HomeJelajah KameraSosialisasi Toleransi dan Keberagaman 2026: Waspada Paham Intoleransi Berkedok Agama

Sosialisasi Toleransi dan Keberagaman 2026: Waspada Paham Intoleransi Berkedok Agama

Surabaya – Di tengah maraknya narasi yang memecah belah atas nama agama, acara ini menjadi ruang untuk mengingatkan kembali, bahwa perbedaan adalah bagian dari ciptaan Tuhan yang indah, bukan alasan untuk saling memusuhi.

Sosialisasi Toleransi dan Keberagaman yang digelar DPRD Provinsi Jawa Timur ini berlangsung di Hotel Aria Centra Surabaya pada Selasa (19/5).

Acara dibuka dengan renungan “Dampak Berdoa” oleh Pdt. Marjati dari Matius 6:7 dan Matius 12:43-45. Ia mengingatkan bahwa doa bukan sekadar kata-kata yang diulang-ulang, tapi perisai yang menjaga hati agar tidak diisi kebencian dan kekosongan. Dari sanalah sikap terhadap sesama mulai dibentuk.

Pdt. Hevron Daniel

Pdt. Hevron Daniel, Ketua Yayasan Mitra Kasih Damai Sejahtera, menjadi pembicara pertama. Ia mengajak peserta waspada pada tanda-tanda intoleransi yang sering datang berkedok agama: perpecahan, provokasi, dan pembesaran perbedaan untuk memusuhi.

“Padahal perbedaan merupakan bagian dari ciptaan Tuhan yang indah. Intoleransi tidak suka dengan ini. Perbedaan bukan ancaman,” tegasnya.

Lalu apa yang harus dilakukan? Pdt. Hevron memberi 4 langkah praktis: Mengasihi dan mengampuni orang yang punya paham intoleransi, membawa damai di mana pun berada, mengasihi musuh, meneladani Kristus, dan menolong tanpa membedakan.

“Menjaga kerukunan di lingkungan keluarga dan masyarakat adalah tanggung jawab kita semua,” katanya, mengutip Roma 12:18: “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!”

Hidup Damai di Tengah Keberagaman

Pdt. Andreas Kusmiadi

Pdt. Andreas Kusmiadi, Sekretaris Yayasan Mitra Kasih Damai Sejahtera, melanjutkan dengan menekankan pentingnya menerima perbedaan sebagai budaya dan prinsip hidup bersama.

“Hidup damai di tengah keberagaman berarti sabar menerima keadaan yang ada. Budaya, adat istiadat, pendapat harus diterima. Prinsip toleransi adalah menghormati orang lain atas perbedaan yang ada,” ujarnya.

Ia mengajak peserta untuk meningkatkan kesadaran sosial dan empati, serta hadir membawa kasih, bukan perpecahan.

Erick Komala

Sesi interaksi menjadi bagian yang paling dinanti. Erick Komala, Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, membuka ruang tanya jawab dan aspirasi dari peserta. Berbagai persoalan masyarakat dibahas, mulai dari isu kesehatan, BPJS, hingga tantangan kerukunan di tingkat RT/RW. Erick menegaskan bahwa pemerintah membutuhkan mitra dari komunitas iman untuk menjaga harmoni sosial di lapangan.

Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh dan komunitas, antara lain: CMC Mazmur Daud; Pdt. Errol Lekatompessy dan Ibu Pdt. Sherly Tumbol – PD Allah Tritunggal; Pendeta Marjati; serta Komunitas Berkat Bagi Bangsa (KB3) yang diketuai Pdt. Johanes Purwono bersama pengurus KB3.

Kehadiran beragam latar belakang ini menunjukkan bahwa menjaga toleransi tidak bisa dikerjakan sendiri. Ia butuh jejaring gereja, masyarakat sipil, dan pemerintah yang berjalan bersama. Waspada terhadap paham intoleransi itu perlu, tapi senjata utamanya adalah kasih, doa, dan tindakan nyata untuk mendamaikan. (doc/berkat)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments