HomePercikan FirmanYang Terhilang dari Keluarga Kita

Yang Terhilang dari Keluarga Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan kolom-kolom kecil di surat kabar, khususnya bagian kehilangan? Anda akan menemukan di sana kalimat-kalimat seperti: Hilang STNK Motor a.n. X, yang menemukan hubungi nomor sekian, ada imbalan. Saya pernah memperhatikan bahwa yang diiklankan di kolom itu bukan hanya berita kehilangan STNK, tetapi juga ada berita kehilangan binatang peliharaan, seperti anjing dan burung, bahkan anak yang hilang, mungkin kapan-kapan ada pendeta yang hilang.

Mengapa orang bersusah payah mencari sesuatu yang hilang? Apakah kita selalu mencari sesuatu yang hilang? Kita selalu mencari bila yang hilang itu adalah sesuatu yang berharga atau bernilai. Rasa kehilangan selalu berjalan seiring dengan harga atau nilai sesuatu yang hilang. Kehilangan juga membuat hidup kita tidak lagi utuh seperti biasanya.

Jika kehilangan barang dan binatang saja bisa membuat hidup kita tidak lagi utuh, apalagi kehilangan orang yang kita kasihi. Kematian orang yang kita kasihi menyebabkan rasa kehilangan yang mendalam. Itu sebabnya kematian sebagai bentuk kehilangan final senantiasa menyebabkan air mata mengalir deras. Hidup kita tidak utuh lagi.

Air mata adalah pengakuan kita akan kehilangan yang membuat hidup kita tidak lagi utuh. Tentu saja kematian bukan hanya satu-satunya bentuk kehilangan yang bisa kita alami berkenaan dengan relasi kita dengan  manusia, khususnya anggota keluarga.

Orang-orang yang Terhilang

Di dalam setiap keluarga, terbuka kemungkinan ada anggota keluarga yang terhilang. Pengertian terhilang di sini bisa secara fisik dalam arti sudah pergi meninggalkan rumah, tetapi yang lebih sering terjadi adalah terhilang secara emosi. Ada namun seperti tiada. Tidak ada lagi relasi dan komunikasi. Dalam kacamata ini, bisa jadi relasi formal masih berstatus suami istri, tetapi salah satu telah terhilang atau dianggap hilang.

Berbagi ranjang namun tak berbagi impian. Relasi sebagai orang tua dan anak masih ada, tetapi tidak ada lagi komunikasi yang mendalam. Berbagi makanan namun tidak berbagi pergumulan. Rumah hanya menjadi sebuah terminal untuk tempat istirahat sementara dan selanjutnya bergegas pergi.

Orang dapat terhilang dari keluarga dengan pelbagai sebab. Pertama, memang orang tersebut dengan sengaja meninggalkan kehangatan keluarga dan menyendiri. Memilih hidup sendiri di tengah hiruk pikuknya kehidupan keluarga. Mungkin ada masalah yang tidak bisa ia katakan kepada siapa pun. Mungkin ada rasa bersalah yang menyebabkannya tak lagi merasa nyaman berada di tengah keluarga. Apakah ada orang-orang seperti ini di tengah keluarga kita?

Kedua, ada orang yang terhilang dari keluarga karena sengaja atau tanpa sengaja kehadirannya tidak lagi dianggap berharga. Si troublemaker (si pembuat masalah), demikianlah sebutan anggota keluarga yang lain terhadapnya. Si troublemaker ini mungkin lebih tepat disebut dianggap hilang oleh anggota keluarga yang lain. Ia ada namun tidak diharapkan keberadaannya. Apakah di dalam keluarga kita ada orang-orang seperti si troublemaker ini?

Mari Mencari yang Terhilang

Kehilangan senantiasa menyebabkan adanya lubang di dalam hidup kita. Hidup kita menjadi tidak utuh lagi. Sebab itu, orang yang merasa kehilangan senantiasa mencari. Itulah yang digambarkan oleh Yesus dalam dua perumpamaan dalam Lukas 15:1-10.

