HomePintu HatiKetika Masih Ada Waktu

Ketika Masih Ada Waktu

Tolong maafkan kesalahan saya karena sudah berprasangka buruk terhadap kamu ya?” Pinta seseorang melalui WA Call di sore hari itu.

Waktu itu saya telah menuduh kamu yang bukan-bukan, bahkan menyinggung tentang masalah ras segala,” ungkapnya lebih lanjut.

Setengah kaget sambil mengingat suara dari WA tersebut, saya lantas balik bertanya sambil minta maaf sebelumnya, “dengan siapa saya telah berbicara?

Setelah orang tersebut menyebut nama, saya baru teringat bahwa dia pernah menjadi salah satu rekan kerja dan pelayanan bersama belasan tahun silam. Waktu itu rekan saya ini mengundurkan diri karena alasan kesibukannya. Dan saat itu saya menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar bila seseorang mengajukan pengunduran diri dari pekerjaan atau pelayanan di bidang tertentu.

Karena itu saat mendengar permintaan maafnya, saya sempat terdiam cukup lama sambil mengingat dan mencerna cepat apa yang dikatakannya. Setelah cukup paham, saya pun lantas menjawab dengan nada santai sambil tersenyum, “oh, saya malah sudah lupa akan hal itu pak.

Iya, kamu mungkin lupa, tapi saya tidak pernah lupa!” Sahutnya cepat.

Singkat cerita, usai proses memaafkan itu, saya pun segera mengalihkan pembicaraan ke hal lainnya. Menanyakan kabar terbaru, alamat sekarang hingga kondisi saat ini sebagai upaya untuk mencairkan pembicaraan kami selanjutnya.

Dari obrolan yang sudah lebih cair tersebut, beliau akhirnya menceritakan keadaanya di masa sekarang ini. Cerita tentang pengalamannya kalau baru saja terserang Covid-19. Tentang perjuangannya saat melawan virus yang mematikan itu. Bagaimana susahnya menghadapi pandemi yang tidak hanya menguras tenaga dan energi, tetapi juga pikiran dan hati.

Di akhir obrolan, beliau meminta saya untuk berdoa. Kami pun larut dalam doa dan menyerahkan hidup kami sepenuhnya kepada Tuhan, sebab hanya kepada-Nya kasih, penyertaan dan pengampunan itu diberikan.

. . .

Alkisah hiduplah seorang raja yang hanya mementingkan harta. Hari-harinya dihabiskan mencari emas sebanyak-banyaknya agar bisa ditimbun di istana megahnya. Demi memuaskan nafsunya itu raja hanya memikirkan bagaimana agar harta tersebut ia dapatkan, tak jarang cara-cara busuk pun dilakukan asal tercapai tujuannya. Akibatnya, tugas lain sebagai raja menjadi terabaikan. Tidak hanya lupa mengurusi kesejahteraan rakyatnya, tetapi keluarga kerajaan, yaitu orang-orang terdekatnya juga terabaikan.

Suatu kali raja ingin menguasai dan merebut timbunan emas yang berada di dalam gua yang terletak di sebuah kaki gunung. Untuk merebut emas itu ia dan pasukannya harus menghadapi ratusan monster penjaga gunung tersebut.

Di akhir kisah, pasukan kerajaan kalah saat harus bertempur dengan pasukan monster. Raja pun harus berhadapan dengan pemimpin monster dan bertempur mati-matian, sebelum akhirnya kalah oleh tusukan pedang monster. Sebelum raja tersebut meninggal ia sempat berkata kepada pengawal setianya, “Seandainya aku tidak bernafsu mengejar emas dan lebih banyak mengejar kehidupan rumah tangga kerajaan maka akan banyak orang berbahagia.”

Gunakan waktu yang ada dengan kebijaksanaan. Bahwa harta yang paling berharga tidak berada jauh di luar sana, tetapi ada di hadapan kita sendiri, yaitu orang-orang terdekat yang kita temui setiap hari.

Membuka Hati Maka Tuhan Mengampuni

Seperti sebuah ‘cinta’, saat kita mampu membuka hati maka cinta itu akan merasuk di hati. Cinta tak bisa dirasakan saat kita menutup diri. Menghindar dari orang-orang yang mencintai kita, berarti kita menghindari cinta itu sendiri.

Dengan membuka hati maka kita siap juga menerima segala konsekuensi. Penolakan, direndahkan hingga caci maki bisa saja menyertai orang yang membuka diri. Tetapi ingat, ketika kita berani membuka diri maka ada harapan besar kita mendapat penerimaan penuh. Mengakui kesalahan adalah salah satu contoh kita membuka hati.

Kesalahan yang tidak kita sadari seringkali menjadi beban di kemudian hari. Kasalahan itu akan menjadi penyakit akut yang sulit diobati. Satu-satunya cara adalah mengakuinya, dimulai dari diri sendiri kemudian kepada orang yang bersangkutan.

Seperti cerita di atas, melalui musibah yang terjadi seseorang diingatkan untuk menyadari kekeliruan yang telah dilakukannya. Namun, tanpa keberanian membuka diri maka kekeliruan itu dapat menjadi beban seumur hidup bahkan hingga ajal menjemput.

Seperti juga saat kita membuka hati untuk Tuhan. Artinya kita sebagai orang percaya siap untuk mendengar dan merenungkan Firman Tuhan, sehingga hidup kita makin dibaharui hari-demi hari. Begitu juga saat kita membuka hati memohon pengampunan dari-Nya. Tuhan yang mengetahui isi hati kita akan mengingat dan memberi pengampunan.

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” (Wahyu 3:20).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments