HomePernak-Pernik KeluargaKembali Kepada Keluarga

Kembali Kepada Keluarga

Mungkin pelayanan sosial terbesar yang dapat diberikan oleh seseorang bagi negara dan umat manusia adalah memelihara sebuah keluarga (George Bernard Shaw)

Setiap keluarga pasti pernah mengalami pergumulan. Masalah rumah tangga  menjadi sesuatu yang bisa seketika terjadi. Berbagai aspek kehidupan seperti pekerjaan, mendidik anak, kebiasaan, bahkan hubungan suami istri dapat memicu retaknya sebuah keluarga.

Biasanya masalah tersebut diawali dengan pertengkaran-pertengkaran, saling menyalahkan, saling menuntut, tidak ada yang mau mengalah dan pelbagai perasaan tidak enak yang jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan kehancuran.

Dalam memelihara sebuah keluarga, masalah-masalah diatas sangat penting mendapat perhatian, mengingat hal itu dapat mempengaruhi hidup kekristenan. Banyak keluarga merasa sudah harmonis. “Keluarga kami tidak ada masalah, segalanya tercukupi! Kami selalu ikut pelbagai pelayanan baik di gereja maupun masyarakat.” Ungkapan tersebut sering kita dengar, padahal dibalik itu semua tersimpan masalah besar yang tidak terselesaikan.

Ukuran kebahagiaan sering disamakan dengan kekayaan, “aku harus kaya, jika ingin bahagia,” padahal masalah dalam keluarga bisa terjadi bukan saja pada keluarga dengan tingkat ekonomi rendah (miskin), tetapi juga sering melanda keluarga dengan tingkat ekonomi tinggi (kaya).

Sudah banyak contoh keluarga (meskipun tidak semua) yang awalnya baik-baik saja saat hidup dalam kesederhanaan. Namun ketika menjadi kaya, hidup keluarganya berubah 100 persen. Kesombongan, pengkhianatan, menghalalkan segala cara, perselingkuhan, sampai perceraian mewarnai keluarga tersebut.

Apa gunanya karir bagus tetapi hidup keluarganya berantakan? Apa gunanya memiliki harta melimpah bila akhirnya bercerai dan bubrah? Apa gunanya pelayanan ini dan itu dengan dalih sosial dan kemanusiaan. Namun, hubungan antara suami, istri, dan anak seperti orang asing dalam satu rumah? Masalah klasik ini sering mewarnai sebuah keluarga, mudah diucapkan tapi sulit untuk dihindari.

Kesadaran

Apakah kita kemudian menyesal ketika melihat suami atau istri kita ternyata berperilaku buruk dan tidak sesuai dengan keinginan kita? Mungkin kita tidak akan berkata, ”ya, aku menerimamu dalam susah maupun senang, dalam. . . ,“ saat janji menikah dulu diucapkan di hadapan Tuhan dan pendeta.

Kesadaran mengutamakan keluarga menjadi terabaikan ketika kita terpuruk dalam kesusahan. Atau sebaliknya tatkala kita lebih mementingkan pekerjaan/karir ketimbang mendahulukan keluarga. Selanjutnya yang terjadi hanyalah sebuah kewajiban karena terlanjur berkeluarga. Mereka berusaha menyusun kembali kepingan-kepingan masalah dengan kekuatanya sendiri.

Kita terkadang merasa capek dengan rutinitas hidup yang monoton. Keluarga seolah menjadi beban yang tidak pernah berakhir, kebutuhan hidup yang terus menerus, anak-anak kita butuh biaya yang tidak sedikit serta waktu yang begitu panjang mendidik dan menemani anak, belum lagi masalah dengan pasangan kita seolah menjadi beban yang tidak pernah berakhir.

Kembali kepada tujuan Allah dan bukan tujuan kita membentuk keluarga merupakan kesadaran yang harus kita jalankan. Seringkali kita berpikir bahwa memelihara keluarga berarti harus mencapai apa yang kita inginkan. Namun kita diingatkan agar melihat kembali dengan iman melalui Firman Allah apa yang Tuhan inginkan bagi keluarga kita. Memelihara keluarga adalah bagian pelayanan kita yang harus terus kita upayakan, pelihara dan pertahankan sampai maut mengantarai kita.

Hikmat

Perbedaan kerap memicu terjadinya persoalan dalam keluarga. Bukankah kita selalu hidup dalam perbedaan? Justru dalam perbedaan, kita dituntut saling memahami satu sama lain. Kita tidak bisa menyatukan perbedaan, apalagi mengubah orang lain agar sama dengan kita. Tak satupun keluarga yang bertahan sampai belasan bahkan puluhan tahun yang merasa sudah sama (pikiran, perasaan, pendapat) antara suami dan istri. Yang ada adalah saling memahami, mengalah, dan berusaha mengerti.

Satu yang pasti untuk kita mengarungi kehidupan keluarga kita dengan penuh kepercayaan diri adalah dengan hikmat. “Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat dan dengan segala yang kauperoleh perolehlah pengertian.” (Amsal 4 : 7). Ayat ini mengajarkan kepada kita untuk ber-hikmat. Hikmat di sini bukan kata-kata belaka, tetapi tentang petunjuk, cara atau jalannya.

Ketika kita memegang hikmat sedemikian rupa, maka penilaian terhadap sebuah keluarga tidak lagi ditentukan oleh kedudukan, kekayaan, saling pengertian, dan keharmonisan saja. Memelihara keluarga merupakan tugas yang diberikan Tuhan kepada umatnya untuk selalu setia dan taat. Tugas keluargalah untuk menunjukkan hikmat kepada banyak orang. (ts)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments