita semua ada kehidupan yang lebih baik setelah itu. Kita semua saat ini sedang mengeluh kesakitan namun kita percaya pada akhirnya nanti tubuh ini akan bebas dari segala sakit dan kita akan bersukacita bersama Tuhan untuk selamanya (Roma 8:22-23).
Itulah harapan kita sebagai orang Kristen. Harapan yang memberikan kita kekuatan menghadapai pandemi ini. Harapan yang memampukan kita untuk bersolidaritas saling membantu di masa sulit ini. Harapan yang membuat kita tetap bersemangat untuk bergereja, bersekutu dan berdoa bersama dari rumah masing-masing. Ternyata betul gereja bukan lah gedungnya. Anggota-anggota keluarga yang jarang bertemu sekarang punya lebih banyak waktu untuk membangun kebersamaan. Dan kita jadi punya lebih banyak waktu untuk membaca Firman Tuhan dan semakin mengenal-Nya.
Hikmat Di Balik Covid 19
Di sisi lain ada perubahan alam merasakan udara yang lebih segar, air yang lebih jernih, binatang-binatang kembali ke tempat yang dulunya adalah habitatnya bahkan lubang ozon perlahan menutup kembali. Ternyata sangat besar dampak aktivitas kita terhadap lingkungan. Bekerja dari rumah selama beberapa minggu membuat kita sadar bahwa mengurangi emisi karbon itu tidaklah sulit.
Ya, pandemi Covid-19 ini sudah merubah banyak kehidupan kita yang menurut perspektif dunia memang banyak perubahannya bersifat merugikan. Namun, menurut perspektif kekekalan kita percaya dan memiliki harapan ‘bahwa ALLAH turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah’ (Roma 8:28).
Allah berkuasa dan bekerja melalui “segala” sesuatu termasuk pandemi ini untuk mendatangkan kebaikan bagi kita semua yang mengasihi Dia dan mengikuti rencana-Nya. Dan jika kita melanjutkan membaca Mazmur 103 di atas, hidup manusia yang singkatnya seperti bunga rumput ternyata tidak lah sia-sia: Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya (Mazmur 103:17-18).
*) – Koresponden BERKAT di Manchester United Kingdom.
– Anggota GKI Diponegoro, Surabaya


