Seseorang yang melakukan kesalahan biasanya mempunyai naluri dasar untuk tidak mengakui kesalahannya. Bahkan berusaha untuk terbebas dari hukuman akibat dari kesalahan yang diperbuatnya. Pelbagai upaya dilakukan supaya tidak menerima hukuman akibat kesalahan yang dilakukannya.
Sebagai contoh jika kita punya pengalaman ditilang oleh polisi, maka biasanya kita tidak serta merta mengakui kesalahan dan menerima tilang tersebut. Biasanya kita akan melakukan upaya-upaya supaya terbebas dari hukuman tilang tersebut meskipun kita tahu bahwa sebetulnya kita melakukan kesalahan yang mengakibatkan kita menerima hukuman tilang.
Kisah di Alkitab yang dapat kita temukan berkaitan dengan hal tersebut adalah kisah kejatuhan manusia dalam dosa. Ketika Tuhan bertanya kepada Adam tentang apakah ia makan buah pengetahuan hal yang baik dan jahat, Adam tidak langsung mengakui perbuatannya, melainkan menyalahkan Hawa. Selanjutnya Hawa menyalahkan ular. Hal ini adalah contoh nyata bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk tidak mau dengan mudah mengakui kesalahannya bahkan melimpahkan kesalahannya kepada orang lain.
Kedua contoh tersebut adalah bukti nyata dari cara kerja dosa dalam kehidupan manusia. Dosa memiliki kuasa untuk menjerat manusia sehingga secara tidak sadar manusia tanpa perlu belajar melakukan dosa, sangat mungkin ia melakukan dosa (Roma 5:14). Jika dosa dikatakan memiliki kuasa, apakah berarti manusia tidak dapat terbebas dari kuasa dosa? Apakah manusia hanya dapat berdiam diri melawan kuasa dosa?
Rasul Paulus kepada jemaat di Roma menjelaskan bahwa Tuhan tidak membiarkan manusia terjerat dalam kuasa dosa. Tuhan menyatakan kasih karunia kepada manusia melalui Yesus Kristus yang rela berkorban bagi keselamatan dunia.
Paulus menyatakan bahwa kasih karunia Allah tidak dapat dibandingkan dengan pelanggaran Adam. Kasih karunia Allah yang dilimpahkan kepada manusia jauh lebih besar dibandingkan kuasa dosa yang selama ini menjerat manusia (Roma 5:15).
Dibenarkan Karena Anugerah
Kasih karunia Allah menjadi sangat berarti bagi kehidupan manusia karena kasih karunia mendatangkan pembenaran yang pada akhirnya membawa manusia pada kehidupan kekal. Sebaliknya kuasa dosa yang menjerat manusia akan membawa pada penghukuman yang berakhir pada maut. Pembenaran memiliki makna yang begitu penting bagi kita karena hal itu memiliki makna bahwa manusia dibenarkan bukan karena usahanya sendiri. Melainkan pembenaran itu diperoleh karena pemberian Tuhan. Tanpa anugerah Tuhan tersebut, manusia tidak dapat mencapai pembenaran.
Dalam momen Paskah, kita seharusnya melihat kasih karunia Allah tersebut dalam peristiwa pengorbanan Kristus di kayu salib dan kuasa kebangkitan-Nya. Kasih karunia Allah terjadi melalui pengorbanan yang sangat berharga, yaitu tubuh dan darah Kristus. Sehingga kita tidak boleh menganggap remeh pengorbanan itu atau menganggap kasih karunia Allah sebagai sesuatu yang murah, meskipun kita menerimanya secara gratis atau cuma-cuma. Kita harus memaknai bahwa diberikan oleh Allah secara cuma-cuma oleh karena apapun usaha manusia tidak akan dapat memperolehnya.
Dibebaskan Untuk Membebaskan
Jika kita sudah mengetahui dan mengimani bahwa kita telah memperoleh anugerah kasih karunia Allah, apakah yang seharusnya kita lakukan? Tentu saja kita harus belajar meneladani pengorbanan Kristus bagi manusia dengan cara kita juga rela berkorban bagi sesama. Kita harus senantiasa mampunyai semangat memberi kehidupan bagi lingkungan sekitar kita.
Sangat disayangkan akhir-akhir ini kita kembali disuguhkan kejadian yang menunjukkan bagaimana budaya instant semakin melekat dalam kehidupan manusia. Karena situasi ekonomi yang sulit, banyak orang ingin segera menjadi sukses dan kaya dalam waktu singkat.
Kemunculan influencer, selebgram atau profil-profil lain yang tampil sukses di usia muda sangat menarik banyak orang untuk mengikuti jejak mereka. Namun, kebanyakan orang ingin meniru mereka dengan cara instan. Akibatnya banyak orang pula yang terjerat masuk dalam praktik usaha atau bisnis yang sebetulnya berpotensi merugikan diri sendiri dan banyak orang.
Kita harus ingat bahwa pengorbanan Kristus tidak bersifat instan. Ada proses tidak mudah yang harus dijalani oleh Tuhan Yesus untuk sampai pada kemenangan sejati. Ia harus melakukan pelayanan di dunia, menerima hinaan, cercaan sampai dengan kematian di kayu salib. Itu semua Tuhan Yesus jalani karena kasih-Nya kepada manusia. Ia rela berkorban supaya manusia tidak lagi terjerat oleh kuasa dosa yang berujung pada kematian kekal.
Sebagai pribadi yang telah menerima kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus, maka tugas kita adalah menyadari keberadaan kita sebagai manusia yang punya kelemahan. Sebagai manusia kita sangat rawan untuk jatuh dalam dosa. Dengan menyadari hal itu maka kita seharusnya mempercayakan hidup kita kepada Tuhan. Kita mengandalkan Tuhan untuk dapat menang melawan segala godaan kuasa dosa.
Selanjutnya kita tidak hanya tinggal diam, melainkan secara aktif kita juga belajar mengikuti teladan pengorbanan Kristus yang membebaskan manusia. Kita tidak bisa hidup hanya untuk diri kita sendiri. Melainkan dalam kehidupan bersama komunitas di mana kita berada, kita harus memiliki semangat untuk berkorban bagi sesama. Semangat ini tentu saja didasari oleh karena kita terlebih dahulu telah menerima kasih Kristus.
Kiranya semangat Paskah akan senantiasa mengingatkan dan memampukan kita untuk meneladani Kristus yang telah rela berkorban untuk membebaskan dunia dari kematian kekal akibat kuasa dosa yang tidak pernah berhenti menjerat manusia.
(Pdt. Samuel Dian Pramana – Pendeta GKI Mojokerto)


