SURABAYA – Gedung gereja GBI Keluarga Allah Blessing dipenuhi pujian dan syukur pada Sabtu, 16 Mei 2026. Sekitar 100 orang terdiri dari pengurus, undangan dan mitra pelayanan berkumpul merayakan HUT ke-3 DPC Asosiasi Pendeta Indonesia (API) Surabaya.
Bukan sekadar perayaan ulang tahun. Acara ini sekaligus menjadi ajang refleksi, pelantikan, dan penegasan ulang panggilan, yaitu menjadi berkat dan terang di tengah persoalan kota. Acara dibuka dengan sambutan Ketua Panitia, Pnt. Subur Hariyono. Ia mengapresiasi kerja keras seluruh panitia dan mitra yang membuat perayaan ini bisa berlangsung.

Salah satu penasihat API Surabaya, Yordan M. Batara-Goa, dalam sambutannya menegaskan harapan besar di usia ke-3 ini. “Diharapkan di HUT ini API Surabaya bisa menjadi berkat dan terang dunia. Banyak permasalahan kota yang membutuhkan campur tangan kita bersama,” ujar ketua Bapemperda DPRD Provinsi Jawa Timur tersebut.
Ia juga menyampaikan apresiasi khusus untuk para guru agama Kristen dari API yang sudah setia mengajar di sekolah negeri.

Ps. David Akers, misionari asal New York, yang membawakan firman dari Mazmur 127:4. Dengan gaya bercerita yang hangat, ia mengajak jemaat melihat ulang peran orang tua dan pendidik dalam mempersiapkan generasi mendatang. “Setiap orang punya fase kehidupan yang berbeda. Kita sering terjebak dalam rutinitas hidup, sampai lupa bagaimana mendidik anak-anak kita,” ujarnya.
Ps. David juga menegaskan bahwa anak bukanlah beban, melainkan senjata yang harus dipersiapkan. Mengutip Mazmur 127:4, ia menggambarkan anak sebagai anak panah yang harus dibentuk dengan hati-hati dan dilepaskan dengan presisi. “Alkitab mengatakan anak adalah berkat. Tuhan mewariskan kepada kita. Setiap anak adalah karunia ilahi, baik anak kandung maupun anak didik,” katanya.
Ia membandingkan peran orang tua dengan pemburu di Amerika yang butuh disiplin dan kesabaran panjang. “Kita sebagai orang tua harus mempersiapkan diri sebagai pemburu. Tidak hanya memberi bekal, tapi memberi kesempatan pada anak untuk diproses Tuhan. Orang tua menjadi teladan.”
Mengacu pada Amsal 22:6, ia mengingatkan bahwa kecepatan anak panah lebih cepat dari pemburu. “Kita tidak bisa mengikuti ke mana anak-anak pergi. Mereka akan melakukan hal yang melebihi kita. Maka kesuksesan mereka bukan hanya dilihat dari prestasi, tapi dari seberapa dalam mereka mengenal Kristus.”
Pesan itu menutup dengan ajakan yang membumi: sebagai orang tua dan pendidik, jangan terlalu tinggi ego. “Kita juga manusia yang bisa mengatakan maaf dan mengucapkan cinta pada anak-anaknya. Anak-anak belajar dari sehari-hari, dan kita adalah contohnya.”
Pelantikan dan Pengutusan

Pada kesempatan itu juga menjadi momen penting bagi pelayanan API Surabaya. Pelantikan Reshuffle pengurus DPC API Surabaya yang dilakukan langsung oleh pengurus DPD API Jawa Timur.

Dilanjutkan dengan pengutusan 3 hamba Tuhan sebagai guru agama di sekolah negeri tingkat SD dan SMP. Pengutusan dilakukan oleh Ketua DPC API Surabaya, Pdt. Yason Sudarmanto. Ini adalah jawaban konkret atas kekurangan guru agama Kristen di sekolah negeri.


Luki Krispriyanto, Pembimas Kristen Kemenag Jawa Timur, hadir memberi sambutan. Ia bersyukur atas karya Tuhan yang nyata melalui API. “API bertumbuh, mengambil bagian penting dalam pelayanan masyarakat. API sebagai penggerak transformasi rohani,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ibu Febrina Kusumawati dari Dinas Pendidikan Kota Surabaya. “Pengutusan ini sangat membantu pemerintah kota di bidang pendidikan, khususnya pendidikan agama. Kami mengajak API untuk terus bermitra dengan kami,” katanya.

Bersamaan itu juga dilakukan pelantikan Wanita API Surabaya, menegaskan peran perempuan dalam pelayanan pendidikan Kristen.
HUT ke-3 DPC API Surabaya ditutup dengan doa syukur dan komitmen bersama. Dari ruang ibadah panggilan itu dibawa kembali ke kelas-kelas di sekolah negeri: mendidik dengan kasih, membentuk karakter, dan menuntun anak-anak mengenal Kristus. (doc/berkat)


