SURABAYA – Pagi yang cerah di SD Santa Clara Surabaya, Selasa 19 Mei 2026, diisi semangat ratusan guru SD se-Kota Surabaya. Mereka mengikuti Pelatihan Mitigasi Bencana Alam yang diselenggarakan bersama Junior Chamber International (JCI) Jepang dan JCI Indonesia.
Semangat kebersamaan terlihat sejak awal. Pelatihan dibagi menjadi sesi teori di dalam kelas dan praktik di lapangan, hingga ke titik kumpul. Para guru tidak hanya mendengar, tapi langsung mempraktikkan cara menyelamatkan diri dan siswa saat bencana terjadi.
Hubungan Indonesia-Jepang Lewat Semangat Kemanusiaan
Takoni Susumu, Konsul Jenderal Jepang, hadir membuka kegiatan. Ia mengaku senang pelatihan ini bisa mempererat hubungan Indonesia dan Jepang.
“Ini merupakan kesempatan baik untuk menjalin hubungan baik antara Indonesia dan Jepang. Jepang memiliki banyak pengalaman terkait bencana, begitu juga Indonesia. Guru adalah tonggak terdepan dalam proses belajar mengajar. Mereka bisa menjadi soko guru yang membagikan pengalaman berharga ini kepada anak-anak didiknya,” ujar Takoni yang fasih berbahasa Indonesia.
Senada, Siegfried Listijosuputro, JCI National Indonesia, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pelatihan di SD Santa Clara. “Kami berharap ilmu yang didapat bisa menjadi bekal bagi guru untuk penanganan bencana yang cepat, tepat, dan menyenangkan bagi siswa. Ini juga membangun ekosistem guru dalam mencari solusi bersama saat terjadi bencana,” katanya.
Belajar dari Negeri Ring of Fire
Obura Ken, Chairman JCI Jepang, mengingatkan bahwa Indonesia dan Jepang sama-sama berada di Ring of Fire Pasifik. Bencana bisa datang kapan saja.
“Kita butuh semangat dan energi yang sama dalam bersiap. Ada dua hal penting: menjaga kekompakan kelompok dan meningkatkan komunikasi yang apik dalam penyelesaian masalah kebencanaan,” tegasnya.
Di dalam kelas, para guru belajar mengenali tanda-tanda bahaya dan prosedur evakuasi. Saat praktik, mereka dilatih membuat tandu darurat dari sarung dan kain sederhana, serta membuat jas hujan dari plastik untuk perlindungan saat hujan atau banjir.
Suasana tetap cair dan penuh sukacita. Meski berasal dari sekolah berbeda, para guru kompak bekerja sama.
Suster Maria Lordes Uran MC, mewakili Yayasan Puspita Kencana, mengapresiasi seluruh tim JCI Jepang, JCI Indonesia, JCI Srikandi, para guru, pengawas, dan BKS Kecamatan Gubeng serta Kota Surabaya.
“Besar harapan kami, kolaborasi dan sinergi ilmu yang diberikan dapat diteruskan kepada murid-murid dan seluruh stakeholder sekolah,” ujarnya.
Kesan serupa disampaikan Hayyu Suzan Rahmawati dan Siti Rahma, guru dari Kecamatan Gubeng. “Kami sangat senang dan akan segera meneruskan pelatihan ini kepada anak-anak agar mereka bisa menjaga diri sebaik mungkin. Terima kasih atas ilmu dari para narasumber,” kata mereka. (petrus/doc-berkat)


