SAAT Anda masuk di sebuah taman labirin, dapat dipastikan Anda masuk hanya dari satu pintu yang berada di depan. Setelah masuk dan berjalan setapak demi setapak, segera Anda akan mendapati dua sampai tiga jalan bercabang. Itulah saat-saat hentakan pikiran dan perasaan Anda yang berkecamuk segera dimulai. Mau tidak mau mau, Anda harus memilih salah satu jalan.
Apabila beruntung, maka Anda berada dijalan yang benar dan selesai sampai akhir perjalanan. Sebaliknya, apabila mendapatkan kesialan maka Anda bisa tersesat dan menemukan kebuntuan. Celakanya, taman labirin selalu dibuat tidak gampang. Hukumnya jelas! Semakin Anda berjalan, semakin Anda menjumpai banyak jalan-jalan bercabang, semakin pula detak jantung dan pikiran resah bukan kepalang. Jadi kalau Anda memberanikan diri mencoba masuk dalam taman labirin, pada saat itu pulalah Anda akan segera bicara soal “keberuntungan” dan “kebuntungan (kesialan)”.
Jujur Terhadap Realita Kehidupan
Permainan memang menunjukkan sebuah realita beruntung atau buntung. Menang atau kalah. Senang atau kecewa. Tak ubahnya dengan kehidupan manusia. Menang-kalah, senang-kecewa datang menghiasi. Ada harapan untuk senantiasa berbuah di sepanjang kehidupan dengan segala keberhasilan, kesuksesan dan kebanggaan. Tapi toh tak mungkin pula musim selalu bersahabat dan membahagiakan.
Akan ada masa-masa di mana pikiran dan hati berkecamuk bak memandang dua atau tiga, bahkan lebih jalan-jalan bercabang di taman labirin. Sesekali kita berkalkulasi dengan kepandaian menghitung peluang dan kesempatan. Sesering itu pula kita dihantui ketakutan dan kegagalan. Tak jarang pula kita bersikap “bonek” (bondo nekad) memberanikan diri melangkah, sembari bertaruh sekuat tenaga sambil menutup mata, bahkan kadang mengingkari yang ada di depan.
Apapun hasil buah pemikiran dan ketenangan batin, belajar jujur dengan realita kehidupan tentu akan sangat menolong. Pada akhirnya di sinilah orang Kristen sedang bicara soal iman yang benar. Iman tak hanya melulu melihat kehidupan hanya dari satu sisi menang-kalah, sukses-gagal, senang-sedih. Namun, juga iman yang melihat bahwa Tuhan sedang bermurah hati kepada umat-Nya. Sehingga saat dia berjalan bahkan mengalami kebuntuan, tiba-tiba saja tersedia jalan lurus bak jalan tol tanpa hambatan.
Dari mana jalan itu? itulah misteri Ilahi yang mendebarkan dan menakjubkan. Misteri yang tak akan pernah habis oleh pikiran manusia. Misteri yang tak pernah kering oleh hikmat manusia. Untuk menyelami misteri ini, marilah kita belajar dari kisah kitab suci.
Mari kita perhatikan kisah Ayub (lih. Kitab Ayub). Saat Ayub hidupnya berbuah di sepanjang musim, dia bak raja yang dipandang dengan terhormat. Kemenangan, kejayaan, kebanggaan yang dirasakan Ayub selalu menjadi impian banyak manusia, termasuk tetangga dan sahabat-sahabat Ayub. Anak-anak berpesta dengan sukacita. Pelayan-pelayan serta tetangga-tetangga tentunya mengecap senyum bahagia. Tidak heran apabila pujian begitu murah berdatangan.
Raut muka ramah menghiasi sepanjang jalan dan sudut-sudut rumah Ayub yang kala itu kaya raya. Namun, toh nampaknya kemurahan tak selamanya berpihak pada Ayub. Sejak TUHAN berkata kepada Iblis “Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya jangalah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya” (Ay. 1:12).
Sejak itu pulalah Naas menghampirinya dan menyergapnya. Petaka bertubi-tubi tiada henti. Ratusan lembu sapi musnah dirampok habis-habisan oleh orang Syeba. Ribuan kambing harus mati tak bersisa karena tersambar api dari langit. Unta-unta beserta para penjaganya harus lenyap ditangan orang-orang Kasdim. Putra-putrinya harus mati tertimpa rumah yang roboh karena angin ribut. Semua milik Ayub luluh lantah tak bersisa.
Istri pun yang menjadi harapan terakhir untuk hati mendapatkan penghiburan malah menghina dan mencaci tiada henti. Begitu juga teman-temannya, Elifas, Bildad dan Zofar yang awalnya ikut berbelasungkawa akhirnya toh juga meninggalkan Ayub, dalam keterpurukannya. Maka sepanjang kitab Ayub ditulis, sepanjang itu pula keluhan dan rintihan diungkapkan.
Menemukan Tuhan Dalam Jalan Kehidupan
Memang menyedihkan membaca kitab Ayub. Bahkan mengeringkan tulang. Namun hebatnya, di saat semua kesakitan hati bahkan remuk redamnya memuncak di ubun-ubun justru Ayub malah berkata “Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu” (Ayub 19:25). Ayub punya ratusan dan bahkan jutaan alasan untuk menyalahkan diri dan Tuhan, tapi itu tidak dilakukan. Ayub punya setumpuk bahkan segudang kemarahan untuk meninggalkan Tuhan, tapi dia enggan melakukan.
Sehancur-hancurnya kehidupan Ayub, satu hal yang benar dan yang menjadi keyakinan dia bahwa Tuhannya, Penebusnya tak akan pernah meninggalkannya. Dia yakin, bahwa dia menyembah Tuhan yang benar, yang akan senantiasa menatang langkahnya saat jatuh. Dia percaya, bahwa Tuhannya adalah Tuhan yang hidup. Dia tahu, dia sedang buntung dan malang, namun dia berpengharapan. Dia tahu, dia sedang buntu dan tak ada jalan, tapi dia yakin dia sedang berjalan lurus menuju kebenaran.
Apabila Ayub berjalan dalam sebuah taman labirin, tentu bukan hanya jalan yang bercabang dan berkelok-kelok yang dia temui, namun juga jalan yang buntu dan melelahkan. Berjalan dalam labirin kehidupan Tuhan, adalah bukan soal kompromi dengan jalan yang berkelok dan buntu sehingga kita bisa sampai akhir. Namun soal menemukan Tuhan dalam setiap langkah kita.
Kita tahu suatu saat kita akan tersesat. Kita tahu suatu saat kita akan terhenti. Bahkan kita tahu, kita akan letih dan kering jiwa kita. Tapi memastikan Tuhan ada dalam setiap langkah kita, di situlah kita sedang berjalan lurus menuju kebenaran. Bukankah kita pernah mendengar Yesus berkata “Akulah jalan….?” temukan jalan itu dalam langkah kehidupan Anda.
(Pdt. Yoses Rezon Suwignyo)


