Surabaya, 24 Juni 2026 – Lanjutan Leader Impact pertama 6 Juni lalu kembali digelar di Boncafe Gubeng Surabaya. Mengusung satu tema “Collaboration for Greater Impact, acara ini menjadi ruang temu para pemimpin lintas denominasi untuk menjawab satu panggilan: Amanat Agung.
Didukung PIKI Surabaya, LPMI, BAMAG Kota Surabaya, Pondok Kasih, dan Majalah Berkat, forum ini menegaskan bahwa dampak besar lahir dari kolaborasi, bukan kompetisi.

Membuka acara, renungan yang dibawakan Ambrosius Lily mengajak peserta kembali ke Matius 28:18-20. “Pergilah, jadikanlah, muridkanlah, utuslah. Amanat Agung adalah panggilan terbesar dan ini bukan pilihan tetapi harus.”
Pesannya tegas: Dari pelbagai denominasi kita harus bersatu, berdoa, dan melakukan Amanat Agung bersama. Tanpa kesatuan, misi jadi lemah.

Dalam sambutannya, Ketua DPC PIKI Surabaya, Ronny H Mustamu menegaskan acara ini buah kerjasama PIKI dengan LPMI. “PIKI bersinergi dengan BAMAG. Didukung Pondok Kasih dan Majalah Berkat. Tantangan kekristenan hari ini terlalu besar untuk dikerjakan sendiri.”

Ketua Yayasan Pondok Kasih (YPK), Indah Wati, melalui sambutannya menambahkan, “Kita perlu bermitra pada banyak orang: pemerintah, lintas agama, masyarakat, dan para intelektual. Kolaborasi harus dari hati dan berdampak. Asal jangan saling rebutan pelayanan.”
Tiga narasumber dihadirkan dalam Leader Impact lanjutan ini, mereka adalah Prof. Raja Oloan Saut Gurning, S.T., M.Sc., Ph.D., CMar Tech., Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan ITS; Dr. Hana Amalia Vandayani, D.Min., Pendiri Yayasan Pondok Kasih, dan Felix Pasila, S.T., M.Sc., Ph.D., CEO ejourney PT Lentera Edukasi Global.
Narasumber pertama, Prof. Saut Gurning mengawali paparannya dengan menjelaskan kolaborasi yang artinya bekerja bersama-sama. “Dengan kolaborasi kita berbagi risiko dan tantangan.” Prof. Saut juga menyoroti masalah “mono disiplin”. Padahal dunia butuh penyelesaian multiplikasi.
Ajakan kuncinya adalah “Tidak membangun menara gading tapi bangunlah menara air.” Menara air mengalirkan, memberkati banyak orang. Karena itu Kekristenan harus mulai bangkit bersama, bertemu, dan berpikir bersama.
Sedangkan narasumber kedua, Dr. Hana Amalia Vandayani mengawalinya dengan mengutip doa Tuhan Yesus “jadikan kita semua satu”, Mama Hana biasa disapa, mengingatkan jangan saling mencela sesama orang percaya.
Ia memetakan tujuh komponen “gunung” masyarakat, yaitu Keluarga, Agama, Pendidikan & Kesehatan, Bisnis, Pemerintah, Media, Seni/Budaya. Dengan kolaborasi tersebut kita bisa rukun dan berdampak bagi orang banyak.
Contoh konkret kegiatan yang dilakukan adalah ‘Nikah masal’. Dalam nikah masal ini ada kerjasama yang melibatkan pemerintah, pendidikan, agama, dan gereja. Inti pelayanan kita adalah “tetap mengasihi siapapun yang menyakiti kita.”
Sebagai narasumber ketiga, Felix Pasila menjelaskan tentang Evangelis AI untuk Kolaborasi Zaman Now. Kolaborasi melalui cara lain, yaitu optimalkan AI. Lewat AI Powered UMKM & Kampus AI gratis University of Asia, Felix menunjukkan teknologi bisa memperluas dampak. “Ada hal baik tapi tidak diketahui AI. Tugas kita mengingatkan AI memberi jawaban benar.”
Fenomena: anak-anak sekarang lebih banyak tanya ke AI daripada ke guru. Maka kita perlu jadi “Evangelis AI”. Contoh “Sekolah Tempe” – kualitas bagus harga murah. “Kita masih gagal di masalah pendidikan. Kampus AI bisa jadi jawabannya.”
Diskusi ditutup dengan benang merah: Kolaborasi adalah output. Akarnya adalah kesatuan ontologis – kesatuan hakikat sebagai Tubuh Kristus. Tanpa kesatuan hati, kolaborasi hanya jadi proyek. Dengan kesatuan, kolaborasi jadi Amanat Agung yang hidup.
Leader Impact 24 Juni 2026 membuktikan, saat gereja berhenti rebutan panggung dan mulai berbagi risiko, dampak Kerajaan Allah jadi nyata di Surabaya. (doc/berkat)



