Surabaya – Tanpa panggung besar dan kemeriahan berlebihan, Badan Musyawarah Antar Gereja (Bamag) Surabaya merayakan 51 tahun pengabdian dengan sederhana namun penuh makna. Ibadah syukur dan rapat pengurus digelar di The City Square, Surabaya, Sabtu, 27 Juni 2026.
Acara dibuka dengan pujian penyembahan bersama, dilanjutkan kesaksian Ibu Inawati, istri almarhum Pak Prawiro Maruto, perintis sekaligus pendiri Bamag Surabaya.
“Pekerjaan besar ini dimulai dari ketaatan Pak Prawiro bersama hamba-hamba Tuhan lain. Tahun 1975 Bamag dibentuk, dan 250 gereja langsung menjadi anggota,” kenangnya.
Rumah di Jalan Monginsidi menjadi saksi sejarah. Selain sebagai kantor, rumah itu dipakai untuk persekutuan doa, KKR penyembuhan, dan melahirkan banyak pelayanan termasuk kaum wanita. “Itu adalah waktu terbaik dalam kehidupan saya,” ujar Ibu Inawati.
Dari kerinduan membangun 10 gereja untuk Tuhan, Tuhan membuka jalan. Saat ditawari proposal gedung 5 miliar, mereka memilih berdoa. Jawabannya: tanah di Tropodo yang kini menjadi beberapa gereja. “Kalau Tuhan berkehendak, semua bisa terjadi,” tegasnya.
Ia juga menceritakan perjuangan jemaat GKJW Tropodo yang menabung Rp2.000 per orang per hari, ditopang donatur, hingga gereja berdiri. Pesannya menutup kesaksian: “Mari mencintai Bamag. Seperti doa Tuhan Yesus: ‘supaya mereka semua menjadi satu.’”
3 Pilar Bamag: Kesatuan, Doa, dan Keadilan
Salah satu penasihat Bamag, Bernard Njotorahardjo, membacakan visi misi berdasarkan Yeremia 29:7: Mengusahakan Kesatuan Tubuh Kristus, Pengentasan Kemiskinan, dan Kegerakan Doa. Acara dilanjutkan dengan pemutaran video perjalanan Bamag.
Ketua Umum Bamag Surabaya, Boedi Sentosa, menyampaikan perkembangan terkini. “Saat ini anggota Bamag sudah mencapai sekitar 900 gereja,” katanya. Tiga fokus utama Bamag tetap dijaga: 1. Persatuan gereja, 2. Menggalang doa bersama lintas gereja, dan 3. Turut menanggulangi kemiskinan di Surabaya.
“Ini bukan seremoni besar, tapi syukuran dan sharing bersama. Karena Bamag memang rumah untuk saling menguatkan,” jelasnya.

Kesaksian penutup disampaikan Romo Irenaios. “Bamag adalah tempat pelayanan bersama. Di sini banyak gereja bisa bekerja sama, berkolaborasi, dan melakukan kegiatan untuk jemaat dan masyarakat luas,” ujarnya.
Dari 250 gereja di tahun 1975 menjadi hampir 900 gereja hari ini, Bamag membuktikan bahwa kesetiaan kecil yang dikerjakan bersama akan melahirkan dampak besar bagi kota. 51 tahun bukan angka kecil. Itu 51 tahun kesetiaan Tuhan, 51 tahun doa, dan 51 tahun kolaborasi tubuh Kristus di kota ini.
Kiranya di tahun-tahun ke depan, Bamag terus melahirkan pelayanan baru, terus memuridkan, terus mengasihi yang miskin, dan terus menjadi agen rekonsiliasi kota Surabaya. (doc/berkat)


