MUNGKIN kita bertanya, sampai kapan kita terbebas dari pandemi atau covid? Sementara banyak orang sudah habis-habisan, lelah, jenuh, kehilangan penghasilan dan pekerjaan; terganggu ekonomi dan hidup sosialnya. Bahkan sebagian menjadi putus asa, hilang harapan, mengalami gangguan mental, depresi, cemas, bercerai dengan pasangan, bahkan hingga ada yang bunuh diri.
Tentu tidak semuanya seperti itu. Karena ada juga yang bertambah kaya di tengah pandemi, bahkan dengan cerdik (atau sebagian lagi culas?) memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Itulah realita kehidupan yang terus berputar dari dulu sampai sekarang, dari zaman ke zaman, bahkan kelak di masa yang akan datang.
Belum lagi adanya Covid Varian Omicron yang ramai dibicarakan. Menurut Dr. Angelique Coetzee (Kepala Asosiasi Medis Afrika Selatan – SAMA) yang pertama kali menemukannya, gejalanya tidak biasa tetapi ringan pada pasien yang sehat. Hanya berupa nyeri otot dan kelelahan, tanpa kehilangan rasa dan penciuman selama satu atau dua hari. Meski begitu, ia kuatir varian baru ini dapat menyebabkan komplikasi pada orang tua dan orang yang belum divaksinasi.
Saya pernah bercanda pada beberapa teman, bahwa Covid mungkin akan terus bermutasi dari Alfa sampai Omega. Atau masih terus ada meskipun urutan abjadnya habis. Memang sudah sifat kalau virus bermutasi, baik dari orang ke orang, dari daerah ke daerah.
Bahkan Kusta dan TBC saja masih ada. Tuhan seakan mengizinkan mereka tetap ada. Di zaman Perjanjian Lama kusta sudah ada, dan kabarnya telah ada sejak empat ribu tahun lalu. TBC juga begitu, konon sudah ada sejak Sembilan ribu tahun lalu, meskipun Dr. Robert Koch baru menemukan Mycobacterium tuberculosis pada 24 Maret 1882.
Demikian juga virus influenza yang muncul tahun 1918-1919, sampai sekarang masih tetap ada dan terus bermutasi, bahkan kecepatannya lebih cepat daripada Covid-19. HIV, Hepatitis, DHF, Thypoid, Kusta, TBC dan lainnya. Hampir semua bermutasi, tak terkecuali bakteri.
Banyak info bisa kita temukan baik melalui google atau sumber lainnya. Kita menjadi terbiasa dan lebih kuat serta lebih bijak. Bahkan menemukan vaksin dan cara pencegahan serta pengobatannya. Walaupun mereka tetap ada, setidaknya kita menjadi tahu cara mengendalikannya seoptimal mungkin.
Jangan resah kalau muncul issue-issue aneh, hal itu biasa terjadi. Saya jadi ingat dengan kalimat doa yang diajarkan Yesus: “Janganlah (kai me, do not) membawa (eisphero, lead us into, bring us into, carry us into) kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari yang jahat”. (Matius 6:13).
Kalimat itu tidak berbunyi: lenyapkanlah (aphanizo, vanished, destroy) pencobaan. Jadi pencobaan dalam bentuk apapun sepertinya akan tetap ada. Cuma sebagian kita mungkin lebih suka di-lenyap-kan. Bahkan sampai ada yang mengusir pencobaan. Namun, jika iman tanpa pencobaan, bagaimana iman bisa bertumbuh kuat? Itu kan seperti ingin lulus sekolah tanpa mau diuji, lalu menghindar dari ujian.
Tuhan tahu kalau kita tidak menyukai pencobaan. Ia juga tahu bahwa daging kita lemah; bahwa kita sering “tidak tahan” dalam pencobaan atau situasi yang tidak menyenangkan, yang membuat derita dan berlangsung lama seakan tanpa pernah berakhir.
Karena itu Ia mengajarkan kalimat permohonan seperti itu, dan Ia mengingatkan agar sebisa-bisanya jangan sampai kita masuk dalam pencobaan. Jangan sampai tergoda rayuan setan sehingga Ia meminta agar kita selalu berjaga dan berdoa. Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41).
Ia juga ingin kita belajar menghadapi pencobaan tanpa terjatuh dalam dosa dan kejahatan. Bukankah Yesus sendiri memberi contoh, bahwa Ia pun ‘dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai (peirasthenai)’ (Matius 4:1). Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis (peirasthenai, peirasmos, tempted). Iman dan pencobaan seakan dua hal yang tak terpisahkan, dan mereka berjalan bersama-sama.
Pencobaan bisa bermacam bentuknya, bisa uang, kekayaan, status, kedudukan, musibah, penyakit, kemiskinan, kekurangan, kekuatan, keperkasaan, kesombongan, popularitas, kepandaian, wanita, pria, nama baik, kesuksesan, prestasi atau apapun.
Dalam konteks agama, pencobaan adalah kecenderungan untuk berbuat dosa. Pencobaan juga menggambarkan bujukan atau membujuk seseorang untuk melakukan tindakan seperti itu, dengan manipulasi atau rasa ingin tahu, keinginan atau ketakutan kehilangan sesuatu yang penting bagi seseorang.
Sebab itulah Iblis disebut sebagai the tempter, sang pencoba, penggoda, pembujuk, penipu, manipulator, penampi, penyesat – yang berusaha menjauhkan kita dari jalan-jalan Tuhan, dan menyeret kita agar menuruti keinginan daging dan pikiran-pikiran manusia; bukan kepada pikiran-pikiran Allah. (Matius 16:23; Yakobus 1:13-15)
Pencobaan adalah suatu situasi atau kondisi yang Tuhan izinkan kita alami, tetapi sikon itu juga punya potensi untuk menyeret kita ke dalam hal-hal yang jahat (evil things) yang berdosa (sinful things), bahkan maut. Sebab itu kalimat dalam doa Bapa kami itu tidak terputus pada kalimat “janganlah membawa kami kedalam pencobaan” saja – tetapi berlanjut dengan kalimat “tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat”; jangan sampai akibat pencobaan itu, kita terhempas dan jatuh dalam ketidaktaatan, kehilangan iman, kehilangan pegangan dan harapan, kehilangan kasih, berbuat hal yang jahat, yang salah dan berdosa.
Percayalah bahwa Tuhan tahu kesanggupan kita. Ia tahu batas-batas kekuatan kita. Bahkan Ia menjaga kita saat kita mengalami pencobaan. Berilah tempat bagi Tuhan untuk berotoritas terhadap hidup kita dan melakukan kehendak-kehendak-Nya secara penuh dan utuh.
Datanglah pada Tuhan dengan Kristus sebagai Imam Besar kita, dan teladanilah Dia agar saat kita mengalami pencobaan, kita tidak sampai berbuat dosa, dan terlepas dari berbuat kejahatan (delivered from evil), tetapi tetap tidak kehilangan jalan-jalan Tuhan dan setia dalam ketaatan terhadap kehendak-kehendak-Nya.
“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia itelah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya”. (Ibrani 4:15-16).
Pencobaan ada supaya kita teruji, dan menjadi lebih kuat, lebih bijak dan lebih pandai. Jadilah kuat dan tetap semangat!


