Surabaya, 6 Juni 2026 – Ruang R, Tower B, The City Square, Jl. Margorejo Indah 105, dipenuhi pemimpin Kristen dari pelbagai sektor profesi. Mereka datang bukan sekadar untuk menambah wawasan, tetapi untuk menjawab satu pertanyaan mendasar: bagaimana profesi dan bisnis bisa menjadi mimbar pelayanan yang menghadirkan dampak nyata bagi Jawa Timur.
Itulah ruh dari Leader Impact Forum Surabaya 2026 dengan tema “Membumikan Visi dan Misi, Menghadirkan Dampak”, yang diselenggarakan oleh kolaborasi Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Kota Surabaya, Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG) Kota Surabaya, Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI), dan Majalah Berkat sebagai media partner.
Apa itu Leader Impact?
Leader Impact adalah program strategis global di bawah naungan Campus Crusade for Christ (Cru). Leader Impact Forum dirancang khusus untuk mempertemukan para pemimpin Kristen, utamanya dari Marketplace, agar dapat mengintegrasikan iman Kristen ke dalam dunia kerja secara relevan, saling menguatkan, serta bersinergi lintas profesi dan lembaga.
Melalui pendekatan komunitas, Leader Impact memperlengkapi para pemimpin untuk membawa transformasi positif dan dampak kekal di lingkungan kerja mereka.
Forum untuk Pemimpin yang Sudah Berkarya
Berbeda dengan pelatihan dasar, forum ini sengaja dirancang untuk para pemimpin yang sudah berkiprah. “Kami tidak mencetak pemimpin dari titik nol. Kami memperlengkapi sosok-sosok yang sudah ada agar semakin efektif mengintegrasikan nilai-nilai Kerajaan Allah ke dalam setiap aspek kehidupan di marketplace,” jelas panitia.
Narasi besar forum berfokus pada penguatan tiga ranah: Personal, Profesional, dan Spiritual. Profesi dan bisnis diposisikan sebagai ladang pelayanan krusial, di mana integritas dan kompetensi menjadi kesaksian hidup yang melampaui batas operasional perusahaan.

Wawasan dari Para Narasumber
Sepuluh pemimpin lintas bidang membagikan refleksi dan praktik:
Dr. Rita Wahyu Wulandari, S.E., M.M., M.Th., mengingatkan: “Yang melayani menekukkan lututnya, walau status dan posisinya lebih tinggi. Seorang pemimpin harus melayani dan menjadi teladan bagi yang dipimpinnya.” Seperti yang tertulis dalam Yohanes 13:1-17.
Ir. Yohannes Somawiharja, M.Sc, menekankan pentingnya pendidikan: pendidikan harus dikembalikan kepada tanggung jawab gereja-gereja Tuhan dan para pemimpin Kristen. “Universitas adalah putera gereja.”
Dennis Firmansjah, M.M., mengajak membedakan antara orang Kristen dan pengikut Yesus – perbedaan yang menentukan gaya hidup dan dampak.
Felix Pasila, S.T., M.Sc., Ph.D., membagikan cara menggunakan AI untuk memberdayakan UMKM dan membangun masa depan Indonesia.
Dra. Martha Kristiana, M.Si., berbicara tentang kolaborasi dalam pelayanan: pelayanan harus dikerjakan tanpa meninggalkan keluarga atau kewajiban lain. Yang penting komitmen dan ketaatan kepada Kristus.
Dr. Hana Amalia Vandayani, D.Min., menegaskan, kolaborasi pelayanan harus dilakukan dengan kasih dan keberanian akan kebenaran, lahir dari hati yang paling dalam.
Dr. Ir. Sindu Prawira, MBA., M.Min., mengajak melihat bisnis sebagai misi: “Apa yang mendorong dan memotivasi kita dalam menjalankan bisnis?”
Ir. Hadi Prasetyo, M.E., Dipl. Urb.M., turut berbagi perspektif pengembangan kota dan peran pemimpin Kristen di ruang publik.
Pdt. Johny Tambariki, M.Th., D.Min., D.Th. dan Zandy Keliduan, S.E., MABS.
Sedangkan tiga moderator yang turut memandu diskusi tersebut antara lain, Pdt. Amike Sumual, Dr. Ir. Daniel Rohi, M.Eng.Sc., IPU, dan Drs. Sonny Sangkan Prasetyo.
Zandy Keliduan melalui renungannya mengajak peserta kembali pada Nehemia 1:4. “Berkolaborasi dengan sebanyak mungkin pemimpin Kristen. Bukan hanya soal posisi, tapi memberi dampak dan pengaruh sebagai misionaris,” tegasnya.
Ia mengingatkan, visi sejati lahir bukan dari ego, melainkan dari beban ilahi dan belas kasihan Kristus. “Transformasi tidak akan terjadi kalau tidak ada beban.” Zandy menyoroti krisis zaman: lonjakan bunuh diri, perundungan, perceraian, bahkan kemerosotan iman global. Proyeksi 2010–2050 menunjukkan penurunan 100 juta orang Kristen di Eropa, dan lebih dari 5.000 orang Papua meninggalkan iman dalam 15 tahun terakhir.
“Garam dan terang dunia. Pemimpin berubah, kota ditransformasi, bangsa diberkati. Jadi pemimpin tipe mana Anda? Pemimpin duniawi yang egonya berkuasa, Kristen berkarakter dunia yang memakai Kristus sebagai topeng, atau pemimpin rohani di mana Kristus benar-benar berkuasa?” tantangnya.
Sesi bersama Pdt. Johny Tambariki mengarahkan pada aksi konkret. “Kita hanya salah satu bagian dari Leader Strategis. Positive impact starts here. Kita dipanggil untuk mandat Allah: mandat pembangunan dan pembaharuan. Berdoa bagi pemimpin, jalankan Amanat Agung: Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, baptis dan ajar.”
Para peserta dibimbing melalui tujuh materi inti: Leader-Impact Vision, Bible and Leaders: Transformational Leadership, Leaders Testimonies, Collaboration for Greater Impacts, Brainstorming, City Action Plans, hingga Commissioning.
Forum ditutup dengan sesi kolaborasi dan pengutusan, mengirim para peserta kembali ke ladang pelayanan mereka dengan satu komitmen: mentransformasi pengaruh menjadi dampak nyata bagi masyarakat Jawa Timur.
Leader Impact Forum Surabaya 2026 menjadi titik temu strategis yang menginisiasi sinergi lintas lembaga dan profesi. Dengan semangat kesatuan Tubuh Kristus, forum ini mengundang para pemimpin untuk bergabung dalam ekosistem suportif, memperkokoh peran strategis mereka dalam mewujudkan visi Tuhan yang lebih besar di sektor publik dan profesional. (doc/berkat)