Perumpamaan tentang seekor domba yang hilang dari tengah kerumunannya. Kemungkinan besar domba itu adalah domba yang nakal karena suka berjalan ke sana kemari keluar dari rombongan. Bila yang hilang adalah 99 ekor domba, maka yang nakal adalah gembalanya. Akan tetapi bila yang hilang cuma 1 ekor, itu berarti memang domba itulah yang nakal. Namun, sang gembala yang menyadari hilangnya satu domba itu segera meninggalkan domba-domba yang lain dan mencari satu domba yang nakal itu. Mengapa? Karena satu domba itu berharga di matanya. Mengapa? Karena kehilangan membuat hidup sang gembala tidak utuh lagi.

Perumpamaan tentang dirham yang hilang. Dirham adalah keping mata uang. Berbeda dengan domba yang bisa bergerak ke sana kemari, dirham adalah benda mati. Jika dirham itu hilang, maka itu karena kecerobohan sang pemiliknya. Maka dari itu, sang pemilik mencarinya. Mengapa? Karena satu dirham itu berharga di matanya. Mengapa? Karena kehilangan dirham itu membuat hidup sang pemilik menjadi tidak utuh.

Lewat dua perumpamaan itu, Yesus sedang berbicara tentang maksud kedatangan-Nya ke dunia ini. Yesus mencari yang terhilang karena Dia menyadari betapa manusia bernilai di mata Allah. Yesus mencari yang terhilang karena Dia menyadari betapa yang terhilang itu membuat hati Allah tidak utuh lagi. Berapa harga yang dibayar oleh Yesus Kristus untuk pencarian ini? Seluruh hidupnya.

Yesus menceritakan dua perumpamaan ini untuk menentang orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Orang Farisi dan ahli Taurat adalah sosok-sosok yang berpikir bahwa biarlah yang terhilang itu terhilang karena itu adalah kesalahan mereka sendiri. Orang-orang Farisi dan ahli Taurat memutuskan untuk menjalani hidup mereka dengan mengingkari hati mereka yang tak lagi utuh. Mereka berpura-pura sebagai orang yang ok dan mengingkari kehilangan itu. Bahkan mereka menempatkan diri sebagai hakim yang memvonis mereka yang terhilang itu.

Manusia yang mengalami kehilangan memang bisa mengambil dua sikap. Pertama, mengakui kehilangannya. Kemudian, sama seperti Allah, hatinya merasa tidak utuh lagi sehingga ia berjuang untuk mencari dan menemukan apa yang hilang tersebut tanpa memedulikan berapa pun harganya. Kedua, kita bisa mengalami kehilangan namun terus hidup dengan menyangkali kehilangan kita, sambil berkata, “Mungkin lebih baik ia tidak ada di sini daripada bikin masalah terus.” Meskipun demikian, kita tak dapat menyangkal bahwa ada lubang di hati kita.

Adakah yang terhilang di tengah keluarga kita saat ini? Sekali lagi, tidak hanya dalam pengertian secara fisik. Adakah sosok-sosok troublemaker yang selama ini mengganggu kita dan akhirnya kita anggap “hilang”, sembari kita berkata, “Tanggung sendiri urusanmu.” Hidup kita aman, tetapi tidak utuh lagi. Kita menyangkali kehilangan tersebut. Adakah sosok-sosok yang diam-diam meninggalkan kehangatan keluarga kita? Tidak pernah lagi ada percakapan yang mendalam. Yang ada cuma sapaan basa-basi seperti say hello! Sadarkah kita? Atau, jangan-jangan kitalah yang sedang terhilang?

Yesus Kristus adalah gembala keluarga. Benarkah demikian? Betul. Namun, Yesus Krsistus tidak hadir kasat mata di hadapan kita. Kehadiran-Nya mewujud dalam hidup kita. Karena itu, jika kita menyadari betapa selama ini ada yang terhilang, maukah kita mencarinya? Bersediakah kita membuka pintu komunikasi, entah lewat sms, telepon, e-mail, atau sebuah sapaan? Maukah kita membuat hidup keluarga kita utuh lagi dengan sukacita? Ambillah langkah pertama, yakni sapalah yang terhilang atau yang dianggap hilang itu.

Akan tetapi, jika kitalah yang terhilang itu, maka maukah kita kembali kepada keluarga kita? Sama seperti anak yang hilang, maukah kita berkata, “Aku akan … pergi kepada bapaku.” Bersediakah kita membuat sukacita di hati keluarga kita? Kembalilah!

(Pdt. Wahyu Pramudya)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments